Jumat, 30 Mei 2014

Laporan Observasi Lapangan Layanan Bimbingan Belajar

LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN
“LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR”
SMAN 1 PAMARAYAN









Di susun oleh :
Nama     : Nia Alfitriyani
NIM       : 2224131835
Kelas      : 2 B




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

2013

KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan Karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan laporan observasi lapangan Layanan Bimbingan Belajar.  Di dalam laporan ini kami menjelaskan tentang bagaimana proses layanan bimbingan belajar pada siswa.
Kami berharap semoga laporan observasi lapangan ini dapat bermanfaat dan membantu semua pihak dalam memahami matakuliah Bimbingan Peserta Didik dan Psikologi Pendidikan khususnya pada materi Layanan Bimbingan Belajar dan dapat menambah wawasan serta bermanfaat pada saat melakukan kegiatan belajar mengajar dan di dalam kehidupan sehari-hari.
Akhir kata, kritik dan saran dari semua pihak kami harapkan demi kemajuan dan kesempurnaan laporan ini.




                                                                                                            Serang,            Mei 2014


Penyusun

 


DAFTAR ISI

Contents


BAB I

PENDAHULUAN

 

LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam seluruh proses pendidikan, belajar  merupakan kegiatan inti. Pendidikan itu sendiri dapat diartikan sebagai bantuan perkembangan melalui kegiatan belajar. Secara psikologis belajar dapat diartikan sebagai proses memperoleh perubahan tingkah laku (baik dalam kognitif, afektif maupunpsikomotor) untuk memperoleh respons yang diperlukan dalam interaksi dengan lingkungan secara efisien.
Dalam kegiatan belajar dapat timbul berbagai masalah baik bagi pelajar itu sendiri maupun bagi pengajar. Misalnya bagaimana menciptakan kondisi yang baik agar berhasil, memilih metode dan alat-alat sesuai dengan jenis dan situasi belajar, membuat rencana belajar bagi siswa, menyesuaikan proses belajar dengan keunikan siswa, penilaian hasil belajar, diagnosis kesulitan belajar, dan sebagainya. Bagi siswa sendiri, masalah-masalah belajar yang mungkin timbul misalnya pengaturan waktu belajar, memilih cara belajar, menggunakan buku-buku pelajaran, belajar berkelompok, mempersiapkan ujian, memilih mata pelajaran yang cocok, dan sebagainya.
            Layanan bimbingan belajar adalah kegiatan seorang pengajar terhadap peserta didiknya untuk menangani kasus kesulitan-kesulitan belajar seperti contoh di atas. Kegiatan ini dimulai dari cara mendiagnosis kesulitan belajar sampai kepada proses penyembuhannya. Kami berkesempatan untuk melakukan observasi di SMAN 1 Pamarayan, Banten. Ada kasus kesulitan belajar yang ditemui serta analisa tentang tindakan-tindakan pengajar dalam melakukan layanan bimbingan belajar.

RUMUSAN MASALAH

1.      Apa itu layanan bimbingan belajar?
2.      Apa saja tahap-tahap dalam proses layanan bimbingan belajar?
3.      Bagaimana proses layanan bimbingan belajar di SMAN 1 Pamarayan?


TUJUAN

1.      Untuk mengaplikasikan materi layanan bimbingan belajar yang telah kami dapatkan di perkuliahan ke dalam kasus nyata di lapangan.
2.      Untuk lebih memahami tahap-tahap layanan bimbingan belajar beserta contoh nyata di lapangan.
3.      Untuk mengetahui proses layanan bimbingan belajar di SMAN 1 Pamarayan.

Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Tempat      : SMAN 1 Pamarayan, Jl. Jalupang – Pamarayan Serang 42176, Banten.
waktu                    : Jum’at, 23 Mei 2014.

Cara Kerja

1.      Modul tentang konsep dasar Bimbingan belajar yang terkait dengan Prosedur umum layanan bimbingan di baca kembali. Prosedur umum layanan bimbingan meliputi identifikasi kasus, identifikasi masalah, diagnosis, prognosis, remedial atau referral dan evaluasi serta follow up.
2.      Berdasarkan pemahaman tentang prosedur umum layanan bimbingan, kemudian dilakukan observasi ke sekolah dan menemukan kasus serta mengaplikasikannya pada konsep layanan bimbingan.
3.      Hasil observasi dibuat dalam bentuk “laporan observasi lapangan”, kemudian identitas sekolah dan guru tempat dilakukan observasi ditulis.
4.      Didalam laporan disertakan dokumentasi berupa foto sedang melakukan observasi (misalnya foto ketika interview guru atau siswa).


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Bimbingan Belajar

Menurut A J Jones, bimbingan belajar merupakan suatu proses pemberian bantuan seseorang pada orang lain dalam menentukan pilihan dan pemecahan masalah dalam kehidupannya.
Menurut L D Crow dan A Crow, bimbingan belajar merupakan suatu bantuan yang dapat diberikan oleh seseorang yang telah terdidik pada orang lain yang mana usianya tidak ditentukan untuk dapat menjalani kegiatan dalam hidupnya.
Jadi, bimbingan belajar adalah suatu bentuk kegiatan dalam proses belajar yang dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki kemampuan lebih dalam banyak hal untuk diberikan kepada orang lain yang mana bertujuan agar orang lain dapat menemukan pengetahuan baru yang belum dimilikinya serta dapat diterapkan dalam kehidupannya.

2. Latar Belakang Bimbingan Belajar

Suatu kegiatan yang dilaksanakan sudah pasti memiliki latar belakang. Demikian pula halnya dengan layanan bimbingan belajar. Kegiatan bimbingan belajar dilaksanakan karena dilatar belakangi oleh beberapa hal, sebagai berikut:
1.      Adanya criterion referenced evaluation yang mana mengklasifikasikan siswa berdasarkan keberhasilan mereka dalam menguasai pelajaran. Dan kualifikasi itu, antara lain :
a. Siswa yang benar-benar dapat meguasai pelajaran.
b. Siswa yang cukup menguasai pelajaran.
c. Siswa yang belum dapat menguasai pelajaran.

2.      Adanya kemampuan/tingkat kecerdasan dan bakat yang dimiliki oleh tiap siswa yang mana berbeda dengan siswa yang lainnya. Dimana klasifikasi siswa tersebut antara lain :
a.       Siswa yang prestasinya lebih tinggi dari apa yang diperkirakan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya.
b.      Siswa yang prestasiya memang sesuai dengan apa yang diperkirakan berdasarkan tes kemampuan belajarnya.
c.       Siswa yang prestasinya ternyata lebih rendah dai apa yang diperkirakan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya.
3.      Adanya penerapan waktu untuk menyelesaikan suatu program belajar. Dan klasifikasi siswa dalam hal ini antara lain :
a.       Siswa yang ternyata dapat menyelesaikan pelajaran lebih cepat dari waktu yang disesuaikan.
b.      Siswa yang dapat menyelesaikan pelajaran sesuai waktu yang telah disesuaikan.
c.       Siswa yang ternyata tidak dapat menyelesaikan pelajaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
4.      Adanya penggunaan norm referenced yang mana membandingkan prestasi siswa yang satu dengan yang lainnya. Dan klasifikasi siswa berdasarkan perstasinya itu antara lain :
a.       Siswa yang prestasi belajarnya selalu berada di atas nilai rata-rata prestasi kelompoknya.
b.      Siswa yang prestasi belajarnya selalu berada di sekitar nilai rata-rata dari kelompoknya.
c.       Siswa yang prestasinya selalu berada di bawah nilai rata-rata prestasi kelompoknya.
Setelah mengetahui begitu banyak permasalahan yang dihadapi oleh setiap siswa dalam kegiatan belajarnya, maka diperlukanlah suatu bentuk layanan bimbingan belajar. Hal ini dimaksudkan agar para siswa yang memiliki permasalahan dalam belajarnya dapat segera memperoleh bantuan atau bimbingan dalam kegiatan belajar yang diperlukannya. Jadi, layanan bimbingan belajar sangat diperlukan oleh semua orang yang sedang melakukan proses atau kegiatan belajar.

 

3. Jenis Layanan Bimbingan Belajar dalam Kaitannya dengan PBM

Seorang guru dalam memberikan layanan bimbingan belajar harus tetap berporos pada terselenggaranya Proses Belajar Mengajar. Oleh karena itu, diperlukanlah suatu jenis layanan bimbingan belajar yang berkaitan dengan Proses Belajar Mengajar. Maka jenis layanan bimbingan belajar dalam konteks Proses Belajar Mengajar yang dapat dan seyogianya dijalankan oleh para guru, antara lain :
a.       Mengumpulkan informasi mengenai diri siswa
b.      Memberikan informasi mengenai berbagai kemungkinan jenis program dan kegiatan yang sesuai dengan karakteristik siswa.
c.       Menempatkan siswa dengan kelompok belajar yang sesuai
d.      Memberikan program belajar yang sesuai
e.       Mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar
f.       Membuat rekomendasi tentang kemungkinan usaha selanjutnya
g.      Melakukan remedial teaching

4. Prosedur dan Strategi Layanan Bimbingan Belajar

a. Prosedur Umum Layanan Bimbingan Belajar
Suatu layanan bimbingan belajar, pada umumnya memiliki beberapa tahap dalam kegiatannya, antara lain :
1) Identifikasi Kasus
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi siswa yang memerlukan bimbingan. Ada kalanya siswa datang langsung pada guru pembimbing untuk diberi bimbingan mengenai suatu permasalahan dalam belajar yang sedang dihadapinya. Namun, ada kalanya pula, siswa enggan untuk mendatangi guru pembimbingnya dikarenakan beberapa alasan. Maka, diperlukan suatu upaya lebih dari guru pembimbing untuk dapat memberikan bimbingan pada siswa yang benar-benar membutuhkan bimbingan, namun enggan untuk meminta bimbingan. Dan cara yang dapat dilakukan oleh guru pembimbing dalam memberikan bimbingan motivasi kepada siswa tersebut, antara lain :
(a) Call them approach
Langkah untuk memanggil setiap siswa yang ada dan melakukan wawancara face to face, maka akan diperoleh siswa yang perlu dibimbing.
(b) Maintan good relations
Langkah ini dikenal juga sebagai open door policy, yang mana diciptakan berbagai cara tidak langsung untuk memperkenalkan berbagai jenis layanan yang akan diberikan guru pembimbing untuk membantu siswanya yang tidak hanya terbatas pada hubungan belajar-mengajar di kelas saja.
(c) Developing a desire for conseling
Langkah ini dilakukan jika siswa tidak menyadari akan masalah belajar yang dialaminya, maka dilakukanlah cara:
(1)   mengadiministrasikan tes inteligensi, bakat, minat, pretest atau post test dan sebagainya.
(2)   mengadakan orientasi studi yang membicarakan dan memperkenalkan karakteristik perbedaan individual serta implikasinya bagi cara belajar-mengajar.
(3)   mengadakan diskusi tentang suatu masalah tentang kesulitan belajar.
(d) Lakukan analisis terhadap prestasi belajar siswa mengenai beberapa siswa yang menunjukkan kelainan-kelainan tertentu.
(e) Lakukan analisis sosiometris dengan memilih temantedekat di antara sesama siswa.
2) Identifikasi Masalah
Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi permalsahan yang dihadapi oleh setiap siswa. Dalam konteks PBM, permasalahannya dapat dialokalisasi dan dibatasi dengan ditinjau dari tujuan proses belajar-mengajar:
(a) Secara substansial-material, hendaknya dialokalisasi pada jenis bidang studi mana saja.
(b) Secara struktural-fungsional, permasalahan itu mungkin dapat dialokasikan pada salah satu jenis dan tingkat kategori belajar proses-proses mental dari delapan kategori belajar menurut Gagne.
(c) Secara behavioral, permasalahan mungkin terletak pada salah satu jenis dan tingkat perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor.
(d) Mungkin terletak pada salah satu atau beberapa aspek kepribadian siswa.
3) Diagnosis
Dalam konteks PBM, kemungkinan faktor penyebab permasalahan yaitu terletak pada :
(a) raw input
(b) instrumental input
(c) enviromental input
(d) tujuan pendidikan
Cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh informasi yang relevan dengan kemungkinan faktor penyebab permasalahan di atas, antara lain:
(a) Untuk mendeteksi raw input, perlu diadakan tes psikologi, skala penilaian sikap, wawancara bimbingan dengan yang bersangkutan, inventory, dan sebagainya.
(b) Untuk mendeteksi instrumental input, perlu dilakukan review terhadap komponen-komponen sistem instruksional yang bersangkutan dengan diadakan wawancara dan studi dokumeneter.
(c) Untuk mendeteksi enviromental input, perlu dilakukan observasi dengan analisis anecdotal records, kunjungan rumah, wawancara dengan yang bersangkutan.
(d) Untuk mendeteksi tujuan-tujuan pendidikan, perlu dilakukan analisis rasional, wawancara, dan studi dokumenter.
4) Mengadakan Prognosis
Langkah ini dilakukan setelah beberapa langkah sebelumnya telah dilakukan, dan memberikan hasil. Selanjutnya, dapat diperkirakan tentang cara mana yang mungkin dilakukan. Proses pengambilan keputusan pada tahap ini seyogianya tidak dilakukan secara tergesa-gesa, dan sebaiknya melalui serangkaian konferensi kasus.
5) Melakukan Tindakan Remedial atau Membuat Referral (Rujukan)
Jika jenis permasalahan yang dihadapi berhubungan dengan lingkungan belajar-mengajar dan guru masih sanggup mengatasi, maka perlu dilakukan tindakan remedial. Namun, jika permasalahannya sudah menyangkut aspek lain yang lebih luas lagi, maka seorang guru perlu segera melakukan referral pada ahli yang kompeten di bidangnya.
6) Evaluasi dan Follow Up
Langkah apapun yang telah ditempuh oleh seorang guru, langkah evaluasi atas usaha pemecahan masalah tersebut seyogianya dilakukan.

b. Strategi Layanan Bimbingan Belajar
Ada dua cara pendekatan dalam menggariskan strategi layanan bimbingan, yaitu :
1. Berdasarkan jenis dan sifat kasus yang dihadapinya
Sesuai dengan sifat permasalahannya, layanan bimbingan dapat diberikan kepada siswa sebagai individual dan dapat pula diberikan kepada individu dalam kelompok.
o Layanan bimbingan kelompok, diselenggarakan bila :
(1) Terdapat sejumlah individu yang mempunyai permasalahan yang sama.
(2) Terdapat masalah yang dialami oleh individu, namun perlu adanya hubungan dengan orang lain.
Layanan bimbingan ini dapat dilakukan dengan cara:
(1) Formal, seperti : diskusi, ceramah, remedial teaching, sosiodrama, dan sebagainya.
(2) Informal, seperti : rekreasi, karyawisata, student self government, pesta olah raga, pentas seni, dan sebagainya.
o Layanan bimbingan individual
Layanan ini dapat digunakan jika permasalahan yang dihadapi individu itu lebih bersifat pribadi dan memerlukan beberapa proses yang mana dapat dilakukan oleh guru atau ahli psikolog. Mungkin juga orangtua yang bersangkutan yang akan melakukannya.
2. Berdasarkan Ruang Lingkup Permasalahan dan Pengorganisasiannya
Mathewson mengidentifikasi tiga strategi umum penyelenggaraan layanan bimbingan, sebagai berikut :
a) The strategy guidence thoughout the classroom
Dalam strategi bimbingan melalui kelas ini, ada slogan yang berbunyi “Every teacher is a guidance worker”, yang artinya bahwa setiap guru adalah petugas bimbingan. Slogan ini menjiwai seluruh pemikiran dan praktik layanan sehingga bimbingan dapat selalu terlaksana.
b) The strategy of guidance throughout supplementary services
Dalam strategi bimbingan melalui layanan khusus yang bersifat suplementer ini dapat dilakukan oleh petugas khusus yang ditujukan guna mengatasi masalah pokok secara terpilih. Strategi ini merupakan pola layanan bimbingan pendidikan dan vokasional.
c) The strategy of guidance as a comprehensive process trhoughtout the whole curriculum and community
Dalam strategi bimbingan sebagai suatu proses yang komprehensif melalui kegiatan keseluruhan kurikulum dan masyarakat inimelibatkan semua komponen personalia sekolah, siswa, orangtua, dan wakil-wakil masyarakat. Strategi ini memerlukan fasilitas yang lebih lengkap dan menuntut terciptanya suatu kerja sama yang harmonis di antara semua komponen yang terlibat.

5. Sistem dan Teknik Layanan Bimbingan

a. Beberapa Sistem Pendekatan Layanan Bimbingan
Dalam buku berjudul Counseling and Psychotherapy, Rogers mengemukakan dua pendekatan layanan bimbingan, yaitu:
1) Pendekatan Direktif adalah suatu proses pendekatan yang mana yang menjadi pusatnya yaitu konselor, bukan klien.
Dalam pendekatan ini, Wiliamson mengemukakan beberapa alasan dilakukannya pendekatan ini, antara lain:
o Anak yang belum matang mendiagnosis sendiri, sukar memecahkan masalah yang dihadapinya tanpa bantuan pihak lain.
o Anak yang berkesulitan, walaupun telah diberi arahan untuk melakukan sesuatu agar dapat mengatasi masalahnya, tetap saja tidak berani melakukannya.
o Mungkin ada masalah yang berat untuk dipecahkan oleh anak tanpa bantuan orang lain.
2) Pendekatan Non-Direktif adalah suatu proses pendekatan yang mana yang menjadi pusatnya yaitu klien, bukan konselor.
Dalam pendekatan ini, Cart Rogers mengemukakan beberapa alasan dilakukannya pendekatan ini, antara lain:
Tiap individu mempunyai kemampuan yang besar untuk menyesuaikan diri serta mempunyai dorongan yang kuat untuk berdiri sendiri.
Pembimbing hanya sebagai pengantar dan membantu klien dalam menciptakan suasana damai.
3) Pendekatan Eclective
Dalam pendekatan ini, FP Robinson mengemukakan beberapa alasan dilakukannya pendekatan ini, antara lain:
Masalah dan situasi penyuluh selalu berbeda yang tak terbatas pada satu bidang kehiudpan.
Langkah-langkah pembimbing harus selalu disesuaikan dengan keperluan yang dituntut oleH situasi bimbingan.

b.  Teknik Layanan Bimbingan Belajar
Ada beberapa teknik layanan bimbingan yang dapat dilakukan oleh seorang guru pembimbing, yaitu antara lain:
·         Menghimpun data dan informasi mengenai individu yang bersangkutan.
·         Menciptakan hubungan yang baik dengan klien serta memberikan informasi yang meyakinkan dan memberikan pilihan rencana yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalahnya.


 

 

 


BAB III

PEMBAHASAN


Setelah saya melakukan kunjungan dan menganalisis layanan bimbingan belajar di SMAN 1 Pamarayan kelas XI IPS 2. Saya mendapati beberapa kasus, diantaranya : kesulitan belajar siswa kelas XI IPS 2 (keseluruhan) karena nilai rata-rata dari kelas XI IPS 2 dibawah rata-rata kelas lainnya; kesulitan belajar salah satu siswa yang jarang hadir di kelas yang bernama Martajani. Berikut data dari siswa yang mengalami kesulitan belajar beserta narasumbernya.
Objek yang mengalami kesulitan belajar         : seluruh siswa kelas XI IPS 2
                                                                          Martajani (siswa kelas XI IPS 2)
Narasumber                                                     : Asep Somantri (siswa kelas XI IPS 2)
                                                                          Martajani (siswa kelas XI IPS 2)
                                                                          Royani (siswa kelas XI IPS 2)
                                                                          Ahsari (siswa kelas XI IPS 2)
                                                                          Kahfi (wali kelas XI IPS 2)
                                                                          Lina (guru)
                                                                          Indah (guru)
                                                                          Nunung (guru)
                                                                          Enday (guru)
                                                                          Ade Nurulhuda (kepala sekolah)

Kasus 1 : Nilai rata-rata siswa kelas XI IPS 2 di bawah rata-rata nilai kelas lainnya.

Sistem pembagian kelas di SMAN 1 Pamarayan menggunakan sistem psikotest. Terkadang ada siswa yang ingin masuk kelas IPA malah menjadi masuk IPS karena IQ dan hasil psikotestnya mengharuskan siswa tersebut masuk ke IPS, contohnya adalah Royani. Siswa di kelas XI IPS 2 keseluruhan adalah laki-laki. Kebanyaan siswa di kelas ini mempunyai semangat belajar yang rendah. Lingkungan sangat mempengaruhi peserta didik, mungkin hal ini juga yang mendasari semua siswa di kelas XI IPS di cap paling rusuh, yang pada awalnya ada siswa yang mempunyai semangat belajar tinggi terbawa oleh semangat siswa yang sangat rendah. Di tambah dengan adanya pilih kasih guru terhadap perbedaan kelas IPA dan IPS membuat siswa IPS semakin malas belajar, hal ini dirasakan juga oleh salah seorang siswa kelas XI IPS 2, yaitu Asep Somantri. Tuturan Asep mengenai hal ini bukan kabar miring belaka, ketika saya mewawancarai beberapa guru yang mengajar disana, diantaranya Bu Lina, Bu Enday, Bu Indah, serta Bu Nunung, dengan nada yang sedikit merendahkan mereka berpendapat bahwa kelas XI IPS 2 kelasnya kelas pemalas semua dan rusuh.
            Ketika konsep dasar bimbingan belajar saya aplikasikan pada kasus ini, maka uraiannya sebagai berikut.
1)      Identifikasi Kasus
Kasus diindentifikasi pertama dengan melihat hasil belajar siswa pada raport nya. Royani adalah siswa yang mendapat rangking pertama di kelas XI IPS 2. Ketika saya membandingkan hasil belajar Royani dengan siswa yang mendapat rangking pertama di kelas lain, ada perbedaan yang cukup jauh. Pak Kahfi selaku wali kelas XI IPS 2 menuturkan bahwa kebanyakan nilai untuk siswa di kelas ini menggunakan nilai acuan rata-rata kelasnya (Nilai Acuan Norma), bukan nilai rata-rata standar. “Ya, kalo saya menggunakan KKM beneran sudah dipastikan tidak lulus semua ini. Meskipun memang di raportnya menggunakan KKM tapi guru juga mengusahakan nilai siswa agar di raportnya minimal sampai di KKM, walaupun pada kenyataannya hasil belajar siswa tidak sampai segitu...” tutur Pak Kahfi. Jadi kasusnya terjadi pada seluruh siswa kelas XI IPS 2.
2)      Identifikasi Masalah
Setelah saya mengetahui ternyata kasusnya terjadi pada seluruh siswa kelas XI IPS 2, kemudian saya mencari letak masalah atau letak kesulitan belajar pada siswa. Di tinjau dari nilai prestasinya, rata-rata nilai raport siswa kelas XI IPS 2 ini dibawah nilai rata-rata kelas lain. Dan dilihat dari daftar absennya, banyak siswa yang sering bolos atau tidak hadir di dalam kelas.

3)      Diagnosis
Hal yang menyebabkan prestasi siswa kelas ini dibawah rata-rata kelas lainnya adalah karena kebiasaan belajar siswa yang salah. Malas mengerjakan tugas, sering telat masuk kelas, bahkan Asep mengaku sebelum berangkat sekolah, dia bersama teman-teman lainnya sering nongkrong dahulu di pos satpam atau di warung. Dan yang menjadikan siswa ini malas belajar dan malas masuk ke sekolah adalah karena perlakuan gurunya sendiri yang sering membedakannya dengan kelas lain. Seharusnya seorang pengajar tidak boleh membandingkan apalagi pilih kasih dalam mengajar siswanya. Setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Jika guru nya saja tidak semangat dalam mengajar muridnya, apalagi muridnya akan semakin malas untuk mengikuti pelajarannya. Jadi faktor penyebab kesulitan belajar terletak pada sistem pengajarannya yang berakibat pada kebiasaan belajar siswa yang salah.
4)      Mengadakan Prognosis
Pada langkah ini seorang guru yang akan mengadakan bimbingan belajar diarahkan untuk menjawab pertanyaan, apakah masalah yang dialami siswa (kasus) masih mungkin untuk diatasi? Serta adakah alternative pemecahan yang mungkin (feasible) untuk di tempuh?
Pak Kahfi selaku wali kelas XI IPS 2 bahkan tidak menyadari dengan kasus ini. Beliau beranggapan hal ini memang sudah turun temurun terjadi di sekolah yang ada beberapa program studi seperti IPA atau IPS. Siswa yang masuk program IPA sudah dikira pintar dan baik dibandingkan dengan siswa program IPS. Padahal seharusnya sebagai wali kelas mencari solusi agar masalah belajar siswa dapat di atasi, bukan malah membenarkan opini turun temurun yang berkembang di sekolah tersebut.
Ketika saya berbincang dengan beliau, saya tak lupa untuk memberi masukan akan hal ini. Menurut analisa saya, ini karena pengajarnya juga membenarkan opini turun temurun tersebut dan tidak bersemangat mengajar di kelas sehingga siswa jarang masuk dan tidak mengerjakan tugas pun di anggap sudah biasa.
Kasus ini masih mungkin untuk diatasi karena diagnosisnya terkait dengan administrative sekolah. Prognosis yang tepat adalah mengadakan pembicaraan dengan guru-guru untuk lebih memperhatikan siswa, dan menggunakan metode pembelajaran yang tepat agar siswa tidak bosan di kelas. Dan jika masih ada pengajar yang malas untuk mengajar ke kelas yang dianggapnya sering rusuh dan sering membeda-bedakan, sebaiknya kepala sekolah mengambil langkah dalam hal ini.
5)      Melakukan Tindakan Remedial atau Membuat Referral (Rujukan)
Tindakan remedial secara keseluruhan kepada siswa kelas XI IPS 2 ini belum pernah dilakukan, mengingat guru memberi nilai siswa selalu pas atau di atas KKM untuk menghindari pengulangan kelas. Rujukan yang tepat adalah menggunakan guru-guru yang kompeten serta professional dalam mengajarnya sehingga siswa menjadi bersemangat dalam belajar. Kepala sekolah harus baik dalam memanage sekolahnya, termasuk tenaga pengajar di dalam sekolah tersebut.
6)      Evaluasi dan Follow Up
Evaluasi dan follow up di perlukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dari tindakan remedial atau referral yang dilakukan. Pada kasus ini di kelas XI IPS 2 SMAN 1 Pamarayan tidak dapat di lakukan evaluasi serta follow up karena tidak ada tindakan remedial ataupun referral.

Kasus 2 : Martajani, siswa kelas XI IPS 2 yang paling banyak ketidakhadirannya di dalam kelas.

Martajani di kenal seorang yang pendiam oleh teman-temannya. Dia semakin terkenal karena menjadi raja absen di kelas. Terakhir kali hadir ketika mengikuti Ujian Semester pertama. Banyak teman-temannya yang tidak tahu alasan Martajani sering bolos sekolah, namun ada juga teman dekatnya Martajani yang mengatakan bahwa dia sibuk bekerja jadi tidak masuk sekolah. Ketika saya menanyakan hal ini kepada wali kelas, beliau mengatakan memang iya bahwa Martajani itu sibuk bekerja hingga melupakan sekolahnya, namun masih ada kemauan dalam diri Martajani sehingga dia tetap masuk ketika ujian akhir semester pertama kemarin. Pak Kahfi tak tinggal diam, beliau sudah melakukan segala cara yang terbaik agar Martajani tetap bisa meraih cita-citanya.
Adapun layanan bimbingan belajar yang pak Kahfi lakukan sebagai berikut.
1)      Identifikasi Kasus
Pak Kahfi mendapati kasus Martajani ini sejak awal semester masuk kelas XI. Nama Martajani sering tercatat di absensi kelas.
2)      Identifikasi Masalah
Masalah atau letak kesulitan belajarnya sudah jelas, bahwa Martajani sering absen di sekolah.
3)      Diagnosis
Pak Kahfi mendatangi rumah Martajani kemudian mewawancarai Martajani beserta ibunya. Ibu Martajani juga menginginkan bahwa anaknya tetap bersekolah dan meraih cita-citanya, namun Martajani sendiri yang memilih jalan untuk bekerja. Dia tidak tega terhadap ibunya yang sudah tua jika harusnya bekerja sendiri. Martajani adalah seorang anak yatim, sehingga terpaksa dia menjadi kepala keluarga di rumahnya karena merupakan anak laki-laki satu-satunya. Namun, ketika Martajani ditanya perihal sekolahnya, dia menjawab akan selalu mengusahakan untuk pergi sekolah jika memang memungkinkan. Buktinya, dia masih beritikad baik untuk mengikuti ujian akhir semester. Jadi, diagnosis dari masalah Martajani adalah karena keadaan atau kondisi keluarganya.
4)      Prognosis
Pak Kahfi menyarankan Martajani untuk belajar dengan temannya jika sudah ada waktu luang. Beberapa kali pak Kahfi sudah melaporkan hal ini dengan guru BK di sekolah tersebut. Sekolah tidak tega jika mimpi Martajani harus dihentikan sekarang. Pada akhirnya, Martajani mau belajar dengan teman-temannya di kala dia sudah selesai bekerja dan sesekali datang ke rumah pak Kahfi untuk mengejar ketertinggalan.
5)      Remedial atau Referral
Pengajaran remedial pun sering guru berikan kepada Martajani di kala dia masuk sekolah.
6)      Evaluasi dan Follow Up
Pengajaran remedial dan saran pak Kahfi agar Martajani belajar dengan teman-temannya untuk mengejar ketertinggalan terbukti cukup ampuh. Nilai UAS Martajani mampu mencapai KKM yang ditargetkan oleh guru.


BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan


Bimbingan belajar merupakan suatu bantuan yang dapat diberikan oleh seseorang yang telah terdidik (guru) kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. prosedur pelayanan bimbingan belajar ini terdiri dari identifikasi kasus, identifikasi masalah, diagnosis, prognosis, remedial atau referral dan evaluasi serta follow up.
Kasus kesulitan belajar di kelas XI IPS 2 SMAN 1 Pamarayan diantaranya nilai rata-rata kelas tersebut dibawah rata-rata kelas lainnya, serta Martajani yang merupakan raja absen dikelasnya. Dan hanya kasus Martajani saja yang baru mendapat pelayanan bimbingan belajar oleh guru dan wali kelas di sekolah tersebut.

 

Saran


Hendaknya guru lebih teliti dan perhatian terhadap proses belajar peserta didiknya, sehingga semua kasus kesulitan belajar dapat diketahui dan dicari proses penyembuhannya.








DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/6709676/Konsep_Dasar_Bimbingan_Belajar (diakses pada tanggal 24 Mei pukul 15.16 WIB)

Makmun, Abin Syamsudin. 2009. Psikologi Kependidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar