Selasa, 28 April 2015

Permintaan yang aku harap bisa Tuhan kabulkan

Bukankah manusiawi jika kita bisa merasakan cinta?

Duhai hatiku yang masih ku jaga, tertutup rapat dengan kunci gembok tahan karat, terbungkus rapi dengan kain lembut nan bersih. Aku tak rela jika kini engkau terluka. Siapakah dia yang telah berani membuka kuncinya? melihat seluruh isinya? namun kemudian tak merawatnya..
Logika selalu berkata.. "Jangan! Jangan! Dia orang jahat yang akan merusak properti hatimu, kemudian hanya pergi meninggalkannya dan mencari tempat yang lebih bagus. Jangan!" Setiap saat kata itu selalu terngiang di telingaku, tertulis dalam fikiranku, ketika aku menatapmu. Ya, bahkan hanya ketika ada satu pesan masuk dalam handphone ku yang berasal dari namamu. Otakku langsung mengirim signal.. "Jangan buka! itu virus." Tapi apa yang ku lakukan? Bibirku tersenyum. Aku bahagia bisa melihatmu, merasakan nikmatnya jantungku berdetak lebih kencang, membalas setiap kata dari pesan yang kau kirimkan. Itulah ajaibnya kamu, membuatku menjadi munafik seketika. Tak ingin namun ingin. Otak dan efektorku sudah tak sinkron lagi. Aku kehilangan kendali.
Otakku selalu penuh tanya, manusiawi kah ini? atau sudah berada dalam zona berbahaya melebihi kadar biasanya?

Prinsip ku runtuh, hanya karena ada mimpi baru yang ingin ku capai

Bertahun-tahun aku susun dengan rapi bagaimana aku akan menghabiskan waktu hidupku. Berapa catatan-catatan telah ku buat dengan sistematis bagaimana aku akan menjalani hidupku ke depan. Aku selalu optimis dengan semua rencana-rencana ku bahwa aku yakin pasti bisa menggapainya. Setelah aku bisa membaca setiap bahasamu, ada kalimat yang ingin ku gapai. Mimpimu. Aku ingin mewujudkannya. Bak seribu mimpiku terhapus dengan satu mimpi kokohmu. Tak adil memang, namun itu yang ku rasakan. Hal itu terjadi secara otomatis, tak ku duga, tak ku rencanakan dan tak ada di list rencana masa depan yang telah ku buat beberapa tahun lalu. Dahsyat. Logika selalu berkata, untuk apa aku perduli dengan semua yang kamu mimpikan di masa depan. Aku juga punya mimpi yang lebih baik dari pada itu. Tapi, hatiku berkata lain. Lagi-lagi aku menjadi wanita munafik yang keinginan di otakku tak sinkron dengan apa yang ada di hatiku.

Menjadi bodoh bahwa berapa kalipun rasa sakit yang di rasakan, perasaan cinta malah semakin dalam, rindu semakin tak tergenggam

Bodoh. Bodoh. Bodoh! Baru kemarin hatiku teriris silet tajammu, sakit menahan pilu. Pada saat itu aku tekadkan untuk berhenti menjadi orang bodoh yang mengganggui mu. Namun, yang ku ucapkan beberapa menit lalu akan terlupakan begitu saja hanya karena satu kata maaf mu. Begitu lah hebatnya kata cinta mampu membuatku menjadi orang bodoh yang sadar kebodohannya namun tak mau memperbaikinya. Andai untuk menjadi pintarnya ada rumus yang harus ku kuasai maka orang di seluruh dunia akan mempelajarinya terus menerus dan rela menyewa guru privat meskipun harus dibayar dengan jatah makan siangnya. Sakit dari hati akan menjalar keseluruh tubuh, itulah alasan mengapa semua orang  butuh obat untuk tak menjadi bodoh diperbudak oleh cinta. Namun sayangnya belum ada ilmuwan yang mampu menciptakan ramuan itu. Mungkin jika rasa sakit yang kamu goreskan sudah tak tertahan perihnya, aku akan mulai menjadi ilmuwan pertama yang meneliti tentang ramuan itu, hehe..Pensiun dari orang bodoh yang mencintaimu, itu tak akan pernah  bisa ku lakukan. Kamu harus tahu.

Andai setiap kata yang di rasa, tak perlu terucap, langsung bisa kau rasa. Tak akan ada dusta, tak akan ada kira, tak akan ada salah sangka, tak akan saling menunggu, tak akan...tak akan...

Terlalu tabu bagiku seorang wanita jika aku harus menceritakan semua yang ada dalam hatiku. Beginikah wanita. Menunggu. Andai semua kata yang belum tersampaikan mampu langsung bisa kau cerna. Oh bahagianya. Biarlah, menjadi cerita indah antara aku, hatiku, dan Tuhanku. Biar kamu menjadi permintaan terindah yang aku harap dapat Tuhan kabulkan.

Minggu, 26 April 2015

Dear Kedua Bidadariku

Dear Kedua Bidadariku...

Dua puluh tahun yang lalu, bagaimana ekspresi kalian Mah, Pak?
Bagaimana senyum kalian saat pertama kali menatapku? Aku selalu ingin melihat moment itu, agar aku tak pernah sia-siakan senyum di wajah mamah dan bapak saat ini, agar selalu ada semangat dalam diriku untuk terus membuat mamah dan bapak tersenyum.
Apa yang kalian harapkan saat pertama kali menggendongku? Aku sangat ingin tahu harapan-harapan itu, ingin ku berjuang menggapainya, seperti mamah yang berjuang begitu ikhlas untuk melahirkanku, aku ingin berjuang dengan ikhlas untuk membahagiakanmu. Seperti bapak yang berjuang dengan semangat untuk selalu membelikanku susu dan mainan yang lucu, aku ingin berjuang sesemangat itu untuk membahagiakanmu.
Dua puluh tahun yang lalu, Mah Pak, adakah engkau mengira aku akan  menjadi seperti ini?
Sudahkah aku sesuai harapan kalian? ataukah aku hanya menjadi kekecewaan?
Dua puluh tahun sudah Mah Pak, aku disini, belum mampu kuberikan apapun untuk kalian. Aku merasa belum berguna untuk kalian.
Terkadang dalam perjuangan ini pun aku sering merasa lelah dan putus asa. Tegur aku Mah, Pak.. Adakah kalian lelah membina ku selama dua puluh tahun ini?
Begitu Luar biasa Allah SWT telah membuatku terlahir dari rahim ibu yang begitu penuh kelembutan, mendidikku dengan penuh pengertian, kasih sayang. Ibu yang tak pernah mampu marah, hanya air mata yang selalu mewakili apapun perasaanmu, sedih, bahagia, marah, terluka, senang, air mata itu menjadi tanda, aku telah sangat mengenalmu. Kemudian Allah ciptakan aku dari air manai bapak, yang begitu tegas dan disiplin, pekerja keras, sehingga sifat keduanya sangat mengimbangiku untuk tumbuh sempurna. Bagiku, kalian adalah orangtua terhebat, aku bangga menajadi putrimu.


Putri kecilmu
Nia Alfitriyani

Aku mengira bahwa hidup yang bergulir meninggalkan waktu memang hanya terlintas begitu saja, tak ada makna. Hal itulah yang sering membuatku merasa sangat hampa, bosan, putus asa. Kemudian Allah menegur dalam AlQur'an.... bahwa sesungguhnya Dia telah memberikan banyak sekali nikmat, kita tak menyadarinya, karena kita telah sombong, tak mau bertafakkur diri. Kita mengira nafas hadir dengan sendirinya, kita bisa makan karena keringat kita. Padahal itu adalah nikmat yang sudah Dia berikan. Dua puluh tahun aku telah mengira tak ada yang terjadi dalam hidupku. Bosan, sering merasa putus asa, sering merasa gelisah. Itu pertanda aku telah menjauh dariNya. Ketika aku mendekat, Dia akan semakin dekat.
Ya Allah, bimbing selalu hamba untuk istiqomah di jalanMu. Aku titipkan kedua bidadariku, Ayah dan Ibu.. Ampunilah dosa-dosanya, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku sewaktu kecil..
Tak ada yang mampu kupersembahkan selain prestasi yang harus ku capai, membuatnya bangga adalah impian. Mampukanlah aku untuk menyelesaikan semua tugasku.