Minggu, 25 Juni 2017

Kota Riuh

Ada kota yang riuh memintaku mengingat kembali bagaimana suka membuat riuh setiap jengkal napas yang kita hirup bersama
Setiap detak terdengar dari jam dinding tak lagi terdengar kerana gelak tawa kita terlampau keras menenggelamkannya
Aku akui bahwa jejak tapak bahagia di kota mungil ini tak bisa begitu saja menghilang dari ingatan, meski semua yang menjadi jejak telah dihapuskan
Aku selalu ingin agar tak pernah ada hal yang mampu membawaku melayang pada masa yang tak bisa ku genggam
Namun, otak manusia adalah penyimpan memori yang sempurna
Hingga tapak kembali menjejakkan di kota mungil ini, keriuhan itu hanya ada dalam lamunan
Aku merasa riuh dalam keheningan ini.
Kota mungil nan hening yang pernah riuh ini, aku akan hidupkan kembali.
Tenang saja, aku tak membenci kota ini. Aku menjaga setiap ceritanya menjadi senyum kecil pengobat rinduku.


Selamat berbahagia. Aku menyusul bahagia. Sebentar lagi.

Selasa, 04 April 2017

Hai, Semesta.

Tak ada mimpi yang sempurna
Sebab semesta hanya mengizinkan ia disempurnakan
Dengan tawa-tawa dan kegilaan

Tak ada cerita yang benar-benar sempurna
Sebab semesta hanya mengizinkan ia dibuat untuk menyempurnakan
Cerita-cerita orang gila yang tak sempurna dengan mimpinya

Semesta tak mengizinkan aku atau kamu menjadi sempurna
Sebab ia menghendaki kita untuk saling menyempurnakan
Dalam kepatahan-kapatahan
Kesusahan dan kesenangan
Dari ketiadaan-ketiadaan yang menguras seluruh kebahagiaan
Melengkapi adalah tugas-tugas menuju penyempurnaan

Semesta pula tak menghendaki setiap bahagia manusia menjadi sempurna
Sebab ia perlu air mata kesedihan untuk mengenang luka, sehingga tau bagaimana menghargai keberadaan tawa

Apalah kita meminta semesta mengerti bahwa aku ingin kamu
Pemaksaan bodoh dan radikal
Tapi aku meminta janji bahwa kamu ingin aku
Sehingga kita memaksa semesta mempertimbangkan
Aku dan kamu yang saling meng-ingini.

Bola Matamu

Aku suka bola matamu
Binarnya menyejukkan
Terlebih ia memantulkan bayangku
Senyumku terlihat lebih manis disana
Kalau bayang itu hilang disana,
Aku harus cari dimana?

Bagaimana kalau kita buat ceritanya:
Setiap bangun pagi
Aku melihat wajah yang bantal sekali itu
Mengelus rambutmu dengan lembut,
Kamu terbangun dengan senyum.
Aku melihat bayang diriku, senyum manisku, di binar matamu.
Aku mengacak-acak rambut yang ku elus lembut itu.
Kita tertawa.
Engkau memelukku sangat erat.

Aku sangat suka bola matamu.
Bola mata yang selalu memantulkan 'aku' disana.
Aku minta, boleh?

Rabu, 06 Januari 2016

Panggil Aku Si Abu-Abu Part II

Rasanya aku punya hutang untuk melanjutkan cerita yang sempat terhenti lama sekali.
Beberapa bulan kemarin aku terlalu disibukkan dengan drama yang sangat panjang. Dimulai urusan kuliah, urusan hati dan perasaan sejauh ini dinilai paling rumit. Tapi untungnya awal tahun ini semua permasalahan tersebut dapat teratasi dengan baik. Well... kita flashbask ke masa SMP dengan sejuta mimpi dan ambisi...

Jreng! Ambisi pertama untuk menjadi juara umum di SMP, pupus sudah. Pada hari itu aku masih ingat bagaimana menghabiskan hari pengumuman kelulusan dan malam yang suram dengan mengurung diri di kamar bersama air mata yang tumpah ruah dari cangkirnya. "Aku kalah, aku gak bisa jadi juara umum, aku dapat posisi kedua". Posisi kedua itu tak bisa aku terima begitu saja, rasanya seperti sudah menyusun benang menjadi jaket, namun jaket itu terobek begitu saja, tak bisa terpakai. Sudah sejak lama aku menyusun mimpi dengan teliti, namun dengan seketika daftar susunan yang telah rapih itu menjadi berantakan begitu saja.
aku cukup beruntung di kelilingi oleh keluarga lengkap yang luarbiasa. Mereka terus menyemangatiku, masih banyak hal yang harus aku hadapi. Ini baru langkah awal. Aku tak boleh menyerah. Itulah fungsinya keluarga, mereka selalu ada dan menerima kita dalam kondisi apapun -jadi, jangan lupakan keluarga saat kita berada di puncak, ya- Mamah, Bapa, Sepupu semua merangkul memberikanku pengertian dan menghiburku. Akhirnya, tak lama aku bisa menerima dan moving on dari sakitnya menjadi orang kedua (bukan dimadu, ya, hehe)
Awal perjalanan itu sudah memberikanku pelajaran yang sangat berharga, bahwa bermimpi boleh saja, berusaha segiat mungkin untuk mencapai impian itu, namun tetap saja yang memberikan hasilnya adalah Allah SWT. Kita berjuang, hasilnya kita harus ikhlas dan tawakal kepada Allah agar tidak menumbuhkan sifat kufur nikmat dalam hati.
Lulus dari SMP, aku tak terlalu berambisi untuk masuk SMA yang diidamkan dahulu, akhirnya aku masuk SMA yang dekat dengan rumahku dengan banyak pertimbangan dan hasil permikiran yang matang. Aku tak bisa memaksakan apa yang aku inginkan, mulai memperhitungkan dengan segala keadaan - apa ini perjalanan menuju dewasa ya?-
Kini perjalanan semasa SMA telah merubahku.... membuat warna dalam hari-hariku, si abu-abu ingin menoreh warna pada sayapnya, namun ada yang salah dari cara melukisnya..
Tetap saja pelajaran yang paling berharga dapat diambil dari setiap kesalahan yang pernah dilakukan.
Aku bersyukur, aku bisa cukup bijak dalam menyikapi segala yang telah terjadi dalam hidupku, meski itu kesalahan atau apapun yang menyebabkanku jatuh, darisana ada pelajaran yang dapat diambil hingga menjadikan sayapku benar-benar penuh dengan warna yang cemerlang.
Terkadang aku merindukan menjadi sosok diriku yang kutu buku dikala masa SMP, mengurung diriku dalam bait-bait ilmu namun tetap ada yang kurang pada masa itu, aku merasa ingin berada di padang yang luas dengan kebebasan menghirup udara segar..tanpa berfikir akan terjatuh atau berfikir bagaimana cara untuk terbang, hanya menikmati semilir angin yang menyapa kulitku dengan penuh kelembutan...
"FREEDOM"
Aku mulai memaknai kata ini, mulai mencari arti dari sebuah kata kebebasan. Tanpa beban yang harus ku tanggung, aku ingin menikmati kehidupan.
Semasa SMA aku habiskan waktuku untuk bermain, kelas X dan XI aku sibuk bermain dan waktu itu mulai mengenal kata pacaran. Aku tak ingat sudah berapa banyak teman laki-laki yang pernah dekat denganku. Namun, aku masih beruntung kala itu masih bisa terkontrol, selupa-lupa dirinya, ternyata prinsip masih melekat kuat dalam hatiku. Aku termasuk orang yang mempunyai prinsip untuk tidak merugikan diri dan masa depanku. Saat itu aku mulai menyukai lawan jenis dan merasakan bagaimana indahnya pacaran, namun niat dalam hatiku hanya untuk senang-senang saja, tidak sampai merusak tubuhku (seperti yang kebanyakan anak remaja zaman sekarang lakukan). Alhamdulillah aku masih dalam koridor baik di bawah pengawasan orangtua.
Masa SMA mereka mengatai ku dengan kata "Cewek jahat" ya, benar. Aku memang jahat. Menerima cinta laki-laki kemudian tak lama kemudian di putuskan. Sudah bosan, putus. begitu seterusnya. Karena aku berfikir ini memang tak ada manfaatnya, tapi di sisi lain aku butuh hiburan semacam itu. Sampai-sampai pelatih paskibra ku waktu itu pernah bertanya (pelatih paskibranya gaul, suka gosipan cerita-cerita kita) "Nia kamu gak pernah pacaran lama?" saya hanya menjawab "engga kang, kalo lama-lama takut ketergantungan, ini hanya hiburan, bukan prioritas" gimana gak di bilang cewek jahat ya? hehehe
Harus diakui, sekarang aku cukup menyesal pernah menyakiti mereka yang pernah dekat denganku. Bagaimana kalau mereka menyimpan dendam? Ah, semoga saja tidak. Itu kan hanya cinta monyet. hehe
Namun, di akhir kelas XII akhirnya aku sendiri yang kena batunya, bagaimana sedang merasakan indahnya mencintai seseorang, orang tersebut malah menyakiti habis-habisan. Mungkin ini pelajaran bagiku, agar aku harus berhenti.
Kelas XII aku fokus untuk Ujian Nasional. Semenjak saat itu, aku tak mengenal lagi kata pacaran. Aku harus kembali fokus untuk meraih impian. Sakit hati lewat pacaran terakhir kali cukup membukakan mataku, bahwa aku benar-benar harus kembali.
Dunia SMA ini begitu manis bersama teman-teman karena banyak sekali pengalaman yang  bisa didapatkan.
Tak disangka-sangka di hari kelulusan, ada pengumuman yang begitu mengejutkan dan membuatku takjub atas rencana Allah SWT. Aku menjadi juara umum ke-1 nilai UN tertinggi di SMA. Puji syukur aku panjatkan kepada Allah atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepadaku.
Aku merasa sangat bersyukur. Memang ternyata benar, jika kita berkhusnudzan kepada Allah, segala yang kita impikan dapat tercapai, mungkin tidak sekarang, tapi nanti bisa terjadi. karena apa yang menurut kita baik, belum tentu bagi Allah juga baik.
Mungkin saat itu Allah ingin aku belajar lebih banyak lagi. Belajar mengendalikan ambisi bahwa segala sesuatu perlu kerja keras, tapi tetap hasilnya harus diserahkan kembali kepada Allah.
Pelajaran berharga lain yang aku dapatkan sampai di titik terakhir pengumuman kelulusan SMA adalah bermimpi setinggi mungkin. Mimpi yang tak membuatmu lupa kepada sang Pemberi. Mimpi yang dapat menjadikanu hidup, bukan mimpi yang menjadi bebab bagimu.
Selama aku baru belajar berambisi, mimpi itu seakan beban yang aku tanggung sendiri. Setelah aku belajar dari kegagalan, mimpi itu adalah sesuatu yang menghidupkan, membakar semangat untuk menjadi lebih baik. Bukan beban.
Setidaknya warna abu-abuku dapat segores warna terang.... memberikan semangat, senyum, dan bahagia untuk segera terbang...
Tetap panggil aku si abu-abu yang terus mengarungi kehidupan, selau bingung dengan pilihan, dan pada akhirnya aku akan melukis warna di sayapku, semakin bersyukur akan kehidupan..
Nantikan season si abu-abu yang bertransformasi jadi gulali warna-warni :)

Kamis, 28 Mei 2015

Panggil Aku Si Abu-Abu Part 1

Panggil aku si abu-abu.
Selalu merasa ketakutan akan si hitam yang datang, menenggelamkannya, menghanyutkannya, meniadakannya.
Begitulah aku. Semenjak dari dulu aku mempunyai sifat yang selalu merasa ketakutan berlebih akan kegagalan, penolakan, serta disepelekan oleh oranglain. Aku selalu mencari zona nyaman, yaitu dimana selalu menjadi pusat perhatian dan kemampuanku dapat di akui oleh semua orang.
Entah sejak kapan sifat ambisius merasuk dalam dirikku. Sejak aku berada di kelas 3 SMP muncul beribu-ribu pertanyaan dan mimpi yang bergelut dalam fikiranku. Mereka semua terus berperang, terkadang membuatku hanya terdiam tak bisa melakukan apa-apa karena terlalu banyak berencana.
Aku punya mimpi yang orang lain akan menggelengkan kepala jika mendengarnya, tentunya orang yang menggelengkan kepala tersebut mengetahui bagaimana keadaanku yang sebenarnya.
"Pak, aku nanti ingin sekolah di SMA Negeri ya, abis itu pengen lanjut kuliah di Bogor" kataku kepada bapak yang sedang duduk selesai mengerjakan shalat maghrib. Kami biasa berkumpul di ruang keluarga pasca menunaikan ibadah shalat maghrib. Sambil menyantap makanan snack yang selalu di buat ibu untuk teman ngobrol, kami selalu membicarakan hal-hal yang penting pada moment tersebut, termasuk rencana masa depanku.
Bagaimana orang lain tak heran padaku, bocah SMP sudah mengatakan kesana kemari rencana masa hidupnya sudah ke tingkat perguruan tinggi. Bagiku bukan lagi SMA, yang sudah harus ada dalam fikiranku adalah kuliah dan kerja. Teman-temanku sering meledeki dengan kata "ngolot". Tapi aku menikmatinya, karena dengan berfikir ngolot seperti itu justru aku menjadi punya semangat yang sangat tinggi untuk terus belajar dan berusaha.
Sebenarnya pemikiranku yang seperti ini bisa dikatakan turun dari sifat bapakku. Tepatnya memang bukan di turunkan secara genetis begitu saja, bapakku sering mengajarkan kepadaku bahwa hidup ini harus punya rencana minimal 10 tahun ke depan. Menurutnya, agar hidup menjadi terarah dan punya tujuan apa yang akan dilakukan. Hal tersebut memang benar, sejauh ini aku merasakan dampak yang luar biasa dari pelajaran tersebut. Namun dampak negatifnya juga mulai terasa. Dari teori tersebut muncullah gadis ambisius yang selalu harus mendapatkan apa yang menjadi target atau tujuannya.
Bapak tidak langsung menjawab pernyataan yang baru saja ku lontarkan, beliau mencari posisi enak untuk duduk sambil memakan pisang goreng yang baru saja ibu hidangkan di atas meja. "Yang penting rajin belajarnya teh" tiba-tiba ibu yang mengambil start duluan untuk menjawab pernyataan yang aku lontarkan untuk bapak. "Insyaallah teh, belajar yang rajin ya, mau kuliah di Bogor di mana emangnya? atau mau di UNPAK saja kayak tetangga kita teh Maya itu? Bapak harap sih teteh ngambil nya keguruan aja. Jadi guru itu enak kalo untuk perempuan, nantinya suami dan anak masih bisa ke urus, di lingkungan rumah pun selalu dapat tempat yang cukup di hormati" sambung bapak. 
Semenjak awal orangtuaku memang mengharapkan aku untuk menjadi guru, dengan alasan bahwa menjadi guru itu masih bisa ngurus suami dan anak, pokoknya guru itu profesi paling cocok untuk calon seorang ibu. Padahal dalam fikiranku masih banyak cabang-cabang lain yang ingin aku gali informasinya, entah keguruan, ekonomi, pertanian, dan masih banyak lagi.
"Ayooo belajar yang rajin ya bentar lagi kan UN" ibu mengingatkan aku untuk segera pergi ke kamar dan mulai belajar untuk menyambut UN. Tapi rasanya malam itu aku hanya ingin mengobrol lebih banyak lagi dengan kedua orang tuaku. "Iya agak nantian ya bu" kataku singkat. Berbicara tentang UN, aku jadi ingat ke SMA mana aku akan melanjutkan. "Pak, aku mau lanjut ke SMA Cibadak ya?" kataku tegas. "Ya teh kemana saja, tapi apa nggak kejauhan?" "Enggak yah, nanti sama temen teteh banyakan" "Yasudah kalo gitu, yang penting sekarang fokus UN dulu" "Iya pak." Obrolan kami terhenti disana, karena bapak dan ibu sudah banyak mengisyaratkan bahwa aku harus segera masuk ke kamar dan mulai untuk belajar.
Jika aku berbicara keinginanku untuk masuk SMA Cibadak kepada teman-temanku atau oranglain yang mengetahui keadaanku, tentulah mereka akan menggelengkan kepala. "Kamu mampu?" kata mereka. Tentu kata mampu disini mengandung arti ganda, mampu = akan masuk seleksi SMA tersebut, karena SMA tersebut cukup dikatakan bagus dan mampu = biaya, karena masuk SMA tersebut cukup mahal dan lokasi yang jauh membutuhkan biaya yang lebih untuk ongkos.
Namun ketakutan mereka itu tepatnya penyepelean mereka itu tidak berlaku bagi orangtuaku. Orangtuaku juga optimis, jika aku mau pasti akan selalu ada jalan.
Perjuanganku untuk mencapai tujuan dengan sifat ambisius dimulai sejak saat itu. Awalnya dalam bayangkan hanya terlintas semua yang ku rencakan akan tercapai. Aku akan sukses. Semua telah terancang dengan sempurna bagai sistem dalam komputer yang tersusun rapih dan aku optimis semuanya akan berjalan sempurna.
Rencana pertama tentulah aku akan menjadi juara umum nilai UN tertinggi tingkat SMP ku. Tapi apakah rencana tersebut sesuai dengan apa yang di bayangkan? Akankah rencana tersebut sukses sesuai perkiraan?
Lalu setelah itu tujuan-tujuan apa lagi yang di rencanakan si abu-abu yang telah tersistem rapih di otaknya? akankah rencana tersebut juga banyak membuat orang menggelengkan kepala?

Wait....Next Story....

Selasa, 28 April 2015

Permintaan yang aku harap bisa Tuhan kabulkan

Bukankah manusiawi jika kita bisa merasakan cinta?

Duhai hatiku yang masih ku jaga, tertutup rapat dengan kunci gembok tahan karat, terbungkus rapi dengan kain lembut nan bersih. Aku tak rela jika kini engkau terluka. Siapakah dia yang telah berani membuka kuncinya? melihat seluruh isinya? namun kemudian tak merawatnya..
Logika selalu berkata.. "Jangan! Jangan! Dia orang jahat yang akan merusak properti hatimu, kemudian hanya pergi meninggalkannya dan mencari tempat yang lebih bagus. Jangan!" Setiap saat kata itu selalu terngiang di telingaku, tertulis dalam fikiranku, ketika aku menatapmu. Ya, bahkan hanya ketika ada satu pesan masuk dalam handphone ku yang berasal dari namamu. Otakku langsung mengirim signal.. "Jangan buka! itu virus." Tapi apa yang ku lakukan? Bibirku tersenyum. Aku bahagia bisa melihatmu, merasakan nikmatnya jantungku berdetak lebih kencang, membalas setiap kata dari pesan yang kau kirimkan. Itulah ajaibnya kamu, membuatku menjadi munafik seketika. Tak ingin namun ingin. Otak dan efektorku sudah tak sinkron lagi. Aku kehilangan kendali.
Otakku selalu penuh tanya, manusiawi kah ini? atau sudah berada dalam zona berbahaya melebihi kadar biasanya?

Prinsip ku runtuh, hanya karena ada mimpi baru yang ingin ku capai

Bertahun-tahun aku susun dengan rapi bagaimana aku akan menghabiskan waktu hidupku. Berapa catatan-catatan telah ku buat dengan sistematis bagaimana aku akan menjalani hidupku ke depan. Aku selalu optimis dengan semua rencana-rencana ku bahwa aku yakin pasti bisa menggapainya. Setelah aku bisa membaca setiap bahasamu, ada kalimat yang ingin ku gapai. Mimpimu. Aku ingin mewujudkannya. Bak seribu mimpiku terhapus dengan satu mimpi kokohmu. Tak adil memang, namun itu yang ku rasakan. Hal itu terjadi secara otomatis, tak ku duga, tak ku rencanakan dan tak ada di list rencana masa depan yang telah ku buat beberapa tahun lalu. Dahsyat. Logika selalu berkata, untuk apa aku perduli dengan semua yang kamu mimpikan di masa depan. Aku juga punya mimpi yang lebih baik dari pada itu. Tapi, hatiku berkata lain. Lagi-lagi aku menjadi wanita munafik yang keinginan di otakku tak sinkron dengan apa yang ada di hatiku.

Menjadi bodoh bahwa berapa kalipun rasa sakit yang di rasakan, perasaan cinta malah semakin dalam, rindu semakin tak tergenggam

Bodoh. Bodoh. Bodoh! Baru kemarin hatiku teriris silet tajammu, sakit menahan pilu. Pada saat itu aku tekadkan untuk berhenti menjadi orang bodoh yang mengganggui mu. Namun, yang ku ucapkan beberapa menit lalu akan terlupakan begitu saja hanya karena satu kata maaf mu. Begitu lah hebatnya kata cinta mampu membuatku menjadi orang bodoh yang sadar kebodohannya namun tak mau memperbaikinya. Andai untuk menjadi pintarnya ada rumus yang harus ku kuasai maka orang di seluruh dunia akan mempelajarinya terus menerus dan rela menyewa guru privat meskipun harus dibayar dengan jatah makan siangnya. Sakit dari hati akan menjalar keseluruh tubuh, itulah alasan mengapa semua orang  butuh obat untuk tak menjadi bodoh diperbudak oleh cinta. Namun sayangnya belum ada ilmuwan yang mampu menciptakan ramuan itu. Mungkin jika rasa sakit yang kamu goreskan sudah tak tertahan perihnya, aku akan mulai menjadi ilmuwan pertama yang meneliti tentang ramuan itu, hehe..Pensiun dari orang bodoh yang mencintaimu, itu tak akan pernah  bisa ku lakukan. Kamu harus tahu.

Andai setiap kata yang di rasa, tak perlu terucap, langsung bisa kau rasa. Tak akan ada dusta, tak akan ada kira, tak akan ada salah sangka, tak akan saling menunggu, tak akan...tak akan...

Terlalu tabu bagiku seorang wanita jika aku harus menceritakan semua yang ada dalam hatiku. Beginikah wanita. Menunggu. Andai semua kata yang belum tersampaikan mampu langsung bisa kau cerna. Oh bahagianya. Biarlah, menjadi cerita indah antara aku, hatiku, dan Tuhanku. Biar kamu menjadi permintaan terindah yang aku harap dapat Tuhan kabulkan.

Minggu, 26 April 2015

Dear Kedua Bidadariku

Dear Kedua Bidadariku...

Dua puluh tahun yang lalu, bagaimana ekspresi kalian Mah, Pak?
Bagaimana senyum kalian saat pertama kali menatapku? Aku selalu ingin melihat moment itu, agar aku tak pernah sia-siakan senyum di wajah mamah dan bapak saat ini, agar selalu ada semangat dalam diriku untuk terus membuat mamah dan bapak tersenyum.
Apa yang kalian harapkan saat pertama kali menggendongku? Aku sangat ingin tahu harapan-harapan itu, ingin ku berjuang menggapainya, seperti mamah yang berjuang begitu ikhlas untuk melahirkanku, aku ingin berjuang dengan ikhlas untuk membahagiakanmu. Seperti bapak yang berjuang dengan semangat untuk selalu membelikanku susu dan mainan yang lucu, aku ingin berjuang sesemangat itu untuk membahagiakanmu.
Dua puluh tahun yang lalu, Mah Pak, adakah engkau mengira aku akan  menjadi seperti ini?
Sudahkah aku sesuai harapan kalian? ataukah aku hanya menjadi kekecewaan?
Dua puluh tahun sudah Mah Pak, aku disini, belum mampu kuberikan apapun untuk kalian. Aku merasa belum berguna untuk kalian.
Terkadang dalam perjuangan ini pun aku sering merasa lelah dan putus asa. Tegur aku Mah, Pak.. Adakah kalian lelah membina ku selama dua puluh tahun ini?
Begitu Luar biasa Allah SWT telah membuatku terlahir dari rahim ibu yang begitu penuh kelembutan, mendidikku dengan penuh pengertian, kasih sayang. Ibu yang tak pernah mampu marah, hanya air mata yang selalu mewakili apapun perasaanmu, sedih, bahagia, marah, terluka, senang, air mata itu menjadi tanda, aku telah sangat mengenalmu. Kemudian Allah ciptakan aku dari air manai bapak, yang begitu tegas dan disiplin, pekerja keras, sehingga sifat keduanya sangat mengimbangiku untuk tumbuh sempurna. Bagiku, kalian adalah orangtua terhebat, aku bangga menajadi putrimu.


Putri kecilmu
Nia Alfitriyani

Aku mengira bahwa hidup yang bergulir meninggalkan waktu memang hanya terlintas begitu saja, tak ada makna. Hal itulah yang sering membuatku merasa sangat hampa, bosan, putus asa. Kemudian Allah menegur dalam AlQur'an.... bahwa sesungguhnya Dia telah memberikan banyak sekali nikmat, kita tak menyadarinya, karena kita telah sombong, tak mau bertafakkur diri. Kita mengira nafas hadir dengan sendirinya, kita bisa makan karena keringat kita. Padahal itu adalah nikmat yang sudah Dia berikan. Dua puluh tahun aku telah mengira tak ada yang terjadi dalam hidupku. Bosan, sering merasa putus asa, sering merasa gelisah. Itu pertanda aku telah menjauh dariNya. Ketika aku mendekat, Dia akan semakin dekat.
Ya Allah, bimbing selalu hamba untuk istiqomah di jalanMu. Aku titipkan kedua bidadariku, Ayah dan Ibu.. Ampunilah dosa-dosanya, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku sewaktu kecil..
Tak ada yang mampu kupersembahkan selain prestasi yang harus ku capai, membuatnya bangga adalah impian. Mampukanlah aku untuk menyelesaikan semua tugasku.