Kamis, 28 Mei 2015

Panggil Aku Si Abu-Abu Part 1

Panggil aku si abu-abu.
Selalu merasa ketakutan akan si hitam yang datang, menenggelamkannya, menghanyutkannya, meniadakannya.
Begitulah aku. Semenjak dari dulu aku mempunyai sifat yang selalu merasa ketakutan berlebih akan kegagalan, penolakan, serta disepelekan oleh oranglain. Aku selalu mencari zona nyaman, yaitu dimana selalu menjadi pusat perhatian dan kemampuanku dapat di akui oleh semua orang.
Entah sejak kapan sifat ambisius merasuk dalam dirikku. Sejak aku berada di kelas 3 SMP muncul beribu-ribu pertanyaan dan mimpi yang bergelut dalam fikiranku. Mereka semua terus berperang, terkadang membuatku hanya terdiam tak bisa melakukan apa-apa karena terlalu banyak berencana.
Aku punya mimpi yang orang lain akan menggelengkan kepala jika mendengarnya, tentunya orang yang menggelengkan kepala tersebut mengetahui bagaimana keadaanku yang sebenarnya.
"Pak, aku nanti ingin sekolah di SMA Negeri ya, abis itu pengen lanjut kuliah di Bogor" kataku kepada bapak yang sedang duduk selesai mengerjakan shalat maghrib. Kami biasa berkumpul di ruang keluarga pasca menunaikan ibadah shalat maghrib. Sambil menyantap makanan snack yang selalu di buat ibu untuk teman ngobrol, kami selalu membicarakan hal-hal yang penting pada moment tersebut, termasuk rencana masa depanku.
Bagaimana orang lain tak heran padaku, bocah SMP sudah mengatakan kesana kemari rencana masa hidupnya sudah ke tingkat perguruan tinggi. Bagiku bukan lagi SMA, yang sudah harus ada dalam fikiranku adalah kuliah dan kerja. Teman-temanku sering meledeki dengan kata "ngolot". Tapi aku menikmatinya, karena dengan berfikir ngolot seperti itu justru aku menjadi punya semangat yang sangat tinggi untuk terus belajar dan berusaha.
Sebenarnya pemikiranku yang seperti ini bisa dikatakan turun dari sifat bapakku. Tepatnya memang bukan di turunkan secara genetis begitu saja, bapakku sering mengajarkan kepadaku bahwa hidup ini harus punya rencana minimal 10 tahun ke depan. Menurutnya, agar hidup menjadi terarah dan punya tujuan apa yang akan dilakukan. Hal tersebut memang benar, sejauh ini aku merasakan dampak yang luar biasa dari pelajaran tersebut. Namun dampak negatifnya juga mulai terasa. Dari teori tersebut muncullah gadis ambisius yang selalu harus mendapatkan apa yang menjadi target atau tujuannya.
Bapak tidak langsung menjawab pernyataan yang baru saja ku lontarkan, beliau mencari posisi enak untuk duduk sambil memakan pisang goreng yang baru saja ibu hidangkan di atas meja. "Yang penting rajin belajarnya teh" tiba-tiba ibu yang mengambil start duluan untuk menjawab pernyataan yang aku lontarkan untuk bapak. "Insyaallah teh, belajar yang rajin ya, mau kuliah di Bogor di mana emangnya? atau mau di UNPAK saja kayak tetangga kita teh Maya itu? Bapak harap sih teteh ngambil nya keguruan aja. Jadi guru itu enak kalo untuk perempuan, nantinya suami dan anak masih bisa ke urus, di lingkungan rumah pun selalu dapat tempat yang cukup di hormati" sambung bapak. 
Semenjak awal orangtuaku memang mengharapkan aku untuk menjadi guru, dengan alasan bahwa menjadi guru itu masih bisa ngurus suami dan anak, pokoknya guru itu profesi paling cocok untuk calon seorang ibu. Padahal dalam fikiranku masih banyak cabang-cabang lain yang ingin aku gali informasinya, entah keguruan, ekonomi, pertanian, dan masih banyak lagi.
"Ayooo belajar yang rajin ya bentar lagi kan UN" ibu mengingatkan aku untuk segera pergi ke kamar dan mulai belajar untuk menyambut UN. Tapi rasanya malam itu aku hanya ingin mengobrol lebih banyak lagi dengan kedua orang tuaku. "Iya agak nantian ya bu" kataku singkat. Berbicara tentang UN, aku jadi ingat ke SMA mana aku akan melanjutkan. "Pak, aku mau lanjut ke SMA Cibadak ya?" kataku tegas. "Ya teh kemana saja, tapi apa nggak kejauhan?" "Enggak yah, nanti sama temen teteh banyakan" "Yasudah kalo gitu, yang penting sekarang fokus UN dulu" "Iya pak." Obrolan kami terhenti disana, karena bapak dan ibu sudah banyak mengisyaratkan bahwa aku harus segera masuk ke kamar dan mulai untuk belajar.
Jika aku berbicara keinginanku untuk masuk SMA Cibadak kepada teman-temanku atau oranglain yang mengetahui keadaanku, tentulah mereka akan menggelengkan kepala. "Kamu mampu?" kata mereka. Tentu kata mampu disini mengandung arti ganda, mampu = akan masuk seleksi SMA tersebut, karena SMA tersebut cukup dikatakan bagus dan mampu = biaya, karena masuk SMA tersebut cukup mahal dan lokasi yang jauh membutuhkan biaya yang lebih untuk ongkos.
Namun ketakutan mereka itu tepatnya penyepelean mereka itu tidak berlaku bagi orangtuaku. Orangtuaku juga optimis, jika aku mau pasti akan selalu ada jalan.
Perjuanganku untuk mencapai tujuan dengan sifat ambisius dimulai sejak saat itu. Awalnya dalam bayangkan hanya terlintas semua yang ku rencakan akan tercapai. Aku akan sukses. Semua telah terancang dengan sempurna bagai sistem dalam komputer yang tersusun rapih dan aku optimis semuanya akan berjalan sempurna.
Rencana pertama tentulah aku akan menjadi juara umum nilai UN tertinggi tingkat SMP ku. Tapi apakah rencana tersebut sesuai dengan apa yang di bayangkan? Akankah rencana tersebut sukses sesuai perkiraan?
Lalu setelah itu tujuan-tujuan apa lagi yang di rencanakan si abu-abu yang telah tersistem rapih di otaknya? akankah rencana tersebut juga banyak membuat orang menggelengkan kepala?

Wait....Next Story....

Selasa, 28 April 2015

Permintaan yang aku harap bisa Tuhan kabulkan

Bukankah manusiawi jika kita bisa merasakan cinta?

Duhai hatiku yang masih ku jaga, tertutup rapat dengan kunci gembok tahan karat, terbungkus rapi dengan kain lembut nan bersih. Aku tak rela jika kini engkau terluka. Siapakah dia yang telah berani membuka kuncinya? melihat seluruh isinya? namun kemudian tak merawatnya..
Logika selalu berkata.. "Jangan! Jangan! Dia orang jahat yang akan merusak properti hatimu, kemudian hanya pergi meninggalkannya dan mencari tempat yang lebih bagus. Jangan!" Setiap saat kata itu selalu terngiang di telingaku, tertulis dalam fikiranku, ketika aku menatapmu. Ya, bahkan hanya ketika ada satu pesan masuk dalam handphone ku yang berasal dari namamu. Otakku langsung mengirim signal.. "Jangan buka! itu virus." Tapi apa yang ku lakukan? Bibirku tersenyum. Aku bahagia bisa melihatmu, merasakan nikmatnya jantungku berdetak lebih kencang, membalas setiap kata dari pesan yang kau kirimkan. Itulah ajaibnya kamu, membuatku menjadi munafik seketika. Tak ingin namun ingin. Otak dan efektorku sudah tak sinkron lagi. Aku kehilangan kendali.
Otakku selalu penuh tanya, manusiawi kah ini? atau sudah berada dalam zona berbahaya melebihi kadar biasanya?

Prinsip ku runtuh, hanya karena ada mimpi baru yang ingin ku capai

Bertahun-tahun aku susun dengan rapi bagaimana aku akan menghabiskan waktu hidupku. Berapa catatan-catatan telah ku buat dengan sistematis bagaimana aku akan menjalani hidupku ke depan. Aku selalu optimis dengan semua rencana-rencana ku bahwa aku yakin pasti bisa menggapainya. Setelah aku bisa membaca setiap bahasamu, ada kalimat yang ingin ku gapai. Mimpimu. Aku ingin mewujudkannya. Bak seribu mimpiku terhapus dengan satu mimpi kokohmu. Tak adil memang, namun itu yang ku rasakan. Hal itu terjadi secara otomatis, tak ku duga, tak ku rencanakan dan tak ada di list rencana masa depan yang telah ku buat beberapa tahun lalu. Dahsyat. Logika selalu berkata, untuk apa aku perduli dengan semua yang kamu mimpikan di masa depan. Aku juga punya mimpi yang lebih baik dari pada itu. Tapi, hatiku berkata lain. Lagi-lagi aku menjadi wanita munafik yang keinginan di otakku tak sinkron dengan apa yang ada di hatiku.

Menjadi bodoh bahwa berapa kalipun rasa sakit yang di rasakan, perasaan cinta malah semakin dalam, rindu semakin tak tergenggam

Bodoh. Bodoh. Bodoh! Baru kemarin hatiku teriris silet tajammu, sakit menahan pilu. Pada saat itu aku tekadkan untuk berhenti menjadi orang bodoh yang mengganggui mu. Namun, yang ku ucapkan beberapa menit lalu akan terlupakan begitu saja hanya karena satu kata maaf mu. Begitu lah hebatnya kata cinta mampu membuatku menjadi orang bodoh yang sadar kebodohannya namun tak mau memperbaikinya. Andai untuk menjadi pintarnya ada rumus yang harus ku kuasai maka orang di seluruh dunia akan mempelajarinya terus menerus dan rela menyewa guru privat meskipun harus dibayar dengan jatah makan siangnya. Sakit dari hati akan menjalar keseluruh tubuh, itulah alasan mengapa semua orang  butuh obat untuk tak menjadi bodoh diperbudak oleh cinta. Namun sayangnya belum ada ilmuwan yang mampu menciptakan ramuan itu. Mungkin jika rasa sakit yang kamu goreskan sudah tak tertahan perihnya, aku akan mulai menjadi ilmuwan pertama yang meneliti tentang ramuan itu, hehe..Pensiun dari orang bodoh yang mencintaimu, itu tak akan pernah  bisa ku lakukan. Kamu harus tahu.

Andai setiap kata yang di rasa, tak perlu terucap, langsung bisa kau rasa. Tak akan ada dusta, tak akan ada kira, tak akan ada salah sangka, tak akan saling menunggu, tak akan...tak akan...

Terlalu tabu bagiku seorang wanita jika aku harus menceritakan semua yang ada dalam hatiku. Beginikah wanita. Menunggu. Andai semua kata yang belum tersampaikan mampu langsung bisa kau cerna. Oh bahagianya. Biarlah, menjadi cerita indah antara aku, hatiku, dan Tuhanku. Biar kamu menjadi permintaan terindah yang aku harap dapat Tuhan kabulkan.

Minggu, 26 April 2015

Dear Kedua Bidadariku

Dear Kedua Bidadariku...

Dua puluh tahun yang lalu, bagaimana ekspresi kalian Mah, Pak?
Bagaimana senyum kalian saat pertama kali menatapku? Aku selalu ingin melihat moment itu, agar aku tak pernah sia-siakan senyum di wajah mamah dan bapak saat ini, agar selalu ada semangat dalam diriku untuk terus membuat mamah dan bapak tersenyum.
Apa yang kalian harapkan saat pertama kali menggendongku? Aku sangat ingin tahu harapan-harapan itu, ingin ku berjuang menggapainya, seperti mamah yang berjuang begitu ikhlas untuk melahirkanku, aku ingin berjuang dengan ikhlas untuk membahagiakanmu. Seperti bapak yang berjuang dengan semangat untuk selalu membelikanku susu dan mainan yang lucu, aku ingin berjuang sesemangat itu untuk membahagiakanmu.
Dua puluh tahun yang lalu, Mah Pak, adakah engkau mengira aku akan  menjadi seperti ini?
Sudahkah aku sesuai harapan kalian? ataukah aku hanya menjadi kekecewaan?
Dua puluh tahun sudah Mah Pak, aku disini, belum mampu kuberikan apapun untuk kalian. Aku merasa belum berguna untuk kalian.
Terkadang dalam perjuangan ini pun aku sering merasa lelah dan putus asa. Tegur aku Mah, Pak.. Adakah kalian lelah membina ku selama dua puluh tahun ini?
Begitu Luar biasa Allah SWT telah membuatku terlahir dari rahim ibu yang begitu penuh kelembutan, mendidikku dengan penuh pengertian, kasih sayang. Ibu yang tak pernah mampu marah, hanya air mata yang selalu mewakili apapun perasaanmu, sedih, bahagia, marah, terluka, senang, air mata itu menjadi tanda, aku telah sangat mengenalmu. Kemudian Allah ciptakan aku dari air manai bapak, yang begitu tegas dan disiplin, pekerja keras, sehingga sifat keduanya sangat mengimbangiku untuk tumbuh sempurna. Bagiku, kalian adalah orangtua terhebat, aku bangga menajadi putrimu.


Putri kecilmu
Nia Alfitriyani

Aku mengira bahwa hidup yang bergulir meninggalkan waktu memang hanya terlintas begitu saja, tak ada makna. Hal itulah yang sering membuatku merasa sangat hampa, bosan, putus asa. Kemudian Allah menegur dalam AlQur'an.... bahwa sesungguhnya Dia telah memberikan banyak sekali nikmat, kita tak menyadarinya, karena kita telah sombong, tak mau bertafakkur diri. Kita mengira nafas hadir dengan sendirinya, kita bisa makan karena keringat kita. Padahal itu adalah nikmat yang sudah Dia berikan. Dua puluh tahun aku telah mengira tak ada yang terjadi dalam hidupku. Bosan, sering merasa putus asa, sering merasa gelisah. Itu pertanda aku telah menjauh dariNya. Ketika aku mendekat, Dia akan semakin dekat.
Ya Allah, bimbing selalu hamba untuk istiqomah di jalanMu. Aku titipkan kedua bidadariku, Ayah dan Ibu.. Ampunilah dosa-dosanya, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku sewaktu kecil..
Tak ada yang mampu kupersembahkan selain prestasi yang harus ku capai, membuatnya bangga adalah impian. Mampukanlah aku untuk menyelesaikan semua tugasku. 

Minggu, 08 Maret 2015

Minajaya Punya Cerita

Angin yang menerpa kulitku, terasa asing..Masih dengan mata terpejam ku hembus udaranya, masih terasa asing..Ku tajamkan pendengaranku agar aku bisa mengenali, begitu riak.. gemuruhnya menenangkanku.Perlahan ku buka mata yang terpejam, aku tersenyum.Matahari terbenam, memberi warna indah pada langit biru itu.Gulungan ombak seakan menghampiriku.Dimana aku?Aku rasa kembali, ada yang menggenggam tanganku, lembut.Aku lihat sosoknya menghitam di bawah sinar matahari yang akan terbenam.Dimana aku? dan siapa dia?

Minajaya.
Ceritaku tertinggal disana.
Sebelumnya aku tak pernah punya mimpi untuk bisa menginjakkan kaki ku disana, menghirup udaranya, menambah memori, mengukir senyum.
Pantainya memang tak seindah pantai yang mempesona di pulau dewata, namun sosok yang menggenggam erat tanganku lah yang membuatnya begitu berbeda.
Disana dia berhasil membuatku lupa bagaimana sakitnya menyimpan harap, memulai kembali, membangun lagi. Haruskah aku mulai percaya lagi?
Sudah lama aku menutup rapat celah hatiku agar tak pernah ada orang lain yang mampu merusaknya. 
Kata-kata itu menghipnotis.
Aku mabuk.

Terimakasih, engkau temukan kunci pintu ku.
Aku percaya cinta datang kembali, membawa harap, membawa tawa.
Namun, aku benar-benar dalam keadaan mabuk. Setelah aku sadar, tetap saja rasanya selalu ada takut. Menyimpan harap itu memang dahsyatnya merubah arahku.
Aku kehilangan kendali. Kini segala tujuanku selalu terfikir bagaimana bisa bersamamu.
Aku kehilangan prinsipku. Hancurlah aku, bergantung sudah padamu.

Segala kata selalu ingin ku sampaikan.
Aku takut membuatmu tak nyaman. Aku takut kamu bosan. Aku takut kamu pergi. Aku takut pada akhirnya bukan aku lah tujuanmu, sedangkan disini aku harus rapuh sendiri karena telah bertumpu dan berlabuh di hatimu.
Terkadang aku tersiksa harus menyimpan rindu, sendiri. Saat aku tak bisa sampaikan dengan kata, aku selalu sampaikan dengan do'a. Berharap engkau juga merasakan rindu di waktu yang sama.

Terkadang kata-katamu tak mampu ku cerna.
Terkadang aku tak sanggup terjemahkan kataku untuk ku sampaikan.
Terkadang aku selalu berharap engkau mengerti sendiri tanpa aku beritahu.
Terkadang aku kesal sendiri.
Terkadang aku mengutuk sikapku sendiri.
Menyimpan harap terkadang memang tak selalu mengenakkan.

Padahal waktu masih terasa sangat lama untuk bisa bersama.
Bisakah kita melewatinya?
Jodoh adalah takdir yang diikhtiarkan, katanya.
Aku terus berusaha.
Bagaimana denganmu?
Semoga aku tak berjuang sendiri.

Meskipun pada akhirnya pahit.
Minajaya akan tetap punya cerita.
Aku akan kesana kembali.
Kita lihat suatu saat nanti, bagaimana aku kesana.
Apakah tetap dengan cerita yang sama, atau lain cerita.
Aku tetap selalu berdo'a bahwa ceritaku tetap "Kamu".

Minggu, 18 Januari 2015

Takut itu (titik-titik)

Suara dalam ruang tersembunyi kini lantang terdengar lagi. Adakah engkau tahu yang ku teriakan itu adalah namamu? Tergesa ku menepis semua bayangan yang memenuhi pikiranku. Namun bayang engkau tak mampu beranjak pergi. Masih banyak rasa ketakutanku akan semua keputusanku untuk membuka pintu yang terkunci. Tapi anehnya, engkau bisa membukanya sendiri. Inikah akhir dari ke-keukeuh-anku atas prinsipku? Tapi tetap saja jawabannya adalah 'iya' namun terselimuti jaring-jaring takut itu.
Beberkan saja kata-kata yang mampu melepas rajutan takutnya. Ucapkan saja semua kata yang mampu mencairkan kerasnya hati ini. Jelaskan saja semua yang kau rasakan dan yang kau rencanakan tentang masa depan kita. Katakan saja semuanya. Hingga rajutan takut itu dengan sendirinya terlepas. Bisakah?
Mungkin engkau akan bertanya, sebenarnya apa ketakutanmu itu?
Aku takut ini semua akan menjadi kesia-siaan. Setelah dengan rela ku buka pintu, lalu engkau masuk dan hanya meninggalkan kenangan. Terlampau rapuh untukku membangun rumah baru. Aku takut harapan yang kau tanam malah berbuah kesakitan. Berbuah racun yang ku teguk setiap detiknya karena berbayangkan kenangan.
Aku takut untuk memulai kembali karena aku takut akan ada akhirnya.
Aku takut engkau bisa saja memutus benang yang terikat karena banyak bunga yang lebih indah untuk kau petik.
Aku terlampau takut akan meraaakan sakitnya jatuh, hingga lukanya berbekas tak mampu terobati.
Mengertikah ketakutan itu?
Ya Tuhan, yakinkan hatiku. Tak ada rasa takut jika aku serahkan semuanya padaMu.