Aku tahu tak ada keindahan yang menandingi goresan pena sang Tuhan.. Jalan hidupku, Kau buat sedemikian indahnya. Bukakan mataku, hingga aku menyadari keindahan itu, meski harus diawali air mata, berikan kesabaran yang lebih untukku.Tak ada tempat lain yang ingin ku curahi setiap kebahagiaan dan kesuksesan yang ku raih kecuali hanya kepada kedua bidadariku. Aku tak menyesali setiap jalan liku yang Engkau berikan padaku, aku tak mengapa kandasnya semua harapanku, hanya tak kuasa jika semua itu membuat tangis kesedihan di mata ibunda dan ayahanda.Berikan selalu kekuatan, ketabahan dan semangat tiada hentinya untuk menggapai segenggam impian ini, sehingga senyuman bidadari-bidadari menyambut haru.
Jika jalan yang ku tempuh ini tak kau ridhai, hingga Engkau wujudkan dengan liku tajam dan kerikil-kerikil ini, maka tunjukkan padaku jalan yang kau ridhai sampai aku di puncak kebahagiaan itu..
Tak banyak orang mampu bangkit dari kegagalannya. Tak banyak orang mengerti bahwa Tuhan menyiapkan perjalanan hidup yang lebih indah untuk menggantikan kegagalannya. Tak banyak orang yang bertahan dalam konsistennya ibadah kepada Tuhan karena kesengsaraan. Namun, apa yang ku saksikan hari ini begitu membuat pilu. Aku bukan dari keluarga yang berada, mempunyai seorang saudara sepupu yang keadaannya tak jauh berbeda denganku. Kami mempunyai mimpi yang sama, saat kami berjuang bersama.. ternyata kita mempunyai jalan yang berbeda. Jalan hidupku mengharuskan untuk kuliah di suatu PTN dengan beasiswa, aku sangat mensyukurinya karena jika dibandingkan dengan saudari sepupuku itu yang harus menerima dengan lapang dada atas keputusan ketidaklulusan beasiswanya. Dengan langkah berat, aku mengantarkan saudari sepupuku pulang kembali ke tanah kelahiran kami karena tidak bisa melanjutkan kuliah jika beasiswa yang di harapkan itu tak berbuah hasil.
Hatiku hancur menerima kenyataan ini, tak pernah bisa ku bayangkan bagaimana ada di posisi dia. Tangisan kesedihan meledak seketika. Tak mampu di bendung lagi, kami saling berpeluk tak rela. "Tak apa harapanku kandas, tapi bagaimana ku katakan ini pada orangtuaku? aku tak tega membuat mereka menangis mengasihaniku" ucapnya. Dia menangis bukan karena keinginannya saja yang tak tercapai, tapi salah satu kesempatan besarnya untuk mengangkat derajat keluarga dan membuat mereka bangga kandas begitu saja.
Dengan suara yang di tegarkan dia menghubungi orangtua nya atas kegagalan ini, dia masih menguatkan dirinya untuk tersenyum, kemudian memilih untuk mondok di pesantren satu tahun atas usulan orangtuanya. Dia masih bertekad untuk tetap berjuang tahun depan, dan dia masih tetap berhusnudzan bahwa Allah menyiapkan skenario yang lebih indah untuknya. "Mungkin Allah tak meridhai tahun ini, ini bukan jalanku. Aku akan mencoba nya tahun depan, dan belajar ilmu agama lebih dalam untuk satu tahun ini adalam kebahagiaan tambahan dalam hidupku". Tak bisa ku tahan air mata yang akan meledak ini, mendengar ucapan itu aku menangis tersedu. Aku tak mampu menguatkannya, justru aku lebih lemah dari pada dia saat itu. Dia terlihat begitu tegar..
Ya Tuhan, selalu lindungilah saudariku itu, segerakanlah kebahagiannya. Pertemukan dia dengan jalan yang kau ridhai. Aamiin..