Makalah
Bimbingan Peseta Didik dan Psikologi Pendidikan
“Diagnotis
Kesulitan Belajar”
Makalah ini disusun
untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Bimbingan Peserta Didik dan
Psikologi Pendidikan

Di
susun oleh :
Kelompok
12
Kelas
2 B
Nia
Alfitriyani
Raisha
Irena
Sri
Astuti Febianti
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN
ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2014
KATA PENGANTAR
Dengan
segala kerendahan hati, Penulis ucapkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha
Esa Pengasih lagi Maha Penyayang yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis telah diberikan kekuatan untuk menyelesaikan penyusunan makalah
Bimbingan Peserta Didik dan Psikologi Pendidikan dengan judul “Diagnotis
Kesulitan Belajar”.
Penulisan
makalah ini ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bimbingan
Peserta Didik dan Psikologi Pendidikan semester 2 (dua) Pendidikan Biologi,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang
harus diserahkan sebagai tugas pokok mata kuliah tersebut.
Penulis
menyadari sepenuhnya dalam penyusunan maupun dalam penulisan makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan bagi makalah yang baik. Namun berkat bantuan arahan,
akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Sebagai ungkapan rasa syukur maka
pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh
pihak yang telah membantu dan terlibat dalam penyusunan makalah ini.
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Belajar merupakan tugas utama siswa, di samping tugas-tugas
yang lain. Keberhasilan dalam belajar bukan hanya diharapkan oleh siswa yang
bersangkutan, tetapi juga oleh orang tua, guru, dan juga masyarakat. Tentu saja
yang diharapkan bukan hanya berhasil, tetapi berhasil secara optimal. Untuk itu
diperlukan persyaratan yang memadai, yaitu persyaratan psikologis, biologis,
material, dan lingkungan sosial yang kondusif.
Tetapi tidak semua siswa dapat mencapai keberhasilan dalam
belajarnya. Hal ini bisa dipengaruhi
oleh latar belakang siswa tersebut maupun hal lainnya. Beberapa wujud
ketidak berhasilan siswa dalam belajar yaitu : memperoleh nilai jelek untuk
sebagian atau seluruh mata pelajaran, tidak naik kelas, putus sekolah (dropout), dan tidak lulus ujian akhir.
Dampaknya kurangnya rasa percaya diri pada siswa tersebut. Oleh karena itu
upaya mencegah atau setidak tidaknya meminimalkan, dan juga memecahkan
kesulitan belajar melalui diagnosis kesulitan
belajar siswa merupakan kegiatan yang perlu dilaksanakan.
Dunia
pendidikan mengartikan diagnosis kesulitan belajar sebagai segala usaha yang
dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar. Juga
mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar serta cara
menetapkan dan kemungkinan mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan)
maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang
seobyektif mungkin. Dengan demikian, semua kegiatan yang dilakukan oleh
guru untuk menemukan kesulitan belajar termasuk kegiatan diagnosa.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian diagnosis kesulitan belajar?
2. Bagaimana cara mengidentifikasi kasus kesulitan belajar?
3. Apa saja faktor penyebab kesulitan belajar?
4. Bagaimana cara memecahkan atau mengatasi kesulitan belajar?
Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian diagnosis kesulitan belajar
2. Untuk mengetahui cara mengidentifikasi kasus kesulitan
belajar
3. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kesulitan belajar
4. Untuk mengetahui cara memecahkan masalah kesulitan belajar
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Diagnosis
Kesulitan Belajar
Menurut Thorndike dan Hagen diagnosis merupakan upaya atau
proses menemukan kelemahan atau penyakit apa yang dialami seseorang dengan
melalui pengujian dan studi yang saksama mengenai gejala-gejalanya.[1]
Banyak ilmuan yang memberikan pengertian tentang diagnotis
selain pengertian di atas. Contohnya ada satu lagi pengertian tentang
diagnotis, yaitu bahwa diagnotis adalah keputusan atau penentuan mengenai hasil
dari pengolahan data tentang siswa yang mengalami kesulitan belajar dan jenis
kesulitan yang di alami siswa.[2]
Di dalam pekerjaan diagnostic bukan hanya sekedar
mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu
kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya
untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.
Sedangkan kesulitan belajar pertama kali didefinisikan dan
dikemukakan oleh The United States Office
of Education (USEO) pada tahun 1977 yang dikenal dengan Public Law (PL) 94- 142, yang hampir
identik dengan definisi yang dikemukakan oleh The Bational Advisory Commite on Handicapped Children pada tahun
1967. Defines tersebut seperti dikutip oleh Hallahan, Kauffman, dan Lloyd (1985
: 14) seperti berikut ini.
Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu
atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan
bahasa ujaran atau tulisan.gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam
bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja,
atau berhitung. Batasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti gangguan
perceptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan
tersebut tidak mencakup anak-anak yang memiliki problema belajar yang penyebab
utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihatan, pendengaran, atau
motorik, hambatan karena tunagrahita, karena gangguan emosional, atau karena
kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi.[3]
Seorang siswa yang dipandang mengalami kesulitan belajar jika
yang bersangkutan menunjukkan kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan
belajarnya. Burton mendefinisikan kegagalan belajar tersebut sebagai berikut.
Siswa dikatakan gagal apabila :
·
Dalam batas waktu
tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau
tingkat penguasaan minimal dalam pelajaran tertentu, seperti yang telah
ditetapkan oleh orang dewasa atau guru. Kasus ini digolongkan ke dalam Lower
Group.
·
Yang bersangkutan tidak
dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya berdasarkan tingkat
kemampuannya. Kasus ini digolongkan ke dalam under archievers.
·
Yang bersangkutan tidak
dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial sesuai
dengan pola organismiknya pada fase perkembangan tertentu, seperti yang berlaku
bagi kelompok sosial dan usia yang berangkutan. Kasus siswa ini digolongkan ke
dalam slow learners
·
Yang bersangkutan tidak
dapat berhasil mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat
bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya. Kasus siswa ini di golongkan
ke dalam slow learners atau immature (belum matang).[4]
Dengan mengaitkan pengertian-pengertian tentang diagnotis dan
kesulitan belajar, maka dapat diambil kesimpulan bahwa diagnotis kesulitan
belajar adalah suatu proses upaya untuk memahami jenis dan karakteristik serta
latar belakang kesulitan-kesulitan belajar dengan menghimpun dan mempergunakan
berbagai data atau informasi selengkap dan seobjektif mungkin sehingga
memungkinkan untuk mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternatif
kemungkinan pemecahannya.
Klasifikasi
Kesulitan Belajar
Secara garis besar kesulitan belajar dapat diklasifikasikan
ke dalam dua kelompok:
1. Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan
Mencakup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar
bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial.
2. Kesulitan belajar akademik
Menunjuk pada adanya kegagalan-kegagalan pencapaian prestasi
akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan-kegagalan
tersebut mencakup penguasaan keterampilan dalam membaca, menulis, dan/atau matematika.[5]
Prosedur dan Teknik
Diagnotistik Kesulitan Belajar
Ross dan Stanley menggariskan tahapan-tahapan diagnosis itu
sebagai berikut.
1. Who are the pupils having trouble? (Siapa-siapa siswa yang
mengalami gangguan?)
2. Where are the errors located? (Di manakah kelemahan-kelemahan
itu dapat dilokalisasikan?)
3. Why are the errors occur? (Mengapa kelemahan-kelemahan itu
terjadi?)
4. What remedies are suggested? (Penyembuhan-penyembuhan apakah
yang disarankan?)
5. How can errors be prevented? (Bagaimana kelemahan itu dapat
dicegah?)
Dari pernyataan tersebut, tampak bahwa keempat langkah yang
pertama dari diagnosis itu merupakan usaha perbaikan atau penyembuhan.
Sedangkan langkah yang kelima merupakan usaha pencegahan.
Burton menggariskan agak lain, yaitu berdasarkan kepada
teknik dan instrument yang digunakan dalam pelaksanaannya sebagai berikut.
1. General diagnosis.
Pada tahap ini lazim dipergunakan tes baku, seperti yang
dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar.
Sasarannya, untuk menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan
tertentu.
2. Analystic diagnostic
Pada tahap ini yang lazimnya digunakan ialah tes diagnostic.
Sasarannya, untuk mengetahui dimana letak kelemahan tersebut.
3. Psychological diagnostic
Pada tahap ini teknik pendekatan dan instrument yang
digunakan adalah :
(a) Observasi
(b) Analisis karya tulis
(c) Analisis proses dan respons lisan
(d) Analisis berbagai catatan objektif
(e) Wawancara
(f) Pendekatan laboratories dan klinis
(g) Studi kasus
Sasaran diagnotis pada langkah ini pada dasarnya ditujukan
untuk memahami karakteristik dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
kesulitan.[6]
Menurut Samuel A. Krik dan dalam isi buku Akta Mengajar V
bahwa prosedur dan prinsip pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar yang
meupakan bagian sangat penting sebelum pengajran remedial diberikan.
Menurutnya, prosedur diagnosis itu terdiri dari 7 prosedur yang harus
ditegakkan adalah sebagai berikut.
1. Identifikasi
Sekolah yang ingin menyelanggarakan program pengajaran
remedial yang sistematis hendaknya melakukan identifikasi untuk menentukan
anak-anak yang memerlukan atau berpotensi memerlukan pelayanan pengajaran
remedial.
2. Menentukan prioritas
Tidak semua anak yang oleh sekolah dinyatakan sebagai
berkesulitan belajar memerlukan pelayanan khusus oleh guru remedial,
lebih-lebih jika guru remedial masih sangat terbatas. Anak-anak berkesulitan
belajar yang tergolong berat mungkin perlu memperoleh priorotas utama untuk
memperoleh pelayanan pengajaran remedial yang sistematis dari guru khusus
remedial.
3. Menentukan potensi
Setelah identifikasi anak berkesulitan belajar, maka untuk
menentukan potensi anak diperlukan tes intelegensi. Yang dapat digolongkan ke
dalam anak berkesulitan belajar adalah yang memiliki sekor IQ rata-rata atau
lebih, yaitu paling rendah sekor IQ 90.
4. Menentukan penguasaan bidang studi yang perlu diremediasi
Salah satu karakteristik anak berkesulitan belajar adalah
prestasi belajar yang jauh di bawah kapasitas intelegensinya. Oleh karena itu,
guru remedial perlu memiliki data tentang prestasi belajar anak dan
membandingkan prestasi belajar tersebut dengan tarap intelegensinya.
5. Menentukan gejala kesulitan
Pada langkah ini guru remedial perlu melakukan observasi dan
analisis cara anak belajar. Cara anak mempelajari suatu bidang studi sering
dapat memerikan informasi diagnostic tentang sumber penyebab orisinal dari
suatu kesulitan.
6. Analisis berbagai faktor yang terkait
Pada langkah ini guru remedial perlu melakukan analisis
terhadap hasil-hasil pemeriksaan ahli-ahli lain seperti psikolog, dokter, konselor,
dan pekerja sosial. Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil pemeriksaan
berbagai bidang keahlian dan mengaitkan mereka dengan hasil observasi yang
dilakukan sendiri, guru remedial dapat menegakkan suatu diagnosis yang
diharapkan dpat digunakan sebagai landasan dalam menentukan strategi pengajaran
remedial yang efektif dan efisien.
7. Menyusun rekomendasi untuk pengajaran remedial
Berdasarkan hasil diagnosis yang secara cermat ditegakkan,
guru remedial dapat menyusun suatu rekomendasi penyelenggaraan program
pengajaran remedial bagi seorang anak berkesulitan belajar.[7]
Perbedaan pokok antara prosedur diagnotis kesulitan belajar
dengan bimbingan belajar adalah terletak pada hasil akhirnya. Output dari
layanan bimbingan berupa perubahan pada diri siswa setelah menjalani tindakan
penyembuhan. Sedangkan hasil akhir dari layanan diagnotis kesulitan belajar
baru sampai pada rekomendasi tentang kemungkinan alternative tindakan
penyembuhan.
Prinsip Diagnosis
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru bagi
anak berkesulitan belajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
1. Terarah pada perumusan metode perbaikan. Diagnosis hendaknya mengumpulkan berbagai
informasi yang bermanfaat untuk menyusun suatu program perbaikan atau program
pengajaran remedial. Ada dua tipe diagnosis, diagnosis etiologis dan diagnosis
terapetik. Diagnosis etiologis merupakan diagnosis yang bertujuan untuk
mengetahui sumber penyebab orisinal dari kesulitan belajar. Diagnosis ini
umumnya kurang bermanfaat untuk merumuskan program pengajaran remedial. Yang
kedua adalah dianogis terapetik yaitu diagnosis yang berkaitan langsung dengan
kondisi anak pada saat sekarang dan sangat bermanfaat untuk menyusun program
pengajaran remedial. Diagnosis ini berusaha untuk mengumpulkan informasi tentang
kekuatan, keterbatasan, dan karakteristik lingkungan anak saat sekarang.
Informasi tentang lingkungan anak sangat penting untuk landasan tindakan
korektif sebelum pengajaran remedial dilakukan.
2. Diagnosis harus efisien. Diagnosis kesulitan belajar sering
berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Hal semacam ini dapat menjemukan,
sehingga dapat berpengaruh buruk terhadap motivasi belajar anak. Diagnosis
seharusnya berlangsung sesuai derajat kesulitan anak.
3. Penggunaan catatan kumulatif. Catatan semacam ini dapat
memberikan informasi yang sangat berharga dala pengajaran remedial. Informasi
tersebut dapat digunakan sebagai landasan untuk menentukan pengelompokkan yang
sesuai dengan tingkat kesulitan belajar anak.
4. Valid dan reliable. Dalam melakukan diagnosis hendaknya
digunakan instrument yang dapat mengukur apa yang seharusnya diukur dan
instrument tersebut hendaknya juga yang dapat diandalkan. Informasi yang
dikumpulkan hendaknya hanya yang tepat, yang dapat dijadikan landasan dalam
menentukan program pengajaran remedial. Penggunaan berbagai tes yang tidak
bermanfaar hendaknya dihindari karena hanya akan menjemukan anak.
5. Penggunaan tes baku. Tes baku adalah tes yang telah di
kalibrasi, yaitu tes yang telah teruji validitas dan realibilitasnya. Berbagai
tes psikologis, terutama tes intelegensi, umumnya merupakan tes baku yang telah
diuji validitas dan realibilitasnya. Tetapi, tidak demikian halnya dengan tes
prestasi yang belajar yang umumnya buatan guru. Di Negara kita tes prestasi
belajar yang baku masih merupakan barang langka, lebih-lebih yang dapat
digunakan untuk mendiagnosis kesulitan belajar. Hal ini mungkin disebabkan oleh
karena menyusun tes baku lebih sulit dan memerlukan biaya tinggi bila
dibandingkan dengan tes hasil belajar biasa.
6. Penggunaan prosedur informal. Meskipun tes-tes baku umumnya
mampu memberikan informasi yang lebih tepat dan efisien, penggunaan prosedur
informal sering memberikan manfaat yang bermakna. Guru hendaknya memiliki
perasaan bebas untuk melakukan evaluasi dan tidak terlalu terikat secara kaku
oleh tes baku. Di Negara yang masih belum banyak dikembangkan tes baku, hasil
observasi guru memegang peranan yang sangat penting untuk menegakkan diagnosis
kesulitan belajar anak. Dari obsorvasi informal sering dapat diperoleh
informasi yang bermanfaat bagi penyusunan program pengajaran remedial.
7. Kuantitatif. Keputusan-keputusan dalam diagnosis kesulitan
belajar hendaknya didasarkan pada pola-pola sekor dalam bentuk angka. Bila
informasi tentang kesulitan belajar telah dikumpulkan, maka informasi tersebut
harus disusun sedemikian rupa sehingga sekor-sekor dapat dibandingkan. Hal ini
sangat berguna untuk mengetahui kesenjangan antara potensi dengan prestasi
belajar anak saat pengajaran remedial akan dimulai. Informasi yang kuantitif
juga memungkinkan bagi guru untuk mengetahui keberhasilan pengajaran remedial
yang diberikan kepada anak.
8. Diagnosis dilakukan secara berkesinambungan. Kadang-kadang
anak gagal mencapai tujuan pengajaran remedial yang telah dikembangkan
berdasarkan hasil diagnosis. Dalam keadaan semacam ini perlu dilakukan
diagnosis ulang untuk landasan penyusunan program pengajaran remedial yang
lebih efektif dan efisien. Suatu program pengajaran remedial yang berhasil pun,
mungkin masih perlu dimodifikasi untuk memperoleh tingkat efektivitas dan
efisiensi yang lebih tinggi. Dengan demikian, diagnosis dilakukan secara
berkesinambungan untuk memperbaiki atau meningkatkan efektivitas dan efesiensi
program pengajaran remedial.[8]
Pendekatan
operasional diagnostic kesulitan belajar.
![]() |
Mengidentifikasi Kasus Kesulitan Belajar
Identifikasi
adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk menemukan siswa yang mengalami
kesulitan belajar, identifikasi ini dapat dilakukan dengan : (a) menandai dan
menemukan siapakah kasus yang diduga mengalami kesulitan belajar: dan (b)
menemukan di mana letak kesulitan belajar itu dan mengidentifikasikan bagaimana
karakteristik dari kesulitan tersebut.
·
Menandai Siswa yang Diduga Mengalami
Kesulitan Belajar
1. Penggunaan
Catatan Waktu Belajar Efektif
Dalam
lembaga pendidikan tertentu, untuk bidang studi tertentu, dan oleh guru
tertentu, telah mulai diadakan pencatatan waktu yang efektif digunakan oleh
siswanya dalam memecahkan soal atau mengerjakan tugas tertentu. Dalam konteks
kelas, lazimnya waktu dialokasikan untuk tiap bidang studi dan tiap jam
pelajaran tersebut 40-50 menit. Dengan membandingkan durasi dan frekuensi siswa
itu secara kelompok dengan jalan membuat rangking, mulai dari mereka yang paling
lambat atau paling sering terlambat dalam penyelesaian soal-soal atau
tugas-tugas, kita akan mudah menemukan kasus-kasus yang diduga mengalami
kesulitan belajar, berdasarkan indicator keterlambatannya tersebut.
2. Penggunaan
Catatan Kehadiran (Presensi) dan Ketidakhadiran (Absensi)
Frekuensi
ketidakhadiran ini merupakan indicator berharga untuk menandai siswa-siswa yang
diduga mengalami kesulitan belajar. Dengan membuat rangking mulai dari paling
banyak angka ketidakhadirannya, kita mudah menemukan siapa-siapa siswa yang
dapat dijadikan kasus. Kemungkinan relevansi frekuensi ketidakhadiran ini akan
tampak dengan kualifikasi prestasinya.
3. Penggunaan
Catatan atau Bagan Partisipasi
Dalam
bidang studi tertentu dimana sangat diutamakan penguasaan keterampilan komunikasi
dan interaksi sosial dalam menyumbangkan pikiran, menyanggah, menjawab dengan
argumentasi tertentu, catatan partisipasi itu amat berharga. Dengan menghitung
frekuensi pembicaraan dengan segala kualifikasinya, kita akan memperoleh
gambaran berapa banyak aktivitas atau kontribusi serta partisipasi siswa dalam
kelompok. Dengan memperhatikan angka-angka frekuensi tersebut, kita dapat
menandai siswa mana yang aktif, kontributif, akomodatif, atau pasif saja.
4. Penggunaan
Catatan dan Bagan Sosiometrik
Dalam
bidang studi tertentu juga siswa kadang-kadang dituntut untuk bekerja sama
dalam kelompoknya. Salah satu kondisi yang perlu ada untuk bekerja sama dalam
konteks ini ialah saling menerima, saling percaya, dan saling menyenangi di
antara sesawa anggotanya dan juga dengan pemimpinnya. Oleh karena itu, catatan
atau gambaran tentang kondisi ini amat penting, dimana siswa yang satu memilih
atau dipilih atau tidak memilih dan/atau tidak dipilih oleh siswa lain. Dari
daftar frekuensi pilihan sosiogramnya, kita dapat mengetahui siswa mana yang
paling disenangi dan yang mana pula yang paling terisolasi (tiada yang memilih
sama sekali).
·
Melokalisasikan Letak Kesulitan
(Permasalahan)
1. Mendeteksi
Kesulitan Belajar pada Bidang Studi Tertentu.
Dengan
cara membandingkan nilai prestasi individu yang bersangkutan. dari semua bidang
studi yang diikutinya atau angka nilai rata-rata prestasi dari setiap bidang
studi kalau kebetulan kasusnya adalah kelas maka dengan mudah kita akan
menemukan pada bidang studi manakah individu atau kelas itu mengalami
kesulitan.
2. Mendeteksi
pada Kawasan Tujuan Belajar dan Bagian Ruang lingkup Bahan Pelajaran Manakah
Kesulitan Terjadi
Pada
langkah ini pendekatan yang paling tepat seyogianya menggunakan tes diagnostic.
Dalam keadaan belum tersedia tes diagnostic yang khusus dipersiapkan untuk
keperluan ini, maka analisis masih tetap dapat dilangsungkan dengan menggunakan
naskah jawaban tes ulangan umum atau semesteran, misalnya.
3. Analisis
Terhadap Catatan Mengenai Proses Belajar
Hasil
analisis empiris terhadap catatan keterlambatan penyelesaian soal/tugas,
ketidakhadiran, kurang aktif dalam partisipasi, kurang penyesuaian sosial sudah
cukup jelas menunjukkan posisi dari kasus-kasus yang bersangkutan dalam
analisis tentang latar belakang atau sebab-sebabnya. Sebagai catatan umum,
kedua langkah diatas dapat ditepuh dengan beberapa strategi pendekatan, antara
lain :
(a) Dalam
konteks sistem intruksional yang konvensional, pelaksanaan pengumpulan
informasi dalam rangka mengidentifikasi kasus dan permasalahan ini dapat
ditempuh dengan dua cara :
(1) Diintegrasikan
dengan kegiatan instruksional. Khususnya dalam pelaksanaan evaluasi reflektif,
formatif, dan sumatif, atau dengan desain pre-post test yang kesemuanya dapat
dikaitkan dengan tujuan-tujuan dan fungsi-fungsi diagnostic, asalkan semua data
dan informasi yang diperlukan dapat didokumentasikan secara tertib.
(2) Dilakukan
secara khusus, dimana test diagnostic dapat diadministrasikan sewaktu-waktu,
sesuai dengan keperluan; data dan informasi hasil test diagnostic sudah barang
tentu merupakan bahan yang paling tepat untuk keperluan ini.
(b) Dalam
konteks sistem intruksional yang inovatif, sebenarnya pekerjaan diagnostic ini
sudah merupakan hal yang inherent dengan sistem dan program instruksional
sendiri, misalnya :
(1) Dalam
sistem pengajaran berprograma, khususnya yang menggunakan mesin
belajar-mengajar atau sistem pengajaran berbantuan computer, pada hakikatna
proses belajar-mengajar merupakan suatu rangkaian diagnostic-remedial, dimana
kalau siswa salah memilih suatu alternative jawaban maka secara otomatis akan
memperoleh respons salah benarnya performance belajar siswa. Kalau jawaban itu
benar dapat dilanjutkan dengan program berikutnya, tetapi kalau jawabannya
salah atau keliru, ia harus segera memperbaikinya.
(2) Begitu
pula dalam pengajaran modul dimana unit demi unit atau modul demi modul hanya
dapat diteruskan dengan modul berikutnya setelah mendapat umpan balik dari
pekerjaan pada setiap modul atau unit. Kalau unit atau modul itu telah
dikerjakan dengan tuntas barulah dapat dimulai dengan kelanjutannya. Namun,
kalau ternyata terdapat beberapa kesalahan, yang harus dikerjakan terlebih
dahulu adalah program remedial sebagai koreksi terhadap program aslinya,
sebelum diperkenankan melanjutkan atau memiliki alternative lain sebagai
program pengayaan.
Mengidentifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
1. Faktor
Internal
(a) Kelemahan
secara fisik, seperti :
·
Suatu pusat sususan syaraf tidak
berkembang secara sempurna karena luka atau cacat, atau sakit sehingga sering
membawa gangguan emosional;
·
Pancaindera mungking berkembang kurang
sempurna atau sakit sehingga menyulitkan proses interaksi secara efektif
·
Ketidakseimbangan perkembangan dan
reproduksi serta berfungsinya kelenjar-kelenjar tubuh sering membawa
kelainan-kelainan perilaku
·
Cacat tubuh atau pertumbuhan yang kurang
sempurna, organ dan anggota-anggota badan sering pula membawa ketidakstabilan
mental dan emosional
·
Penyakit menahun menghambat usaha-usaha
belajar secara optimal
(b) Kelemahan-kelemahan
secara mental, seperti :
·
Kelemahan mental (taraf kecerdasannya
kurang)
·
Tampaknya seperti kelemahan mental,
tetapi sebenarnya kurang minat, kebimbangan, kurang usaha, aktivitas yang tidak
terarah, kurang semangat, kurang menguasai keterampilan, dan kebiasaan
fundamental dalam belajar.
(c) kelemahan-kelemahan
emosional, antara lain :
·
terdapatnya rasa tidak aman
·
penyesuaian yang salah terhadap
orang-orang, situasi, dan tuntutan-tuntutan tugas dan lingkungan
·
tercekam rasa phobia, mekanisme
pertahanan diri
·
ketidakmatangan
(d) kelemahan-kelemahan
yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap-sikap yang salah, antara lain :
·
tidak menentu dan kurang menaruh minat
terhadap pekerjaan-pekerjaan sekolah
·
banyak melakukan aktivitas yang
bertentangan dan tidak menunjang pekerjaan sekolah, menolak atau malas belajar
·
kurang berani dan gagal untuk berusaha
memusatkan perhatian
·
kurang kooperatif dan menghindari
tanggungjawab
·
malas, tak bernafsu untuk belajar
·
sering bolos atau tidak mengikuti
pelajaran
·
nervous
(e) tidak
memiliki keterampilan-keterampilan dan pengetahuan dasar yang tidak diperlukan,
seperti :
·
ketidakmampuan membaca, menghitung,
kurang menguasai pengetahuan dasar untuk suatu bidang studi yang sedang
diikutinya secara sekuensial, kurang menguasai bahasa
·
memiliki kebiasaan belajar dan cara
bekerja yang salah
2. Faktor
Eksternal
(a) Kurikulum
yang seragam, bahan dan buku sumber yang tidak sesuai dengan tingkat-tingkat
kematangan dan perbedaan-perbedaan individu
(b) Ketidaksesuaian
standar administrative, penilaian, pengelolaan kegiatan dan pengalaman
belajar-mengajar, dsb.
(c) Terlalu
berat beban belajar dan atau/mengajar
(d) Terlalu
besar populasi siswa dalam kelas, terlalu banyak menuntut kegiatan di luar,
dsb.
(e) Terlalu
sering pindah sekolah atau program, tinggal kelas, dll.
(f) Kelemahan
dari sistem belajar-mengajar pada tingkat-tingkat pendidikan sebelumnya
(g) Kelemahan
yang terdapat dalam kondisi rumah tangga
(h) Terlalu
banyak kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat
dalam kegiatan ekstrakulikuler
(i) Kekurangan
makan
Bruner
dan bruner yang melakukan studi terhadap masalah putus sekolah di Indonesia,
dari segi tinjauan antrophologis ternyata menemukan kelemahan-kelemahan
cultural dan fundamental, antara lain :
(a) Pandangan
masyarakat yang salah terhadap pendidikan
(b) Falsafah
hidup yang cepat puas, tidak memiliki motif berprestasi
(c) Tradisi
hidup sosial dan ekonomi yang terbelakang
Jika
kasus yang mengalami kelemahan adalah kelompok siswa secara keseluruhan, besar
kemugkinan kelemahan itu bukan bersumber pada kelemahan siswa secara
individual. Diantara sumber yang paling mungkin dari kelemahan itu, antara
lain: kondisi sekolah, manajemen kelas, dan letak sekolah.
Jika
kasus itu berupa individu-individu siswa mengalami kelemahan dalam bidang studi
tertentu atau secara keseluruhan atau sebagian besar prestasinya, mungkin
bersumber pada kelemahan dasar intelektual, emosional, kebiasaan belajar,
perlakuan guru terhadapnya, dsb.[9]
Mengambil Kesimpulan dan Membuat Rekomendasi Pemecahannya
Langkah
yang akan ditempuh dengan cara menjawab beberapa pertanyaan berikut ini:
a.
Apakah peserta didik masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya?
b.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan peserta didik?
c.
Kapan dan dimana pertolongan dapat diberikan kepada peserta didik?
d.
Siapa yang dapat memberikan pertolongan?
Kemudian
langkah selanjutnya adalah menentukan bantuan atau usaha penyembuhan yang
diperlukan peserta didik Selanjutnya rencana pemberian bantuan harus
disesuaikan dengan jenis kesulitan yang dialami peserta didik. Bantuan dapat diberikan melalui program remedial
atau pengajaran perbaikan, layanan bimbingan dan konseling, program referal
yaitu mengirimkan peserta didik kepada ahli yang berkompeten dalam mengatasi
kesulitan belajar peserta didik.
Setelah
merekomendasikan bantuan apa yang akan diberikan kepada siswa yang berkesulitan
belajar, langkah terakhir dapat berupa kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a.
Memberikan pertolongan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar,
sebagai penerapan program bantuan yang telah ditetapkan pada langkah sebelumnya
b.
Melibatkan berbagai pihak yang dipandang dapat memberikan pertolongan kepada
peserta didik
c.
Mengikuti perkembangan peserta didik dan mengadakan evaluasi terhadap bantuan
yang telah diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki kesalahan atau
ketidaktepatan bantuan yang diberikan
d.
Melakukan referral kepada ahli lain yang berkompeten dalam menangani kesulitan
yang dialami peserta didik.[10]
Berbagai
masalah anak kesulitan belajar secara umum menyangkut kemampuan akademik dasar
seperti calistung (membaca,menulis, dan berhitung). Hal ini menyebabkan anak
kesulitan belajar sulit untuk diidentifikasi hingga mereka masuk sekolah dan
mengalami masalah prestasi akademis. Tanda anak yang mengidap kesulitan belajar
antara lain:
a. Perkembangan terlambat
Secara
performance anak yang jauh tertinggal dengan teman seusianya menjadi indikator
adanya kelainan perkembangan pada anak berkesulitan belajar. Perkembangan ini
menyangkut keterlambatan berbahasa, misal: sulit mengerti kata -kata,
sulitberbicara sesuai dengan anak sebayanya. Keterlambatan ini juga bisa
dilihat dari proses pertumbuhanya, seperti terlambat berjalan atau terlambat
berdiri. Hal lain, ketertinggalan dalam memahami arah,mengenal bentuk huruf, pelafalan
kata atau hitungan. Hasil studi menunjukan anak yang terlambat perkembangannya
juga mengalami keterlambatan di sekolah.
b. Penampilan tak konsisten.
Anak
kesulitan belajar mampu melakukan soal matematika dari guru saat ini, tapi jika
mendapat soal itu pada pekan depan ia takmampu untuk menyelesaikannya.
Kesulitan ini diprediksi karenakemampuan mengingatnya. Ketidak-konsisten anak
kesulitan belajar juga bisa berupa tulisan yang jelek namun hasil lukisanya
bagus, danbisa juga, lebih bisa mengerjakan sesuatu dengan baik di
rumahdaripada di sekolah.
c. Kehilangan minat belajar
Sebenarnya
anak kesulitan belajar suka belajar, namun antusiamenya kian berkurang begitu
masuk sekolah karenamengalami gangguan pemrosesan informasi yang butuh daya
ingatdan pengorganisasian informasi dalam jumlah besar. Tanda tandayang bisa
dilihat dengan jelas: suka menunda-nunda pekerjaan, sepertimengerjakan tugas
belum selesai dan mengatakan akanmengerjakannya di sekolah.
d. Tak mencapai prestasi seperti yang
diharapkan
Adanya
kesenjangan antara potensi dan prestasi yangditunjukan anak dapat menjadi ciri
utama bagi yang mengalamikesulitan belajar. Misal, anak 8 tahun kelas tiga SD,
dengan IQ 139 dengan kemampuanya bisa menguasai materi kelas 4 bahkan kelas
5.hambatan ini disebabkan ketidakmampuan belajar mandiri.
e. Masalah tingkah laku yang menetap
Anak
kesulitan belajar umumnya mempunyai masalah perilaku. Masalah perilaku ini,
seperti cepat mengambek dan marah.Anak yang mengalami kesulitan persepsi visual
dan bahasa akan sulitmemahami dan mengingat informasi, sehingga sering terke
san sukardiatur dan kasar. Tingkah laku ini tentunya tidak disadari oleh
anak.Kesulitan muncul saat anak masuk sekolah, karena sekolah secarainten
menuntutnya berperilaku baik. Di sekolah mungkin ia berhasilmengendalikan diri,
namun di rumah ada peruba han mood yangmencolok. Hal ini yang menyebabkan anak
learning disabilitiessering dianggap keras kepala, malas, tak peka, tak
bertanggung jawab,dan tak mau bekerja sama.
f. Kurangnya kepercayaan diri dan harga
diri
Anak
sering menggangap dirinya bodoh karena tak dapatmeraih prestasi yang baik di
sekolah, tak dapat memenuhi harapanorang tua, tak dapat diterima kelompok.
Adanya rendah diri ini akanmenurunkan motivasi akademis mereka. Anak kesulitan
belajar rentan terhadap situasi yang membuat mereka muda h putus asa dan
berhentimencoba ( learned helpess).
Menurut
Sutjihati Somantri, tidak ada seperangkat karakteristikyang baku pada anak
kesulitan belajar, sebagian mungkin menunjuk padaaspek kognitif, dengan
masalah-masalah khusus seperti membaca,berhitung, dan bahkan berfikir. Masalah
lain bisa jadi berupa pada aspeksosial, seperti hubungan dengan orang lain,
konsep diri, dan perilakuperilaku yang tak layak. Sementara yang lainya mungkin
bermasalah pada aspek berbahasa, baik berupa kesulitan mengekspre sikan diri
secara lisanmaupun tertulis, atau dalam psikomotorik.
Menurut
Ahmad Sudrajat kesulitan belajar dimanifestasikan dalamperilakunya, baik aspek
psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif.
Beberapa
perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar,antara lain:
a) Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata
nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang
dimilikinya.
b) Hasil yang dicapai tidak seimbang
dengan usaha yang telah dilakukan.Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat
belajar, tapi nilai yangdiperolehnya selalu rendah
c) Lambat dalam melakukan tugas-tugas
kegiatan belajarnya dan selalutertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang
disediakan.
d) Menunjukkan sikap-sikap yang tidak
wajar, seperti: acuh tak acuh,menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.e.
Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti: membolos, datangterlambat,
tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalamatau pun di luar kelas,
tidak mau mencatat pelajaran, tidak teraturdalam kegiatan belajar, dan
sebagainya.
e) Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti:
pemurung,mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalammenghadapi
situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilairendah, tidak menunjukkan
perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.[11]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan makalah diatas dapat
di simpulkan bahwa Diganosis kesulitan belajar merupakan suatu
prosedur dalam memecahkan kesulitan belajar. Sebagai prosedur maka diagnosis
kesulitan belajar terdiri dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis.
Tahapan-tahapan
diagnosis kesulitan belajar adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan sebagai
berikut.
a. Who are the pupils having trouble ? (Siapa siswa yang mengalami
gangguan ?)
b. Where are the errors located
? (Di manakah kelemahan-kelemahan tersebut dapat
dilokalisasikan ?)
c. Why are the errors occur ? (Mengapa
kelemahan-kelemahan itu terjadi ?)
d. What are remedies are suggested? (Penyembuhan apa saja yang
disarankan?)
e. How can errors be prevented ? (Bagaimana kelemahan-kelemahan
itu dapat dicegah ?)
Dalam hal peran bk dalam mengatasi
anak kesulitan belajar, melalui pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan
siswa dapat mengalami perkembangan yang optimal baik secara akademis,
psikologis dan sosial. Perkembangan yang optimal secara akademis diharapkan
peserta didik mampu mencapai prestasi belajar yang baik dan optimal sesuai
dengan kemampuan, perkembangan yang optimal ditandai dengan perkembangan
kesehatan yang memadai, sedangkan perkembang optimal dari segi sosial bertujuan
agar setiap peserta didik dapat mencapai penyesuaian diri dan memiliki
kemampuan sosial yang optimal. Sehingga melihat kenyataan yang ada di
lingkungan kita sekarang tentunya bimbingan dan konseling sangat diperlukan
untuk mengatasi kesulitan-kesulitan belajar siswa, sehingga siswa dapat
meperoleh prestasi yang baik. Dengan perolehan prestasi yang baik maka tujuan
pendidikan nasional akan tercapai, dan juga dapat berguna bagi kehidupan
sehari-hari yang bahagia dengan ilmu-ilmu yang dimilikinya.
DAFTAR PUSTAKA
Andurrahman,Mulyono.
2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan
Belajar. Jakarta : Bineka Cipta.
Aunurrahman.
2010. Belajar dan Pembelajaran.
Bandung : Alfabeta.
Makmun,
Abin Syamsuddin.2009. Psikologi
Kependidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Galih Nugroho. 2013. http://galihnoegroho.blogspot.com/2013/04/makalah-diagnosis-kesulitan-belajar.html
(Diakses pada tanggal 29 Maret 2014 pukul 13.08 WIB)
Shandy.
2010. http://shandy07.files.wordpress.com/2010/12/makalah-diagnosis-kesulitan-belajar.pdf
(Diakses pada tanggal 29 Maret 2014 pukul 13.20 WIB)
[1]
Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi
Kependidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009) 377 hlm.
[2]
Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran,
(Bandung : Alfabeta, 2010)244 hlm.
[3]
Mulyono Andurrahman, Pendidikan Bagi Anak
Berkesulitan Belajar, (Jakarta : Bineka Cipta, 2003)292 hlm.
[4]
Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi
Kependidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009) 377 hlm.
[5]
Mulyono Andurrahman, Pendidikan Bagi Anak
Berkesulitan Belajar, (Jakarta : Bineka Cipta, 2003)292 hlm.
[6]
Ibid. hlm 310.
[7]
Mulyono Andurrahman, Pendidikan Bagi Anak
Berkesulitan Belajar, (Jakarta : Bineka Cipta, 2003)292 hlm.
[8]
Ibid hlm 23.
[9]
Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi
Kependidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009) 377 hlm.
[10]
Diakses dari internet (http://shandy07.files.wordpress.com/2010/12/makalah-diagnosis-kesulitan-belajar.pdf)
[11]
Diakses dari internet (http://galihnoegroho.blogspot.com/2013/04/makalah-diagnosis-kesulitan-belajar.html)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar