Jumat, 30 Mei 2014

Makalah Diagnotis Kesulitan Belajar

Makalah Bimbingan Peseta Didik dan Psikologi Pendidikan
“Diagnotis Kesulitan Belajar”
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Bimbingan Peserta Didik dan Psikologi Pendidikan


logo fkip untrita.jpg






Di susun oleh :
Kelompok 12
Kelas 2 B
Nia Alfitriyani
Raisha Irena
Sri Astuti Febianti


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

2014

KATA PENGANTAR


Dengan segala kerendahan hati, Penulis ucapkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa Pengasih lagi Maha Penyayang yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis telah diberikan kekuatan untuk menyelesaikan penyusunan makalah Bimbingan Peserta Didik dan Psikologi Pendidikan dengan judul “Diagnotis Kesulitan Belajar”.
Penulisan makalah ini ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bimbingan Peserta Didik dan Psikologi Pendidikan semester 2 (dua) Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang harus diserahkan sebagai tugas pokok mata kuliah tersebut.
Penulis menyadari sepenuhnya dalam penyusunan maupun dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan bagi makalah yang baik. Namun berkat bantuan arahan, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Sebagai ungkapan rasa syukur maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dan terlibat dalam penyusunan makalah ini.











DAFTAR ISI









BAB I

PENDAHULUAN


Latar Belakang Masalah

Belajar merupakan tugas utama siswa, di samping tugas-tugas yang lain. Keberhasilan dalam belajar bukan hanya diharapkan oleh siswa yang bersangkutan, tetapi juga oleh orang tua, guru, dan juga masyarakat. Tentu saja yang diharapkan bukan hanya berhasil, tetapi berhasil secara optimal. Untuk itu diperlukan persyaratan yang memadai, yaitu persyaratan psikologis, biologis, material, dan lingkungan sosial yang kondusif.
Tetapi tidak semua siswa dapat mencapai keberhasilan dalam belajarnya. Hal ini bisa dipengaruhi  oleh latar belakang siswa tersebut maupun hal lainnya. Beberapa wujud ketidak berhasilan siswa dalam belajar yaitu : memperoleh nilai jelek untuk sebagian atau seluruh mata pelajaran, tidak naik kelas, putus sekolah (dropout), dan tidak lulus ujian akhir. Dampaknya kurangnya rasa percaya diri pada siswa tersebut. Oleh karena itu upaya mencegah atau setidak tidaknya meminimalkan, dan juga memecahkan kesulitan belajar melalui diagnosis kesulitan belajar siswa merupakan kegiatan yang perlu dilaksanakan.
Dunia pendidikan mengartikan diagnosis kesulitan belajar sebagai segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar. Juga mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar serta cara menetapkan dan kemungkinan mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang seobyektif mungkin.  Dengan demikian, semua kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menemukan kesulitan belajar termasuk kegiatan diagnosa.





Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian diagnosis kesulitan belajar?
2.      Bagaimana cara mengidentifikasi kasus kesulitan belajar?
3.      Apa saja faktor penyebab kesulitan belajar?
4.      Bagaimana cara memecahkan atau mengatasi kesulitan belajar?

Tujuan

1.      Untuk mengetahui pengertian diagnosis kesulitan belajar
2.      Untuk mengetahui cara mengidentifikasi kasus kesulitan belajar
3.      Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kesulitan belajar
4.      Untuk mengetahui cara memecahkan masalah kesulitan belajar














BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar

Menurut Thorndike dan Hagen diagnosis merupakan upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang saksama mengenai gejala-gejalanya.[1]
Banyak ilmuan yang memberikan pengertian tentang diagnotis selain pengertian di atas. Contohnya ada satu lagi pengertian tentang diagnotis, yaitu bahwa diagnotis adalah keputusan atau penentuan mengenai hasil dari pengolahan data tentang siswa yang mengalami kesulitan belajar dan jenis kesulitan yang di alami siswa.[2]
Di dalam pekerjaan diagnostic bukan hanya sekedar mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.
Sedangkan kesulitan belajar pertama kali didefinisikan dan dikemukakan oleh The United States Office of Education (USEO) pada tahun 1977 yang dikenal dengan Public Law (PL) 94- 142, yang hampir identik dengan definisi yang dikemukakan oleh The Bational Advisory Commite on Handicapped Children pada tahun 1967. Defines tersebut seperti dikutip oleh Hallahan, Kauffman, dan Lloyd (1985 : 14) seperti berikut ini.
Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan.gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung. Batasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti gangguan perceptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan tersebut tidak mencakup anak-anak yang memiliki problema belajar yang penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihatan, pendengaran, atau motorik, hambatan karena tunagrahita, karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi.[3]
Seorang siswa yang dipandang mengalami kesulitan belajar jika yang bersangkutan menunjukkan kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Burton mendefinisikan kegagalan belajar tersebut sebagai berikut.
Siswa dikatakan gagal apabila :
·         Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan minimal dalam pelajaran tertentu, seperti yang telah ditetapkan oleh orang dewasa atau guru. Kasus ini digolongkan ke dalam Lower Group.
·         Yang bersangkutan tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya berdasarkan tingkat kemampuannya. Kasus ini digolongkan ke dalam under archievers.
·         Yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial sesuai dengan pola organismiknya pada fase perkembangan tertentu, seperti yang berlaku bagi kelompok sosial dan usia yang berangkutan. Kasus siswa ini digolongkan ke dalam slow learners
·         Yang bersangkutan tidak dapat berhasil mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya. Kasus siswa ini di golongkan ke dalam slow learners atau immature (belum matang).[4]
Dengan mengaitkan pengertian-pengertian tentang diagnotis dan kesulitan belajar, maka dapat diambil kesimpulan bahwa diagnotis kesulitan belajar adalah suatu proses upaya untuk memahami jenis dan karakteristik serta latar belakang kesulitan-kesulitan belajar dengan menghimpun dan mempergunakan berbagai data atau informasi selengkap dan seobjektif mungkin sehingga memungkinkan untuk mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternatif kemungkinan pemecahannya.

Klasifikasi Kesulitan Belajar

Secara garis besar kesulitan belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok:
1.      Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan
Mencakup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial.

2.      Kesulitan belajar akademik
Menunjuk pada adanya kegagalan-kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan-kegagalan tersebut mencakup penguasaan keterampilan dalam membaca, menulis, dan/atau matematika.[5]

Prosedur dan Teknik Diagnotistik Kesulitan Belajar

Ross dan Stanley menggariskan tahapan-tahapan diagnosis itu sebagai berikut.
1.      Who are the pupils having trouble? (Siapa-siapa siswa yang mengalami gangguan?)
2.      Where are the errors located? (Di manakah kelemahan-kelemahan itu dapat dilokalisasikan?)
3.      Why are the errors occur? (Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi?)
4.      What remedies are suggested? (Penyembuhan-penyembuhan apakah yang disarankan?)
5.      How can errors be prevented? (Bagaimana kelemahan itu dapat dicegah?)
Dari pernyataan tersebut, tampak bahwa keempat langkah yang pertama dari diagnosis itu merupakan usaha perbaikan atau penyembuhan. Sedangkan langkah yang kelima merupakan usaha pencegahan.
Burton menggariskan agak lain, yaitu berdasarkan kepada teknik dan instrument yang digunakan dalam pelaksanaannya sebagai berikut.
1.      General diagnosis.
Pada tahap ini lazim dipergunakan tes baku, seperti yang dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar. Sasarannya, untuk menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu.
2.      Analystic diagnostic
Pada tahap ini yang lazimnya digunakan ialah tes diagnostic. Sasarannya, untuk mengetahui dimana letak kelemahan tersebut.
3.      Psychological diagnostic
Pada tahap ini teknik pendekatan dan instrument yang digunakan adalah :
(a)    Observasi
(b)   Analisis karya tulis
(c)    Analisis proses dan respons lisan
(d)   Analisis berbagai catatan objektif
(e)    Wawancara
(f)    Pendekatan laboratories dan klinis
(g)   Studi kasus
Sasaran diagnotis pada langkah ini pada dasarnya ditujukan untuk memahami karakteristik dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan.[6]
Menurut Samuel A. Krik dan dalam isi buku Akta Mengajar V bahwa prosedur dan prinsip pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar yang meupakan bagian sangat penting sebelum pengajran remedial diberikan. Menurutnya, prosedur diagnosis itu terdiri dari 7 prosedur yang harus ditegakkan adalah sebagai berikut.
1.      Identifikasi
Sekolah yang ingin menyelanggarakan program pengajaran remedial yang sistematis hendaknya melakukan identifikasi untuk menentukan anak-anak yang memerlukan atau berpotensi memerlukan pelayanan pengajaran remedial.
2.      Menentukan prioritas
Tidak semua anak yang oleh sekolah dinyatakan sebagai berkesulitan belajar memerlukan pelayanan khusus oleh guru remedial, lebih-lebih jika guru remedial masih sangat terbatas. Anak-anak berkesulitan belajar yang tergolong berat mungkin perlu memperoleh priorotas utama untuk memperoleh pelayanan pengajaran remedial yang sistematis dari guru khusus remedial.
3.      Menentukan potensi
Setelah identifikasi anak berkesulitan belajar, maka untuk menentukan potensi anak diperlukan tes intelegensi. Yang dapat digolongkan ke dalam anak berkesulitan belajar adalah yang memiliki sekor IQ rata-rata atau lebih, yaitu paling rendah sekor IQ 90.
4.      Menentukan penguasaan bidang studi yang perlu diremediasi
Salah satu karakteristik anak berkesulitan belajar adalah prestasi belajar yang jauh di bawah kapasitas intelegensinya. Oleh karena itu, guru remedial perlu memiliki data tentang prestasi belajar anak dan membandingkan prestasi belajar tersebut dengan tarap intelegensinya.
5.      Menentukan gejala kesulitan
Pada langkah ini guru remedial perlu melakukan observasi dan analisis cara anak belajar. Cara anak mempelajari suatu bidang studi sering dapat memerikan informasi diagnostic tentang sumber penyebab orisinal dari suatu kesulitan.
6.      Analisis berbagai faktor yang terkait
Pada langkah ini guru remedial perlu melakukan analisis terhadap hasil-hasil pemeriksaan ahli-ahli lain seperti psikolog, dokter, konselor, dan pekerja sosial. Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil pemeriksaan berbagai bidang keahlian dan mengaitkan mereka dengan hasil observasi yang dilakukan sendiri, guru remedial dapat menegakkan suatu diagnosis yang diharapkan dpat digunakan sebagai landasan dalam menentukan strategi pengajaran remedial yang efektif dan efisien.
7.      Menyusun rekomendasi untuk pengajaran remedial
Berdasarkan hasil diagnosis yang secara cermat ditegakkan, guru remedial dapat menyusun suatu rekomendasi penyelenggaraan program pengajaran remedial bagi seorang anak berkesulitan belajar.[7]
Perbedaan pokok antara prosedur diagnotis kesulitan belajar dengan bimbingan belajar adalah terletak pada hasil akhirnya. Output dari layanan bimbingan berupa perubahan pada diri siswa setelah menjalani tindakan penyembuhan. Sedangkan hasil akhir dari layanan diagnotis kesulitan belajar baru sampai pada rekomendasi tentang kemungkinan alternative tindakan penyembuhan.

Prinsip Diagnosis

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru bagi anak berkesulitan belajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
1.      Terarah pada perumusan metode perbaikan.  Diagnosis hendaknya mengumpulkan berbagai informasi yang bermanfaat untuk menyusun suatu program perbaikan atau program pengajaran remedial. Ada dua tipe diagnosis, diagnosis etiologis dan diagnosis terapetik. Diagnosis etiologis merupakan diagnosis yang bertujuan untuk mengetahui sumber penyebab orisinal dari kesulitan belajar. Diagnosis ini umumnya kurang bermanfaat untuk merumuskan program pengajaran remedial. Yang kedua adalah dianogis terapetik yaitu diagnosis yang berkaitan langsung dengan kondisi anak pada saat sekarang dan sangat bermanfaat untuk menyusun program pengajaran remedial. Diagnosis ini berusaha untuk mengumpulkan informasi tentang kekuatan, keterbatasan, dan karakteristik lingkungan anak saat sekarang. Informasi tentang lingkungan anak sangat penting untuk landasan tindakan korektif sebelum pengajaran remedial dilakukan.
2.      Diagnosis harus efisien. Diagnosis kesulitan belajar sering berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Hal semacam ini dapat menjemukan, sehingga dapat berpengaruh buruk terhadap motivasi belajar anak. Diagnosis seharusnya berlangsung sesuai derajat kesulitan anak.
3.      Penggunaan catatan kumulatif. Catatan semacam ini dapat memberikan informasi yang sangat berharga dala pengajaran remedial. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai landasan untuk menentukan pengelompokkan yang sesuai dengan tingkat kesulitan belajar anak.
4.      Valid dan reliable. Dalam melakukan diagnosis hendaknya digunakan instrument yang dapat mengukur apa yang seharusnya diukur dan instrument tersebut hendaknya juga yang dapat diandalkan. Informasi yang dikumpulkan hendaknya hanya yang tepat, yang dapat dijadikan landasan dalam menentukan program pengajaran remedial. Penggunaan berbagai tes yang tidak bermanfaar hendaknya dihindari karena hanya akan menjemukan anak.
5.      Penggunaan tes baku. Tes baku adalah tes yang telah di kalibrasi, yaitu tes yang telah teruji validitas dan realibilitasnya. Berbagai tes psikologis, terutama tes intelegensi, umumnya merupakan tes baku yang telah diuji validitas dan realibilitasnya. Tetapi, tidak demikian halnya dengan tes prestasi yang belajar yang umumnya buatan guru. Di Negara kita tes prestasi belajar yang baku masih merupakan barang langka, lebih-lebih yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kesulitan belajar. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena menyusun tes baku lebih sulit dan memerlukan biaya tinggi bila dibandingkan dengan tes hasil belajar biasa.
6.      Penggunaan prosedur informal. Meskipun tes-tes baku umumnya mampu memberikan informasi yang lebih tepat dan efisien, penggunaan prosedur informal sering memberikan manfaat yang bermakna. Guru hendaknya memiliki perasaan bebas untuk melakukan evaluasi dan tidak terlalu terikat secara kaku oleh tes baku. Di Negara yang masih belum banyak dikembangkan tes baku, hasil observasi guru memegang peranan yang sangat penting untuk menegakkan diagnosis kesulitan belajar anak. Dari obsorvasi informal sering dapat diperoleh informasi yang bermanfaat bagi penyusunan program pengajaran remedial.
7.      Kuantitatif. Keputusan-keputusan dalam diagnosis kesulitan belajar hendaknya didasarkan pada pola-pola sekor dalam bentuk angka. Bila informasi tentang kesulitan belajar telah dikumpulkan, maka informasi tersebut harus disusun sedemikian rupa sehingga sekor-sekor dapat dibandingkan. Hal ini sangat berguna untuk mengetahui kesenjangan antara potensi dengan prestasi belajar anak saat pengajaran remedial akan dimulai. Informasi yang kuantitif juga memungkinkan bagi guru untuk mengetahui keberhasilan pengajaran remedial yang diberikan kepada anak.
8.      Diagnosis dilakukan secara berkesinambungan. Kadang-kadang anak gagal mencapai tujuan pengajaran remedial yang telah dikembangkan berdasarkan hasil diagnosis. Dalam keadaan semacam ini perlu dilakukan diagnosis ulang untuk landasan penyusunan program pengajaran remedial yang lebih efektif dan efisien. Suatu program pengajaran remedial yang berhasil pun, mungkin masih perlu dimodifikasi untuk memperoleh tingkat efektivitas dan efisiensi yang lebih tinggi. Dengan demikian, diagnosis dilakukan secara berkesinambungan untuk memperbaiki atau meningkatkan efektivitas dan efesiensi program pengajaran remedial.[8]










Pendekatan operasional diagnostic kesulitan belajar.
 




















Mengidentifikasi Kasus Kesulitan Belajar

Identifikasi adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar, identifikasi ini dapat dilakukan dengan : (a) menandai dan menemukan siapakah kasus yang diduga mengalami kesulitan belajar: dan (b) menemukan di mana letak kesulitan belajar itu dan mengidentifikasikan bagaimana karakteristik dari kesulitan tersebut.
·         Menandai Siswa yang Diduga Mengalami Kesulitan Belajar
1.      Penggunaan Catatan Waktu Belajar Efektif
Dalam lembaga pendidikan tertentu, untuk bidang studi tertentu, dan oleh guru tertentu, telah mulai diadakan pencatatan waktu yang efektif digunakan oleh siswanya dalam memecahkan soal atau mengerjakan tugas tertentu. Dalam konteks kelas, lazimnya waktu dialokasikan untuk tiap bidang studi dan tiap jam pelajaran tersebut 40-50 menit. Dengan membandingkan durasi dan frekuensi siswa itu secara kelompok dengan jalan membuat rangking, mulai dari mereka yang paling lambat atau paling sering terlambat dalam penyelesaian soal-soal atau tugas-tugas, kita akan mudah menemukan kasus-kasus yang diduga mengalami kesulitan belajar, berdasarkan indicator keterlambatannya tersebut.
2.      Penggunaan Catatan Kehadiran (Presensi) dan Ketidakhadiran (Absensi)
Frekuensi ketidakhadiran ini merupakan indicator berharga untuk menandai siswa-siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar. Dengan membuat rangking mulai dari paling banyak angka ketidakhadirannya, kita mudah menemukan siapa-siapa siswa yang dapat dijadikan kasus. Kemungkinan relevansi frekuensi ketidakhadiran ini akan tampak dengan kualifikasi prestasinya.
3.      Penggunaan Catatan atau Bagan Partisipasi
Dalam bidang studi tertentu dimana sangat diutamakan penguasaan keterampilan komunikasi dan interaksi sosial dalam menyumbangkan pikiran, menyanggah, menjawab dengan argumentasi tertentu, catatan partisipasi itu amat berharga. Dengan menghitung frekuensi pembicaraan dengan segala kualifikasinya, kita akan memperoleh gambaran berapa banyak aktivitas atau kontribusi serta partisipasi siswa dalam kelompok. Dengan memperhatikan angka-angka frekuensi tersebut, kita dapat menandai siswa mana yang aktif, kontributif, akomodatif, atau pasif saja.
4.      Penggunaan Catatan dan Bagan Sosiometrik
Dalam bidang studi tertentu juga siswa kadang-kadang dituntut untuk bekerja sama dalam kelompoknya. Salah satu kondisi yang perlu ada untuk bekerja sama dalam konteks ini ialah saling menerima, saling percaya, dan saling menyenangi di antara sesawa anggotanya dan juga dengan pemimpinnya. Oleh karena itu, catatan atau gambaran tentang kondisi ini amat penting, dimana siswa yang satu memilih atau dipilih atau tidak memilih dan/atau tidak dipilih oleh siswa lain. Dari daftar frekuensi pilihan sosiogramnya, kita dapat mengetahui siswa mana yang paling disenangi dan yang mana pula yang paling terisolasi (tiada yang memilih sama sekali).
·         Melokalisasikan Letak Kesulitan (Permasalahan)
1.      Mendeteksi Kesulitan Belajar pada Bidang Studi Tertentu.
Dengan cara membandingkan nilai prestasi individu yang bersangkutan. dari semua bidang studi yang diikutinya atau angka nilai rata-rata prestasi dari setiap bidang studi kalau kebetulan kasusnya adalah kelas maka dengan mudah kita akan menemukan pada bidang studi manakah individu atau kelas itu mengalami kesulitan.
2.      Mendeteksi pada Kawasan Tujuan Belajar dan Bagian Ruang lingkup Bahan Pelajaran Manakah Kesulitan Terjadi
Pada langkah ini pendekatan yang paling tepat seyogianya menggunakan tes diagnostic. Dalam keadaan belum tersedia tes diagnostic yang khusus dipersiapkan untuk keperluan ini, maka analisis masih tetap dapat dilangsungkan dengan menggunakan naskah jawaban tes ulangan umum atau semesteran, misalnya.
3.      Analisis Terhadap Catatan Mengenai Proses Belajar
Hasil analisis empiris terhadap catatan keterlambatan penyelesaian soal/tugas, ketidakhadiran, kurang aktif dalam partisipasi, kurang penyesuaian sosial sudah cukup jelas menunjukkan posisi dari kasus-kasus yang bersangkutan dalam analisis tentang latar belakang atau sebab-sebabnya. Sebagai catatan umum, kedua langkah diatas dapat ditepuh dengan beberapa strategi pendekatan, antara lain :
(a)    Dalam konteks sistem intruksional yang konvensional, pelaksanaan pengumpulan informasi dalam rangka mengidentifikasi kasus dan permasalahan ini dapat ditempuh dengan dua cara :
(1)   Diintegrasikan dengan kegiatan instruksional. Khususnya dalam pelaksanaan evaluasi reflektif, formatif, dan sumatif, atau dengan desain pre-post test yang kesemuanya dapat dikaitkan dengan tujuan-tujuan dan fungsi-fungsi diagnostic, asalkan semua data dan informasi yang diperlukan dapat didokumentasikan secara tertib.
(2)   Dilakukan secara khusus, dimana test diagnostic dapat diadministrasikan sewaktu-waktu, sesuai dengan keperluan; data dan informasi hasil test diagnostic sudah barang tentu merupakan bahan yang paling tepat untuk keperluan ini.
(b)   Dalam konteks sistem intruksional yang inovatif, sebenarnya pekerjaan diagnostic ini sudah merupakan hal yang inherent dengan sistem dan program instruksional sendiri, misalnya :
(1)   Dalam sistem pengajaran berprograma, khususnya yang menggunakan mesin belajar-mengajar atau sistem pengajaran berbantuan computer, pada hakikatna proses belajar-mengajar merupakan suatu rangkaian diagnostic-remedial, dimana kalau siswa salah memilih suatu alternative jawaban maka secara otomatis akan memperoleh respons salah benarnya performance belajar siswa. Kalau jawaban itu benar dapat dilanjutkan dengan program berikutnya, tetapi kalau jawabannya salah atau keliru, ia harus segera memperbaikinya.
(2)   Begitu pula dalam pengajaran modul dimana unit demi unit atau modul demi modul hanya dapat diteruskan dengan modul berikutnya setelah mendapat umpan balik dari pekerjaan pada setiap modul atau unit. Kalau unit atau modul itu telah dikerjakan dengan tuntas barulah dapat dimulai dengan kelanjutannya. Namun, kalau ternyata terdapat beberapa kesalahan, yang harus dikerjakan terlebih dahulu adalah program remedial sebagai koreksi terhadap program aslinya, sebelum diperkenankan melanjutkan atau memiliki alternative lain sebagai program pengayaan.

Mengidentifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar

1.      Faktor Internal
(a)    Kelemahan secara fisik, seperti :
·         Suatu pusat sususan syaraf tidak berkembang secara sempurna karena luka atau cacat, atau sakit sehingga sering membawa gangguan emosional;
·         Pancaindera mungking berkembang kurang sempurna atau sakit sehingga menyulitkan proses interaksi secara efektif
·         Ketidakseimbangan perkembangan dan reproduksi serta berfungsinya kelenjar-kelenjar tubuh sering membawa kelainan-kelainan perilaku
·         Cacat tubuh atau pertumbuhan yang kurang sempurna, organ dan anggota-anggota badan sering pula membawa ketidakstabilan mental dan emosional
·         Penyakit menahun menghambat usaha-usaha belajar secara optimal
(b)   Kelemahan-kelemahan secara mental, seperti :
·         Kelemahan mental (taraf kecerdasannya kurang)
·         Tampaknya seperti kelemahan mental, tetapi sebenarnya kurang minat, kebimbangan, kurang usaha, aktivitas yang tidak terarah, kurang semangat, kurang menguasai keterampilan, dan kebiasaan fundamental dalam belajar.
(c)    kelemahan-kelemahan emosional, antara lain :
·         terdapatnya rasa tidak aman
·         penyesuaian yang salah terhadap orang-orang, situasi, dan tuntutan-tuntutan tugas dan lingkungan
·         tercekam rasa phobia, mekanisme pertahanan diri
·         ketidakmatangan
(d)   kelemahan-kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap-sikap yang salah, antara lain :
·         tidak menentu dan kurang menaruh minat terhadap pekerjaan-pekerjaan sekolah
·         banyak melakukan aktivitas yang bertentangan dan tidak menunjang pekerjaan sekolah, menolak atau malas belajar
·         kurang berani dan gagal untuk berusaha memusatkan perhatian
·         kurang kooperatif dan menghindari tanggungjawab
·         malas, tak bernafsu untuk belajar
·         sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran
·         nervous
(e)    tidak memiliki keterampilan-keterampilan dan pengetahuan dasar yang tidak diperlukan, seperti :
·         ketidakmampuan membaca, menghitung, kurang menguasai pengetahuan dasar untuk suatu bidang studi yang sedang diikutinya secara sekuensial, kurang menguasai bahasa
·         memiliki kebiasaan belajar dan cara bekerja yang salah
2.      Faktor Eksternal
(a)    Kurikulum yang seragam, bahan dan buku sumber yang tidak sesuai dengan tingkat-tingkat kematangan dan perbedaan-perbedaan individu
(b)   Ketidaksesuaian standar administrative, penilaian, pengelolaan kegiatan dan pengalaman belajar-mengajar, dsb.
(c)    Terlalu berat beban belajar dan atau/mengajar
(d)   Terlalu besar populasi siswa dalam kelas, terlalu banyak menuntut kegiatan di luar, dsb.
(e)    Terlalu sering pindah sekolah atau program, tinggal kelas, dll.
(f)    Kelemahan dari sistem belajar-mengajar pada tingkat-tingkat pendidikan sebelumnya
(g)   Kelemahan yang terdapat dalam kondisi rumah tangga
(h)   Terlalu banyak kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat dalam kegiatan ekstrakulikuler
(i)     Kekurangan makan
Bruner dan bruner yang melakukan studi terhadap masalah putus sekolah di Indonesia, dari segi tinjauan antrophologis ternyata menemukan kelemahan-kelemahan cultural dan fundamental, antara lain :
(a)    Pandangan masyarakat yang salah terhadap pendidikan
(b)   Falsafah hidup yang cepat puas, tidak memiliki motif berprestasi
(c)    Tradisi hidup sosial dan ekonomi yang terbelakang
Jika kasus yang mengalami kelemahan adalah kelompok siswa secara keseluruhan, besar kemugkinan kelemahan itu bukan bersumber pada kelemahan siswa secara individual. Diantara sumber yang paling mungkin dari kelemahan itu, antara lain: kondisi sekolah, manajemen kelas, dan letak sekolah.
Jika kasus itu berupa individu-individu siswa mengalami kelemahan dalam bidang studi tertentu atau secara keseluruhan atau sebagian besar prestasinya, mungkin bersumber pada kelemahan dasar intelektual, emosional, kebiasaan belajar, perlakuan guru terhadapnya, dsb.[9]

Mengambil Kesimpulan dan Membuat Rekomendasi Pemecahannya

Langkah yang akan ditempuh dengan cara menjawab beberapa pertanyaan berikut ini:
a. Apakah peserta didik masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya?
b. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan peserta didik?
c. Kapan dan dimana pertolongan dapat diberikan kepada peserta didik?
d. Siapa yang dapat memberikan pertolongan?
Kemudian langkah selanjutnya adalah menentukan bantuan atau usaha penyembuhan yang diperlukan peserta didik Selanjutnya rencana pemberian bantuan harus disesuaikan dengan jenis kesulitan yang dialami peserta didik.  Bantuan dapat diberikan melalui program remedial atau pengajaran perbaikan, layanan bimbingan dan konseling, program referal yaitu mengirimkan peserta didik kepada ahli yang berkompeten dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik.
Setelah merekomendasikan bantuan apa yang akan diberikan kepada siswa yang berkesulitan belajar, langkah terakhir dapat berupa kegiatan-kegiatan sebagai  berikut :
a. Memberikan pertolongan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, sebagai penerapan program bantuan yang telah ditetapkan pada langkah sebelumnya
b. Melibatkan berbagai pihak yang dipandang dapat memberikan pertolongan kepada peserta didik
c. Mengikuti perkembangan peserta didik dan mengadakan evaluasi terhadap bantuan yang telah diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki kesalahan atau ketidaktepatan bantuan yang diberikan
d. Melakukan referral kepada ahli lain yang berkompeten dalam menangani kesulitan yang dialami peserta didik.[10]
Berbagai masalah anak kesulitan belajar secara umum menyangkut kemampuan akademik dasar seperti calistung (membaca,menulis, dan berhitung). Hal ini menyebabkan anak kesulitan belajar sulit untuk diidentifikasi hingga mereka masuk sekolah dan mengalami masalah prestasi akademis. Tanda anak yang mengidap kesulitan belajar antara lain:
a.       Perkembangan terlambat
Secara performance anak yang jauh tertinggal dengan teman seusianya menjadi indikator adanya kelainan perkembangan pada anak berkesulitan belajar. Perkembangan ini menyangkut keterlambatan berbahasa, misal: sulit mengerti kata -kata, sulitberbicara sesuai dengan anak sebayanya. Keterlambatan ini juga bisa dilihat dari proses pertumbuhanya, seperti terlambat berjalan atau terlambat berdiri. Hal lain, ketertinggalan dalam memahami arah,mengenal bentuk huruf, pelafalan kata atau hitungan. Hasil studi menunjukan anak yang terlambat perkembangannya juga mengalami keterlambatan di sekolah.
b.      Penampilan tak konsisten.
Anak kesulitan belajar mampu melakukan soal matematika dari guru saat ini, tapi jika mendapat soal itu pada pekan depan ia takmampu untuk menyelesaikannya. Kesulitan ini diprediksi karenakemampuan mengingatnya. Ketidak-konsisten anak kesulitan belajar juga bisa berupa tulisan yang jelek namun hasil lukisanya bagus, danbisa juga, lebih bisa mengerjakan sesuatu dengan baik di rumahdaripada di sekolah.
c.       Kehilangan minat belajar
Sebenarnya anak kesulitan belajar suka belajar, namun antusiamenya kian berkurang begitu masuk sekolah karenamengalami gangguan pemrosesan informasi yang butuh daya ingatdan pengorganisasian informasi dalam jumlah besar. Tanda tandayang bisa dilihat dengan jelas: suka menunda-nunda pekerjaan, sepertimengerjakan tugas belum selesai dan mengatakan akanmengerjakannya di sekolah.
d.      Tak mencapai prestasi seperti yang diharapkan
Adanya kesenjangan antara potensi dan prestasi yangditunjukan anak dapat menjadi ciri utama bagi yang mengalamikesulitan belajar. Misal, anak 8 tahun kelas tiga SD, dengan IQ 139 dengan kemampuanya bisa menguasai materi kelas 4 bahkan kelas 5.hambatan ini disebabkan ketidakmampuan belajar mandiri.
e.       Masalah tingkah laku yang menetap
Anak kesulitan belajar umumnya mempunyai masalah perilaku. Masalah perilaku ini, seperti cepat mengambek dan marah.Anak yang mengalami kesulitan persepsi visual dan bahasa akan sulitmemahami dan mengingat informasi, sehingga sering terke san sukardiatur dan kasar. Tingkah laku ini tentunya tidak disadari oleh anak.Kesulitan muncul saat anak masuk sekolah, karena sekolah secarainten menuntutnya berperilaku baik. Di sekolah mungkin ia berhasilmengendalikan diri, namun di rumah ada peruba han mood yangmencolok. Hal ini yang menyebabkan anak learning disabilitiessering dianggap keras kepala, malas, tak peka, tak bertanggung jawab,dan tak mau bekerja sama.
f.       Kurangnya kepercayaan diri dan harga diri
Anak sering menggangap dirinya bodoh karena tak dapatmeraih prestasi yang baik di sekolah, tak dapat memenuhi harapanorang tua, tak dapat diterima kelompok. Adanya rendah diri ini akanmenurunkan motivasi akademis mereka. Anak kesulitan belajar rentan terhadap situasi yang membuat mereka muda h putus asa dan berhentimencoba ( learned helpess).
Menurut Sutjihati Somantri, tidak ada seperangkat karakteristikyang baku pada anak kesulitan belajar, sebagian mungkin menunjuk padaaspek kognitif, dengan masalah-masalah khusus seperti membaca,berhitung, dan bahkan berfikir. Masalah lain bisa jadi berupa pada aspeksosial, seperti hubungan dengan orang lain, konsep diri, dan perilakuperilaku yang tak layak. Sementara yang lainya mungkin bermasalah pada aspek berbahasa, baik berupa kesulitan mengekspre sikan diri secara lisanmaupun tertulis, atau dalam psikomotorik.
Menurut Ahmad Sudrajat kesulitan belajar dimanifestasikan dalamperilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif.
Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar,antara lain:
a) Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
b)    Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yangdiperolehnya selalu rendah
c)     Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalutertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
d)   Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh,menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.e. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti: membolos, datangterlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalamatau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teraturdalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
e)    Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti: pemurung,mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalammenghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilairendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.[11]




BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dari pembahasan makalah diatas dapat di simpulkan bahwa Diganosis kesulitan belajar merupakan suatu prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar. Sebagai prosedur maka diagnosis kesulitan belajar terdiri dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis.
Tahapan-tahapan diagnosis kesulitan belajar adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
a.       Who are the pupils having trouble ? (Siapa siswa yang mengalami gangguan ?)
b.      Where are the errors located ? (Di manakah kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilokalisasikan ?)
c.       Why are the errors occur ? (Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi ?)
d.      What are remedies are suggested? (Penyembuhan apa saja yang disarankan?)
e.       How can errors be prevented ? (Bagaimana kelemahan-kelemahan itu dapat dicegah ?)
Dalam hal peran bk dalam mengatasi anak kesulitan belajar, melalui pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan siswa dapat mengalami perkembangan yang optimal baik secara akademis, psikologis dan sosial. Perkembangan yang optimal secara akademis diharapkan peserta didik mampu mencapai prestasi belajar yang baik dan optimal sesuai dengan kemampuan, perkembangan yang optimal ditandai dengan perkembangan kesehatan yang memadai, sedangkan perkembang optimal dari segi sosial bertujuan agar setiap peserta didik dapat mencapai penyesuaian diri dan memiliki kemampuan sosial yang optimal. Sehingga melihat kenyataan yang ada di lingkungan kita sekarang tentunya bimbingan dan konseling sangat diperlukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan belajar siswa, sehingga siswa dapat meperoleh prestasi yang baik. Dengan perolehan prestasi yang baik maka tujuan pendidikan nasional akan tercapai, dan juga dapat berguna bagi kehidupan sehari-hari yang bahagia dengan ilmu-ilmu yang dimilikinya.


DAFTAR PUSTAKA


Andurrahman,Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : Bineka Cipta.

Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.

Makmun, Abin Syamsuddin.2009. Psikologi Kependidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Galih Nugroho. 2013. http://galihnoegroho.blogspot.com/2013/04/makalah-diagnosis-kesulitan-belajar.html (Diakses pada tanggal 29 Maret 2014 pukul 13.08 WIB)

Shandy. 2010. http://shandy07.files.wordpress.com/2010/12/makalah-diagnosis-kesulitan-belajar.pdf (Diakses pada tanggal 29 Maret 2014 pukul 13.20 WIB)






[1] Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009) 377 hlm.
[2] Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung : Alfabeta, 2010)244 hlm.
[3] Mulyono Andurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta : Bineka Cipta, 2003)292 hlm.
[4] Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009) 377 hlm.
[5] Mulyono Andurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta : Bineka Cipta, 2003)292 hlm.

[6] Ibid. hlm 310.
[7] Mulyono Andurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta : Bineka Cipta, 2003)292 hlm.
[8] Ibid hlm 23.
[9] Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009) 377 hlm.

[10] Diakses dari internet (http://shandy07.files.wordpress.com/2010/12/makalah-diagnosis-kesulitan-belajar.pdf)
[11] Diakses dari internet (http://galihnoegroho.blogspot.com/2013/04/makalah-diagnosis-kesulitan-belajar.html)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar