LAPORAN
OBSERVASI LAPANGAN
“LAYANAN
BIMBINGAN BELAJAR”
SMAN
1 PAMARAYAN

Di susun oleh :
Nama : Nia Alfitriyani
NIM :
2224131835
Kelas : 2 B
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN
ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2013
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan Karunia-Nya
lah kami dapat menyelesaikan laporan
observasi lapangan Layanan
Bimbingan Belajar.
Di dalam laporan ini kami menjelaskan tentang bagaimana proses layanan bimbingan belajar pada siswa.
Kami
berharap semoga laporan
observasi lapangan ini dapat bermanfaat dan membantu
semua pihak dalam memahami matakuliah Bimbingan
Peserta Didik dan Psikologi Pendidikan khususnya pada materi Layanan Bimbingan
Belajar dan dapat menambah wawasan serta
bermanfaat pada saat melakukan kegiatan
belajar mengajar dan di dalam kehidupan sehari-hari.
Akhir
kata, kritik dan saran dari semua pihak kami harapkan demi kemajuan dan
kesempurnaan laporan ini.
Serang, Mei 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
Contents
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam seluruh proses pendidikan,
belajar merupakan kegiatan inti. Pendidikan itu sendiri dapat
diartikan sebagai bantuan perkembangan melalui kegiatan belajar. Secara
psikologis belajar dapat diartikan sebagai proses memperoleh perubahan tingkah
laku (baik dalam kognitif, afektif maupunpsikomotor) untuk memperoleh respons
yang diperlukan dalam interaksi dengan lingkungan secara efisien.
Dalam kegiatan belajar dapat timbul
berbagai masalah baik bagi pelajar itu sendiri maupun bagi pengajar. Misalnya
bagaimana menciptakan kondisi yang baik agar berhasil, memilih metode dan
alat-alat sesuai dengan jenis dan situasi belajar, membuat rencana belajar bagi
siswa, menyesuaikan proses belajar dengan keunikan siswa, penilaian hasil
belajar, diagnosis kesulitan belajar, dan sebagainya. Bagi siswa sendiri,
masalah-masalah belajar yang mungkin timbul misalnya pengaturan waktu belajar,
memilih cara belajar, menggunakan buku-buku pelajaran, belajar berkelompok,
mempersiapkan ujian, memilih mata pelajaran yang cocok, dan sebagainya.
Layanan bimbingan belajar adalah
kegiatan seorang pengajar terhadap peserta didiknya untuk menangani kasus
kesulitan-kesulitan belajar seperti contoh di atas. Kegiatan ini dimulai dari
cara mendiagnosis kesulitan belajar sampai kepada proses penyembuhannya. Kami
berkesempatan untuk melakukan observasi di SMAN 1 Pamarayan, Banten. Ada kasus
kesulitan belajar yang ditemui serta analisa tentang tindakan-tindakan pengajar
dalam melakukan layanan bimbingan belajar.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu layanan bimbingan belajar?
2. Apa saja tahap-tahap dalam proses layanan bimbingan
belajar?
3. Bagaimana proses layanan bimbingan belajar di SMAN 1
Pamarayan?
TUJUAN
1. Untuk mengaplikasikan materi layanan bimbingan belajar
yang telah kami dapatkan di perkuliahan ke dalam kasus nyata di lapangan.
2. Untuk lebih memahami tahap-tahap layanan bimbingan
belajar beserta contoh nyata di lapangan.
3. Untuk mengetahui proses layanan bimbingan belajar di
SMAN 1 Pamarayan.
Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Tempat : SMAN 1 Pamarayan, Jl. Jalupang –
Pamarayan Serang 42176, Banten.
waktu : Jum’at, 23 Mei 2014.
Cara Kerja
1. Modul tentang konsep dasar Bimbingan belajar yang
terkait dengan Prosedur umum layanan bimbingan di baca kembali. Prosedur umum
layanan bimbingan meliputi identifikasi kasus, identifikasi masalah, diagnosis,
prognosis, remedial atau referral dan evaluasi serta follow up.
2. Berdasarkan pemahaman tentang prosedur umum layanan
bimbingan, kemudian dilakukan observasi ke sekolah dan menemukan kasus serta
mengaplikasikannya pada konsep layanan bimbingan.
3. Hasil observasi dibuat dalam bentuk “laporan observasi
lapangan”, kemudian identitas sekolah dan guru tempat dilakukan observasi
ditulis.
4. Didalam laporan disertakan dokumentasi berupa foto
sedang melakukan observasi (misalnya foto ketika interview guru atau siswa).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Bimbingan Belajar
Menurut A J Jones, bimbingan belajar merupakan suatu proses
pemberian bantuan seseorang pada orang lain dalam menentukan pilihan dan
pemecahan masalah dalam kehidupannya.
Menurut L D Crow dan A Crow, bimbingan belajar merupakan
suatu bantuan yang dapat diberikan oleh seseorang yang telah terdidik pada
orang lain yang mana usianya tidak ditentukan untuk dapat menjalani kegiatan
dalam hidupnya.
Jadi, bimbingan belajar adalah suatu bentuk kegiatan dalam
proses belajar yang dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki kemampuan
lebih dalam banyak hal untuk diberikan kepada orang lain yang mana bertujuan
agar orang lain dapat menemukan pengetahuan baru yang belum dimilikinya serta
dapat diterapkan dalam kehidupannya.
2.
Latar Belakang Bimbingan Belajar
Suatu kegiatan yang dilaksanakan sudah pasti memiliki latar
belakang. Demikian pula halnya dengan layanan bimbingan belajar. Kegiatan
bimbingan belajar dilaksanakan karena dilatar belakangi oleh beberapa hal,
sebagai berikut:
1.
Adanya criterion referenced evaluation yang mana
mengklasifikasikan siswa berdasarkan keberhasilan mereka dalam menguasai
pelajaran. Dan kualifikasi itu, antara lain :
a. Siswa yang benar-benar dapat
meguasai pelajaran.
b. Siswa yang cukup menguasai
pelajaran.
c. Siswa yang belum dapat menguasai
pelajaran.
2. Adanya kemampuan/tingkat kecerdasan
dan bakat yang dimiliki oleh tiap siswa yang mana berbeda dengan siswa yang lainnya.
Dimana klasifikasi siswa tersebut antara lain :
a.
Siswa yang prestasinya lebih tinggi dari apa yang
diperkirakan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya.
b.
Siswa yang prestasiya memang sesuai dengan apa yang
diperkirakan berdasarkan tes kemampuan belajarnya.
c.
Siswa yang prestasinya ternyata lebih rendah dai apa yang
diperkirakan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya.
3. Adanya penerapan waktu untuk
menyelesaikan suatu program belajar. Dan klasifikasi siswa dalam hal ini antara
lain :
a.
Siswa yang ternyata dapat menyelesaikan pelajaran lebih
cepat dari waktu yang disesuaikan.
b.
Siswa yang dapat menyelesaikan pelajaran sesuai waktu yang
telah disesuaikan.
c.
Siswa yang ternyata tidak dapat menyelesaikan pelajaran
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
4. Adanya penggunaan norm referenced
yang mana membandingkan prestasi siswa yang satu dengan yang lainnya. Dan
klasifikasi siswa berdasarkan perstasinya itu antara lain :
a.
Siswa yang prestasi belajarnya selalu berada di atas nilai
rata-rata prestasi kelompoknya.
b.
Siswa yang prestasi belajarnya selalu berada di sekitar
nilai rata-rata dari kelompoknya.
c.
Siswa yang prestasinya selalu berada di bawah nilai
rata-rata prestasi kelompoknya.
Setelah mengetahui begitu banyak permasalahan yang dihadapi
oleh setiap siswa dalam kegiatan belajarnya, maka diperlukanlah suatu bentuk
layanan bimbingan belajar. Hal ini dimaksudkan agar para siswa yang memiliki
permasalahan dalam belajarnya dapat segera memperoleh bantuan atau bimbingan
dalam kegiatan belajar yang diperlukannya. Jadi, layanan bimbingan belajar
sangat diperlukan oleh semua orang yang sedang melakukan proses atau kegiatan
belajar.
3.
Jenis Layanan Bimbingan Belajar dalam Kaitannya dengan PBM
Seorang guru dalam memberikan layanan bimbingan belajar
harus tetap berporos pada terselenggaranya Proses Belajar Mengajar. Oleh karena
itu, diperlukanlah suatu jenis layanan bimbingan belajar yang berkaitan dengan
Proses Belajar Mengajar. Maka jenis layanan bimbingan belajar dalam konteks
Proses Belajar Mengajar yang dapat dan seyogianya dijalankan oleh para guru,
antara lain :
a.
Mengumpulkan informasi mengenai diri siswa
b. Memberikan informasi mengenai
berbagai kemungkinan jenis program dan kegiatan yang sesuai dengan
karakteristik siswa.
c. Menempatkan siswa dengan kelompok
belajar yang sesuai
d. Memberikan program belajar yang
sesuai
e. Mengidentifikasi siswa yang diduga
mengalami kesulitan belajar
f. Membuat rekomendasi tentang
kemungkinan usaha selanjutnya
g.
Melakukan remedial teaching
4.
Prosedur dan Strategi Layanan Bimbingan Belajar
a.
Prosedur Umum Layanan Bimbingan Belajar
Suatu layanan bimbingan belajar, pada umumnya memiliki
beberapa tahap dalam kegiatannya, antara lain :
1) Identifikasi Kasus
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi siswa yang
memerlukan bimbingan. Ada kalanya siswa datang langsung pada guru pembimbing
untuk diberi bimbingan mengenai suatu permasalahan dalam belajar yang sedang
dihadapinya. Namun, ada kalanya pula, siswa enggan untuk mendatangi guru
pembimbingnya dikarenakan beberapa alasan. Maka, diperlukan suatu upaya lebih
dari guru pembimbing untuk dapat memberikan bimbingan pada siswa yang
benar-benar membutuhkan bimbingan, namun enggan untuk meminta bimbingan. Dan
cara yang dapat dilakukan oleh guru pembimbing dalam memberikan bimbingan
motivasi kepada siswa tersebut, antara lain :
(a)
Call them approach
Langkah untuk memanggil setiap siswa yang ada dan melakukan
wawancara face to face, maka akan diperoleh siswa yang perlu dibimbing.
(b)
Maintan good relations
Langkah ini dikenal juga sebagai open door policy, yang mana
diciptakan berbagai cara tidak langsung untuk memperkenalkan berbagai jenis
layanan yang akan diberikan guru pembimbing untuk membantu siswanya yang tidak
hanya terbatas pada hubungan belajar-mengajar di kelas saja.
(c)
Developing a desire for conseling
Langkah ini dilakukan jika siswa tidak menyadari akan
masalah belajar yang dialaminya, maka dilakukanlah cara:
(1)
mengadiministrasikan tes inteligensi, bakat, minat, pretest
atau post test dan sebagainya.
(2) mengadakan orientasi studi yang
membicarakan dan memperkenalkan karakteristik perbedaan individual serta implikasinya
bagi cara belajar-mengajar.
(3)
mengadakan diskusi tentang suatu masalah tentang kesulitan
belajar.
(d)
Lakukan analisis terhadap prestasi belajar siswa mengenai beberapa siswa yang
menunjukkan kelainan-kelainan tertentu.
(e)
Lakukan analisis sosiometris dengan memilih temantedekat di antara sesama
siswa.
2) Identifikasi Masalah
Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi permalsahan
yang dihadapi oleh setiap siswa. Dalam konteks PBM, permasalahannya dapat
dialokalisasi dan dibatasi dengan ditinjau dari tujuan proses belajar-mengajar:
(a)
Secara substansial-material, hendaknya dialokalisasi pada jenis bidang studi
mana saja.
(b)
Secara struktural-fungsional, permasalahan itu mungkin dapat dialokasikan pada
salah satu jenis dan tingkat kategori belajar proses-proses mental dari delapan
kategori belajar menurut Gagne.
(c)
Secara behavioral, permasalahan mungkin terletak pada salah satu jenis dan
tingkat perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor.
(d)
Mungkin terletak pada salah satu atau beberapa aspek kepribadian siswa.
3) Diagnosis
Dalam
konteks PBM, kemungkinan faktor penyebab permasalahan yaitu terletak pada :
(a)
raw input
(b)
instrumental input
(c)
enviromental input
(d)
tujuan pendidikan
Cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh informasi yang
relevan dengan kemungkinan faktor penyebab permasalahan di atas, antara lain:
(a)
Untuk mendeteksi raw input, perlu diadakan tes psikologi, skala penilaian
sikap, wawancara bimbingan dengan yang bersangkutan, inventory, dan sebagainya.
(b)
Untuk mendeteksi instrumental input, perlu dilakukan review terhadap
komponen-komponen sistem instruksional yang bersangkutan dengan diadakan
wawancara dan studi dokumeneter.
(c)
Untuk mendeteksi enviromental input, perlu dilakukan observasi dengan analisis
anecdotal records, kunjungan rumah, wawancara dengan yang bersangkutan.
(d)
Untuk mendeteksi tujuan-tujuan pendidikan, perlu dilakukan analisis rasional,
wawancara, dan studi dokumenter.
4)
Mengadakan Prognosis
Langkah ini dilakukan setelah beberapa langkah sebelumnya
telah dilakukan, dan memberikan hasil. Selanjutnya, dapat diperkirakan tentang
cara mana yang mungkin dilakukan. Proses pengambilan keputusan pada tahap ini
seyogianya tidak dilakukan secara tergesa-gesa, dan sebaiknya melalui
serangkaian konferensi kasus.
5)
Melakukan Tindakan Remedial atau Membuat Referral (Rujukan)
Jika jenis permasalahan yang dihadapi berhubungan dengan
lingkungan belajar-mengajar dan guru masih sanggup mengatasi, maka perlu
dilakukan tindakan remedial. Namun, jika permasalahannya sudah menyangkut aspek
lain yang lebih luas lagi, maka seorang guru perlu segera melakukan referral
pada ahli yang kompeten di bidangnya.
6)
Evaluasi dan Follow Up
Langkah apapun yang telah ditempuh oleh seorang guru,
langkah evaluasi atas usaha pemecahan masalah tersebut seyogianya dilakukan.
b.
Strategi Layanan Bimbingan Belajar
Ada dua cara pendekatan dalam menggariskan strategi layanan
bimbingan, yaitu :
1.
Berdasarkan jenis dan sifat kasus yang dihadapinya
Sesuai dengan sifat permasalahannya, layanan bimbingan dapat
diberikan kepada siswa sebagai individual dan dapat pula diberikan kepada
individu dalam kelompok.
o
Layanan bimbingan kelompok, diselenggarakan bila :
(1)
Terdapat sejumlah individu yang mempunyai permasalahan yang sama.
(2)
Terdapat masalah yang dialami oleh individu, namun perlu adanya hubungan dengan
orang lain.
Layanan
bimbingan ini dapat dilakukan dengan cara:
(1)
Formal, seperti : diskusi, ceramah, remedial teaching, sosiodrama, dan
sebagainya.
(2)
Informal, seperti : rekreasi, karyawisata, student self government, pesta olah
raga, pentas seni, dan sebagainya.
o
Layanan bimbingan individual
Layanan ini dapat digunakan jika permasalahan yang dihadapi
individu itu lebih bersifat pribadi dan memerlukan beberapa proses yang mana
dapat dilakukan oleh guru atau ahli psikolog. Mungkin juga orangtua yang
bersangkutan yang akan melakukannya.
2.
Berdasarkan Ruang Lingkup Permasalahan dan Pengorganisasiannya
Mathewson mengidentifikasi tiga strategi umum
penyelenggaraan layanan bimbingan, sebagai berikut :
a)
The strategy guidence thoughout the classroom
Dalam strategi bimbingan melalui kelas ini, ada slogan yang
berbunyi “Every teacher is a guidance worker”, yang artinya bahwa setiap guru
adalah petugas bimbingan. Slogan ini menjiwai seluruh pemikiran dan praktik
layanan sehingga bimbingan dapat selalu terlaksana.
b)
The strategy of guidance throughout supplementary services
Dalam strategi bimbingan melalui layanan khusus yang
bersifat suplementer ini dapat dilakukan oleh petugas khusus yang ditujukan
guna mengatasi masalah pokok secara terpilih. Strategi ini merupakan pola
layanan bimbingan pendidikan dan vokasional.
c)
The strategy of guidance as a comprehensive process trhoughtout the whole
curriculum and community
Dalam strategi bimbingan sebagai suatu proses yang
komprehensif melalui kegiatan keseluruhan kurikulum dan masyarakat
inimelibatkan semua komponen personalia sekolah, siswa, orangtua, dan
wakil-wakil masyarakat. Strategi ini memerlukan fasilitas yang lebih lengkap
dan menuntut terciptanya suatu kerja sama yang harmonis di antara semua
komponen yang terlibat.
5.
Sistem dan Teknik Layanan Bimbingan
a.
Beberapa Sistem Pendekatan Layanan Bimbingan
Dalam buku berjudul Counseling and Psychotherapy, Rogers
mengemukakan dua pendekatan layanan bimbingan, yaitu:
1)
Pendekatan Direktif adalah suatu proses pendekatan yang mana yang menjadi
pusatnya yaitu konselor, bukan klien.
Dalam
pendekatan ini, Wiliamson mengemukakan beberapa alasan dilakukannya pendekatan
ini, antara lain:
o
Anak yang belum matang mendiagnosis sendiri, sukar memecahkan masalah yang
dihadapinya tanpa bantuan pihak lain.
o
Anak yang berkesulitan, walaupun telah diberi arahan untuk melakukan sesuatu
agar dapat mengatasi masalahnya, tetap saja tidak berani melakukannya.
o
Mungkin ada masalah yang berat untuk dipecahkan oleh anak tanpa bantuan orang
lain.
2)
Pendekatan Non-Direktif adalah suatu proses pendekatan yang mana yang menjadi
pusatnya yaitu klien, bukan konselor.
Dalam
pendekatan ini, Cart Rogers mengemukakan beberapa alasan dilakukannya
pendekatan ini, antara lain:
Tiap
individu mempunyai kemampuan yang besar untuk menyesuaikan diri serta mempunyai
dorongan yang kuat untuk berdiri sendiri.
Pembimbing
hanya sebagai pengantar dan membantu klien dalam menciptakan suasana damai.
3)
Pendekatan Eclective
Dalam
pendekatan ini, FP Robinson mengemukakan beberapa alasan dilakukannya
pendekatan ini, antara lain:
Masalah
dan situasi penyuluh selalu berbeda yang tak terbatas pada satu bidang
kehiudpan.
Langkah-langkah
pembimbing harus selalu disesuaikan dengan keperluan yang dituntut oleH situasi
bimbingan.
b.
Teknik Layanan Bimbingan Belajar
Ada
beberapa teknik layanan bimbingan yang dapat dilakukan oleh seorang guru
pembimbing, yaitu antara lain:
·
Menghimpun data dan informasi mengenai individu yang
bersangkutan.
·
Menciptakan hubungan yang baik dengan klien serta memberikan informasi yang meyakinkan dan
memberikan pilihan rencana yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalahnya.
BAB III
PEMBAHASAN
Setelah
saya melakukan kunjungan dan menganalisis layanan bimbingan belajar di SMAN 1
Pamarayan kelas XI IPS 2. Saya mendapati beberapa kasus, diantaranya :
kesulitan belajar siswa kelas XI IPS 2 (keseluruhan) karena nilai rata-rata
dari kelas XI IPS 2 dibawah rata-rata kelas lainnya; kesulitan belajar salah
satu siswa yang jarang hadir di kelas yang bernama Martajani. Berikut data dari
siswa yang mengalami kesulitan belajar beserta narasumbernya.
Objek
yang mengalami kesulitan belajar :
seluruh siswa kelas XI IPS 2
Martajani (siswa kelas XI IPS 2)
Narasumber :
Asep Somantri (siswa kelas XI IPS 2)
Martajani (siswa kelas XI IPS 2)
Royani (siswa kelas XI IPS 2)
Ahsari (siswa kelas XI IPS 2)
Kahfi (wali kelas XI IPS 2)
Lina (guru)
Indah (guru)
Nunung (guru)
Enday (guru)
Ade Nurulhuda (kepala sekolah)
Kasus 1 : Nilai rata-rata siswa kelas XI IPS 2 di bawah rata-rata nilai kelas lainnya.
Sistem
pembagian kelas di SMAN 1 Pamarayan menggunakan sistem psikotest. Terkadang ada
siswa yang ingin masuk kelas IPA malah menjadi masuk IPS karena IQ dan hasil
psikotestnya mengharuskan siswa tersebut masuk ke IPS, contohnya adalah Royani.
Siswa di kelas XI IPS 2 keseluruhan adalah laki-laki. Kebanyaan siswa di kelas
ini mempunyai semangat belajar yang rendah. Lingkungan sangat mempengaruhi
peserta didik, mungkin hal ini juga yang mendasari semua siswa di kelas XI IPS
di cap paling rusuh, yang pada awalnya ada siswa yang mempunyai semangat
belajar tinggi terbawa oleh semangat siswa yang sangat rendah. Di tambah dengan
adanya pilih kasih guru terhadap perbedaan kelas IPA dan IPS membuat siswa IPS
semakin malas belajar, hal ini dirasakan juga oleh salah seorang siswa kelas XI
IPS 2, yaitu Asep Somantri. Tuturan Asep mengenai hal ini bukan kabar miring
belaka, ketika saya mewawancarai beberapa guru yang mengajar disana,
diantaranya Bu Lina, Bu Enday, Bu Indah, serta Bu Nunung, dengan nada yang
sedikit merendahkan mereka berpendapat bahwa kelas XI IPS 2 kelasnya kelas
pemalas semua dan rusuh.
Ketika konsep dasar bimbingan
belajar saya aplikasikan pada kasus ini, maka uraiannya sebagai berikut.
1) Identifikasi Kasus
Kasus
diindentifikasi pertama dengan melihat hasil belajar siswa pada raport nya. Royani adalah siswa yang
mendapat rangking pertama di kelas XI
IPS 2. Ketika saya membandingkan hasil belajar Royani dengan siswa yang
mendapat rangking pertama di kelas
lain, ada perbedaan yang cukup jauh. Pak Kahfi selaku wali kelas XI IPS 2
menuturkan bahwa kebanyakan nilai untuk siswa di kelas ini menggunakan nilai
acuan rata-rata kelasnya (Nilai Acuan Norma), bukan nilai rata-rata standar.
“Ya, kalo saya menggunakan KKM beneran sudah dipastikan tidak lulus semua ini.
Meskipun memang di raportnya menggunakan KKM tapi guru juga mengusahakan nilai
siswa agar di raportnya minimal sampai di KKM, walaupun pada kenyataannya hasil
belajar siswa tidak sampai segitu...” tutur Pak Kahfi. Jadi kasusnya terjadi
pada seluruh siswa kelas XI IPS 2.
2) Identifikasi Masalah
Setelah
saya mengetahui ternyata kasusnya terjadi pada seluruh siswa kelas XI IPS 2,
kemudian saya mencari letak masalah atau letak kesulitan belajar pada siswa. Di
tinjau dari nilai prestasinya, rata-rata nilai raport siswa kelas XI IPS 2 ini dibawah nilai rata-rata kelas lain.
Dan dilihat dari daftar absennya, banyak siswa yang sering bolos atau tidak
hadir di dalam kelas.
3) Diagnosis
Hal
yang menyebabkan prestasi siswa kelas ini dibawah rata-rata kelas lainnya
adalah karena kebiasaan belajar siswa yang salah. Malas mengerjakan tugas,
sering telat masuk kelas, bahkan Asep mengaku sebelum berangkat sekolah, dia
bersama teman-teman lainnya sering nongkrong dahulu di pos satpam atau di
warung. Dan yang menjadikan siswa ini malas belajar dan malas masuk ke sekolah
adalah karena perlakuan gurunya sendiri yang sering membedakannya dengan kelas
lain. Seharusnya seorang pengajar tidak boleh membandingkan apalagi pilih kasih
dalam mengajar siswanya. Setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-beda.
Jika guru nya saja tidak semangat dalam mengajar muridnya, apalagi muridnya
akan semakin malas untuk mengikuti pelajarannya. Jadi faktor penyebab kesulitan
belajar terletak pada sistem pengajarannya yang berakibat pada kebiasaan
belajar siswa yang salah.
4) Mengadakan Prognosis
Pada
langkah ini seorang guru yang akan mengadakan bimbingan belajar diarahkan untuk
menjawab pertanyaan, apakah masalah yang dialami siswa (kasus) masih mungkin
untuk diatasi? Serta adakah alternative pemecahan yang mungkin (feasible) untuk
di tempuh?
Pak
Kahfi selaku wali kelas XI IPS 2 bahkan tidak menyadari dengan kasus ini.
Beliau beranggapan hal ini memang sudah turun temurun terjadi di sekolah yang
ada beberapa program studi seperti IPA atau IPS. Siswa yang masuk program IPA
sudah dikira pintar dan baik dibandingkan dengan siswa program IPS. Padahal
seharusnya sebagai wali kelas mencari solusi agar masalah belajar siswa dapat
di atasi, bukan malah membenarkan opini turun temurun yang berkembang di
sekolah tersebut.
Ketika
saya berbincang dengan beliau, saya tak lupa untuk memberi masukan akan hal
ini. Menurut analisa saya, ini karena pengajarnya juga membenarkan opini turun
temurun tersebut dan tidak bersemangat mengajar di kelas sehingga siswa jarang
masuk dan tidak mengerjakan tugas pun di anggap sudah biasa.
Kasus
ini masih mungkin untuk diatasi karena diagnosisnya terkait dengan
administrative sekolah. Prognosis yang tepat adalah mengadakan pembicaraan
dengan guru-guru untuk lebih memperhatikan siswa, dan menggunakan metode
pembelajaran yang tepat agar siswa tidak bosan di kelas. Dan jika masih ada
pengajar yang malas untuk mengajar ke kelas yang dianggapnya sering rusuh dan
sering membeda-bedakan, sebaiknya kepala sekolah mengambil langkah dalam hal
ini.
5) Melakukan Tindakan Remedial atau Membuat Referral
(Rujukan)
Tindakan
remedial secara keseluruhan kepada siswa kelas XI IPS 2 ini belum pernah
dilakukan, mengingat guru memberi nilai siswa selalu pas atau di atas KKM untuk
menghindari pengulangan kelas. Rujukan yang tepat adalah menggunakan guru-guru
yang kompeten serta professional dalam mengajarnya sehingga siswa menjadi
bersemangat dalam belajar. Kepala sekolah harus baik dalam memanage sekolahnya,
termasuk tenaga pengajar di dalam sekolah tersebut.
6) Evaluasi dan Follow Up
Evaluasi
dan follow up di perlukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dari
tindakan remedial atau referral yang dilakukan. Pada kasus ini di kelas XI IPS
2 SMAN 1 Pamarayan tidak dapat di lakukan evaluasi serta follow up karena tidak
ada tindakan remedial ataupun referral.
Kasus 2 : Martajani, siswa kelas XI IPS 2 yang paling banyak ketidakhadirannya di dalam kelas.
Martajani
di kenal seorang yang pendiam oleh teman-temannya. Dia semakin terkenal karena
menjadi raja absen di kelas. Terakhir kali hadir ketika mengikuti Ujian
Semester pertama. Banyak teman-temannya yang tidak tahu alasan Martajani sering
bolos sekolah, namun ada juga teman dekatnya Martajani yang mengatakan bahwa
dia sibuk bekerja jadi tidak masuk sekolah. Ketika saya menanyakan hal ini
kepada wali kelas, beliau mengatakan memang iya bahwa Martajani itu sibuk
bekerja hingga melupakan sekolahnya, namun masih ada kemauan dalam diri
Martajani sehingga dia tetap masuk ketika ujian akhir semester pertama kemarin.
Pak Kahfi tak tinggal diam, beliau sudah melakukan segala cara yang terbaik
agar Martajani tetap bisa meraih cita-citanya.
Adapun
layanan bimbingan belajar yang pak Kahfi lakukan sebagai berikut.
1) Identifikasi Kasus
Pak
Kahfi mendapati kasus Martajani ini sejak awal semester masuk kelas XI. Nama
Martajani sering tercatat di absensi kelas.
2) Identifikasi Masalah
Masalah
atau letak kesulitan belajarnya sudah jelas, bahwa Martajani sering absen di
sekolah.
3) Diagnosis
Pak
Kahfi mendatangi rumah Martajani kemudian mewawancarai Martajani beserta
ibunya. Ibu Martajani juga menginginkan bahwa anaknya tetap bersekolah dan
meraih cita-citanya, namun Martajani sendiri yang memilih jalan untuk bekerja.
Dia tidak tega terhadap ibunya yang sudah tua jika harusnya bekerja sendiri.
Martajani adalah seorang anak yatim, sehingga terpaksa dia menjadi kepala
keluarga di rumahnya karena merupakan anak laki-laki satu-satunya. Namun, ketika
Martajani ditanya perihal sekolahnya, dia menjawab akan selalu mengusahakan
untuk pergi sekolah jika memang memungkinkan. Buktinya, dia masih beritikad
baik untuk mengikuti ujian akhir semester. Jadi, diagnosis dari masalah
Martajani adalah karena keadaan atau kondisi keluarganya.
4) Prognosis
Pak
Kahfi menyarankan Martajani untuk belajar dengan temannya jika sudah ada waktu
luang. Beberapa kali pak Kahfi sudah melaporkan hal ini dengan guru BK di
sekolah tersebut. Sekolah tidak tega jika mimpi Martajani harus dihentikan
sekarang. Pada akhirnya, Martajani mau belajar dengan teman-temannya di kala
dia sudah selesai bekerja dan sesekali datang ke rumah pak Kahfi untuk mengejar
ketertinggalan.
5) Remedial atau Referral
Pengajaran
remedial pun sering guru berikan kepada Martajani di kala dia masuk sekolah.
6) Evaluasi dan Follow Up
Pengajaran
remedial dan saran pak Kahfi agar Martajani belajar dengan teman-temannya untuk
mengejar ketertinggalan terbukti cukup ampuh. Nilai UAS Martajani mampu
mencapai KKM yang ditargetkan oleh guru.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Bimbingan belajar merupakan suatu
bantuan yang dapat diberikan oleh seseorang yang telah terdidik (guru) kepada
peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. prosedur pelayanan bimbingan
belajar ini terdiri dari identifikasi kasus, identifikasi masalah, diagnosis,
prognosis, remedial atau referral dan evaluasi serta follow up.
Kasus kesulitan belajar di kelas XI
IPS 2 SMAN 1 Pamarayan diantaranya nilai rata-rata kelas tersebut dibawah
rata-rata kelas lainnya, serta Martajani yang merupakan raja absen dikelasnya.
Dan hanya kasus Martajani saja yang baru mendapat pelayanan bimbingan belajar
oleh guru dan wali kelas di sekolah tersebut.
Saran
Hendaknya
guru lebih teliti dan perhatian terhadap proses belajar peserta didiknya,
sehingga semua kasus kesulitan belajar dapat diketahui dan dicari proses
penyembuhannya.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/6709676/Konsep_Dasar_Bimbingan_Belajar
(diakses pada tanggal 24 Mei pukul 15.16 WIB)
Makmun,
Abin Syamsudin. 2009. Psikologi
Kependidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar