Senin, 26 Mei 2014

Meski Bukan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib

Virus merah jambu selalu menjadi topik yang sangat menarik untuk di bahas. Saya masih ingat ketika pertama kali merasakan hal tersebut. Tepatnya ketika saya duduk di kelas 1 SMA, menjadi seorang remaja yang sedang mencari jati diri dan berada di lingkungan yang cukup bebas untuk mengekspresikan soal perasaan. Pada waktu itu saya tumbuh menjadi adik kelas yang mengagumi kakak kelasnya, dan sepertinya dewa fortuna memang sedang berpihak kepadaku. Jreng! Jreng! Cinta terbalaskan. Masa remaja saya sebagai seorang siswi SMA menjadi sedikit sia-sia. Saya memang masih sering belajar, dan mendapatkan prestasi yang masih diharapkan. Namun, ada kesia-siaan karena harus membuang waktu berharga hanya untuk “pacaran”. Andai saja waktu itu saya benar-benar fokus pada studi mungkin beberapa penghargaan bisa diraih.
Cerita tinggal cerita, penyesalan tinggal penyesalan. Ketika saya masuk di bangku kuliah, cerita tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saya mengerti karena saya pernah mengalami. Saya tahu dan bisa mencegah karena saya pernah terserang. Reka, sahabat saya yang tak pernah merasakan yang namanya pacaran, dia sering bertanya mengapa saya mau memulai pada waktu itu, dan mengapa saya menyesal saat ini. “Ukhti, pada waktu itu saya sedang labil dan sekarang saya sudah faham” tuturku. Maka dari itu, lewat tulisan ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman mengenai mencegah serta memahami virus merah jambu ini.
Virus merah jambu ini sangat berbahaya bagi kaum remaja yang notabene nya belum memiliki pondasi dan visi misi hidup yang jelas. Kaum remaja sering menomor satukan perasaan. Jika cinta ya nyatakan, jika benci ya katakan. Begitulah jiwa yang penuh ekspresi. Ada satu hal yang kita lupakan, cinta akan suci karena kita yang menyucikan. Jika perasaan cintamu kepada lawan jenis yang bukan mahrom mu kau nyatakan dalam perbuatan maka noda akan menetes di cinta suci itu.
Aku menjadi sangat mengerti betapa berbahagianya Fatimah Az-Zahra putri Rasulullah SAW yang mampu menyembunyikan perasaanya kepada Ali bin Abi Thalib sehingga syetan pun tak mengetahuinya. Pada akhirnya cintanya indah dalam kesucian ketika Ali menikahinya. Pemuda yang pertama kali dicintainya telah menjadi suaminya. Betapa beruntungnya Ali bin Abi Thalib yang menikahi Fatimah Az-Zahra, wanita yang dicintainya dan Ali menjadi pemuda yang satu-satunya dicintai oleh Fatimah.
Kita memang tak dapat menjadi Fatimah Az-Zahra yang dapat menyembunyikan perasaan kita hingga syetan pun tak mengetahuinya. Namun, setidaknya dapatkah kita menahan godaan syetan untuk menahan perasaan kita sehingga kita tak terjerumus dalam perbuatan yang di benci oleh Allah SWT sehingga menodai cinta suci kita? Sabar itu tiada batasnya. Allah pasti akan menggantinya dengan sesuatu yang tak akan kita duga kenikmatannya. Bersabarlah, tak lama lagi akan ada pangeranmu yang berbicara pada orangtua mu untuk meminangmu wahai sholiha. Cinta suci mu akan terselamatkan. Bersabarlah, tak lama lagi akan ada bidadari yang menunggu mu untuk kau persunting, yang siap kau ajak untuk beribadah kepada Allah, siap menemani mu dalam suka maupun duka. Cinta mu akan sampai di tempat yang suci dan Allah ridhai. Bersabarlah, wahai sholeh.
Sekali kamu masuk dalam lingkarang pergaulan bebas mengekspresikan virus merah jambu mu, sangat sulit untuk keluar dalam zona tersebut. Sekali kamu pernah merasakan pacaran, rasanya akan terus ketagihan. Jika kemarin putus dengan pacar lama, seminggu kemudian dapat pengganti. Sehari single, galau nya minta ampun. Itulah tanda-tanda kamu sudah terkena candu pacaran. Jangan katakan terlanjur jika ingin berhenti pacaran. Jika kita niat, insyaallah Allah selalu memberikan jalan.
Ada beberapa faktor yang membuat saya memutuskan untuk tidak pacaran. Pertama, waktu itu saya merasa selalu sakit hati dan menjadi manusia super galau, mood saya sering berubah-ubah ketika saya pacaran. Pertama kali ditembak pacar, rasanya senang bukan main. Dunia serasa milik pribadi, serasa jadi bidadari satu-satunya di dunia dan dia jadi pangeran berkuda putihnya. Begitu kan? Hayoo ngakuuu.. seharian penuh SMSan, BBMan, WhatsApp-an, Line-an, dan sebagainya, sampai saya lupa bahwa tugas matematika saya belum dikerjakan. Besoknya terpaksa saya mencontek. Seharian dia gak ada kabar, virus galau terdeteksi. Mulai jadi alay, buat status di facebook, twitter, BBM “Kamu kemana sih, sayang.. seharian gak ada kabar. Lupa sama aku ya?” Alay banget!. Tiga bulan jadian, udah mulai bosen, nyari-nyari alasan buat putus, kalo yang tidak setia pasti nyari tikungan untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Kamu termasuk yang mana? Pas kata PUTUS resmi dibuat, galau super duper, mata bengkak, nafsu makan turun, malas belajar. Inikan dinamika pacaran? Jangan tanya kenapa si penulis tahu betul dinamika nya seperti apa. Hehe
Jadi apa yang kita dapatkan dari yang namanya pacaran? Lebih baik mencegah daripada terlanjur jadi bubur. Setelah kita menyesal dengan perbuatan kita, masih mending jika kita bisa bangkit dan ingin memperbaiki diri, kalau orangnya mudah terpuruk dalam keterlanjuran? Bahaya luar biasa. Generasi bangsa Indonesia sudah pasti menjadi bangsa yang mempunyai generasi alayers terbesar di dunia. Yuk, mampu menahan virus merah jambu itu sholeh dan saliha! Caranya bisa dengan menyibukkan diri kita dengan kegiatan-kegiatan positif, misalnya ikut ekstrakulikuler atau menambah jam belajar kita, mungkin saja bisa jadi juara olimpiade, dan tak lupa untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Allah, perbanyak baca-baca buku islami juga seru, loh.
Alasan kedua saya sehingga menguatkan niat untuk tidak pacaran adalah penggalan ayat sebagai berikut. “Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik”. Sering dengar ayat ini sholeh dan saliha? Mengapa kita tak mencari tahu makna sebenarnya? Saya benar-benar faham dengan ayat ini ketika saya mulai meninggalkan bangku sekolah. mudah-mudahan sahabat sholeh dan saliha lebih awal faham dan tidak terlambat untuk memperbaiki diri. Saya ingin bercerita sedikit mengenai proses pernikahan Mbak Amalia seorang founder Peduli Jilbab yang sekarang follower nya sudah sangat banyak sekali. Beliau pernah bercerita di acara seminar yang saya ikuti bahwasanya beliau dulu adalah seorang akhwat yang sangat galak sekali, dan sangat memegang teguh pendiriannya. Selama kuliah beliau tidak pernah tertarik dengan yang namanya pacaran, karena beliau yakin jika sudah ada niat untuk menikah Allah pasti akan mempermudah dirinya untuk bertemu dengan jodohnya. Sampai suatu hari sebelum beliau lulus kuliah, adiknya lebih dulu menikah dan beliau memperbolehkan adiknya untuk melangkahinya. Mitos yang berkembang di masyarakat tak pernah ia hiraukan, dan setelah lulus kuliah dia mempunyai niat untuk menikah. Tak perlu proses pacaran, cukup dengan membuat proposal lamaran, dia menunggu ikhwan yang siap menikah. Lewat sahabat-sahabat baiknya, akhirnya proposal sampai di tangan seorang ikhwan yang insyaallah dijamin oleh sahabat-sahabatnya. Tak lupa ia selalu beristikharah dan berserah diri kepada Allah atas siapapun jodohnya. Ketika proses ta’aruf dilakukan, dia cukup terkejut karena ikhwan yang menerima proposalnya adalah seorang pemuda yang dulu pernah ia sukai dan cintai dalam diamnya. Mbak Amalia merasa proses perbaikan dirinya selama ini untuk menyambut jodohnya tak sia-sia. Allah selalu memberikan yang terbaik kepada hambanya. Kini Mba Amal mempunyai seorang anak dan hidup bahagia bersama imam yang sholeh dan sangat dia cintai.
Sangat inspiratif sekali bukan? Tidakkah kamu ingin kisah cintamu indah seperti kisahnya Mba Amalia? Percayalah sahabat, tanpa proses pacaran pun kita akan dipertemukan dengan jodoh kita oleh Allah SWT. Untuk mendapatkan jodoh yang baik maka mulailah dari sekarang kita memperbaiki diri. Sekarang sedang pacaran? Suruh dia lamar dan datang ke orangtuamu. Belum siap nikah? Putus dulu, tunggu siap nikah, dan datang untuk melamar.

Niat yang sangat kuat dibarengi dengan usaha untuk memperbaiki diri, insyaallah selalu ada hasilnya. Kecuali kalau kita memang niatnya setengah-setengah, usahanya males-malesan, hasilnya tidak akan kelihatan. Bulatkan tekad! Allah bersama orang-orang yang mau berusaha. Seperti kata pepatah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Pada awalnya memang sulit untuk menahan godaan untuk pacaran, pada awalnya memang sakit untuk menahan perasaan sendirian. Namun, lihat nanti hasilnya, Allah menjamin keindahan. Inginkah kisah cintanya bahagia seperti Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib? Inginkan cintanya tetap suci sampai dipertemukan dengan jodohnya? Yuk! Semangat memperbaiki diri!.

1 komentar: