Aku ingin menulis. Beberapa kali ku tegaskan kalimat itu di hati serta di fikiranku. Keinginan tersebut hanya sebatas keinginan yang tak pernah terealisasikan dalam kehidupanku, karena aku masih belum mau bergerak untuk menulis dan masih bingung harus mulai menulis dari mana.
Suatu hari, aku melihat pengumuman di mading kampus tentang seminar dan bedah buku yang di adakan oleh LSIP Untirta (Organisasi mahasiswa di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa). Seminar yang berjudul "Cinta itu tanda tanya" dengan pembicara Ade Rindu (penulis-salah satu bukunya "Para Pencari Tuhan") dan Amalia (founder Peduli Jilbab) serta bedah buku "Stop Menjadi Guru!" karya Asep Sapa'at. Aku cukup tertarik dengan pengumuman di mading itu dan kebetulan seminar di adakan di hari Sabtu sehingga aku bisa mengikuti seminar tersebut karena tidak ada kuliah di hari tersebut.
Aku di barisan kedua pada saat seminar tentang cinta akan di mulai. Saat melihat-lihat sekeliling auditorium, baru tersadar ternyata sudah lama aku tak menginjakkan kaki di auditorium ini. Terakhir kali aku ke auditorium itu ketika aku masih ikut organisasi Himpunan Mahasiswa Biologi yang pada akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari organisasi tersebut karena ketidaknyamanan dan ketidakselarasan visi misi.
Ana-teman Reka (teman kosanku) tampil baik sebagai hos pada acara itu, sambil menunggu pembicara datang hos meramaikan acara dengan mengajak berbincang audiens. Ketika itu hos bertanya kepada audiens mengenai arti cinta menurut pendapat masing-masing. Seorang wanita berkerudung pink dari Institut Agama Islam Negeri Serang Banten mengungkapkan pendapatnya mengenai arti cinta yang berdasar kuat pada agamanya serta cerita sahabat Rasulullah. Pada waktu itu aku ingin sekali mengangkat tanganku dan mengungkapkan arti cinta menurutku. Namun rasanya tangan ini berat sekali dan rasa malu seolah menutup semua keinginanku.
Cinta tak terlihatMaka mencintai sesuatu yang kau lihat, itu bukanlah arti cinta sesungguhnyaCinta tak terdengarMaka cinta yang berdasar dari suara, itu bukanlah arti cinta sesungguhnyaCinta tak terabaMaka mencintai sesuatu yang bisa kau raba-raba, itu bukan arti cinta yang hakikiJika engkau mencintai sesuatu yang bisa kau lihat,yang bisa kau dengar dan yang bisa kau rabaDapat mengubah yang batil menjadi yang hakDapat mengubah pahit menjadi manisDapat mengubah yang haram menjadi halalMengubah arak menjadi maduMencintai itu adalah bahagia karena melihatNya senangIngin menyenangkanNyaCinta yang hakiki adalah cinta kepada sang pemberi cinta
Andai keberanianku bisa sebesar keinginanku untuk memperdengarkan puisi ini kepada audiens. Namun, hanya mampu ku simpan sendiri di hatiku. Semoga puisi yang kubuat sendiri ini tak lagi hanya ku dengar sendiri. Pembaca yang budiman, bagaimana pendapatmu dengan puisi ini?
Kekagumanku memuncak ketika teh Amal membagikan ceritanya tentang proses ta'aruf sampai pernikahannya. Ceritanya sangat menginspirasiku. Aku semakin yakin bahwa cinta ini memang suci karena kita menjaganya agar tetap suci. Mbak Amalia ini menyiratkan makna bahwa cinta hakiki memang milik Tuhan, dan mencintai manusia haruslah dengan ridha Tuhan agar bisa berbahagia. Sedangkan Mbak Ade Rindu punya cerita lain dengan arti cintanya. Mbak Ade dulu pernah mesantren dan kemudian kuliah di Prancis. Di Prancis lah mbak Ade mulai kehilangan kendali sehingga dia silau akan gemerlapnya dunia dan kembali ke zaman jahiliyah. Namun sejak 5 tahun yang lalu dia kembali menggunakan hijabnya serta kembali ke jalan Allah. Kisah hidupnya sangat iya syukuri sehingga sekarang dia bisa survive dan bisa membagi ceritanya lewat buku-buku karyanya. Mbak Ade telah berumur 30 tahun namun dia belum menikah. Kami sempat terdiam ketika beliau mengatakan hal tersebut. Namun, kami faham dan kagum karena penuturan alasannya. Menurut beliau pernikahan tak bisa di buru-buru hanya karena wanita harus cepat menikah. Saya salut karena Mba Ade mampu menahan godaan-godaan selama penantiannya serta mampu sabar dalam menghadapi omongan-omongan orang tentangnya.
Aku mendapatkan banyak ilmu dari seminar ini, dan yang membuat hati saya semakin membara adalah ketika kedua pembicara ini mengatakan bahwa jika bersedih, menulislah.. jika senang, menulislah.
Kedua pembicara ini menjadi terkenal serta berguna bagi banyak orang lewat tulisannya. Mba Ade lewat buku-bukunya yang banyak memberikan inspirasi serta solusi. Mba Amal lewat dakwah-dakwahnya yang beliau tulis di blognya.
Aku semakin menebalkan kalimat "Aku Ingin Menulis!" di dalam hati dan fikiranku.
Selepas dhuhur, aku mengikuti bedah buku "Stop Menjadi Guru!" karya Asep Sapa'at. Pada awalnya tak terlihat begitu menarik. Namun, ketika acara di mulai, Bapak Asep Sapa'at memang sangat luar biasa! Diluar dugaanku. Acara ini sangat menarik dan sangat bernilai. Pak Asep banyak memintai kami pendapat mengenai materi yang sedang di bicarakan mengenai permasalahan pendidikan serta guru di Indonesia. Beliau adalah sosok yang inspiratif karena mau menjadi guru di pedalaman-pedalaman atau di daerah terpencil tanpa mengharapkan balasan. Beliau juga adalah seorang ketua dari organisasi Guru Indonesia, yang membantu dan mewadahi para guru Indonesia yang mau mencari pengalaman serta mau mengabdikan dirinya untuk mengajar di daerah-daerah terpencil.
Sekali lagi kata "Aku Ingin Menulis!" semakin menebal di hati dan fikiranku ketika bapak Asep mengatakan bahwa seorang guru harus pandai menulis dan menyumbangkan karya-karya nya bagi bangsa.
"Agar tertarik menjadi penulis, mulailah dari membaca. Jika malas untuk membaca, mulailah membaca dari hal yang kau sukai. Jika kau suka memasak mulailah sering membaca buku-buku panduan memasak atau resep masakan. Setelah terbiasa membaca mulai kembangkan ke buku-buku bergenre lain. Setelah pandai membaca. Mulailah menulis! Tulis apa saja yang ingin kau tulis. Masalah aturan atau teknik menulis, nanti kau akan belajar sendiri setelah kau terbiasa menulis."
Itulah pesan yang terangkum nyata di otakku. Pesan yang sangat luarbiasa. Sehingga mampu menggerakkanku. Aku sadar, keinginan untuk menulis ini jangan hanya tersimpan begitu saja. Aku harus memulainya. Setelah yakin dengan keinginanku itu, aku jadi mulai rajin membaca. Aku suka buku-buku motivasi. Maka aku memulai membaca dari buku-buku tersebut. Jangan jadi muslimah nyebelin, Halaqah Cinta, Stop menjadi guru, 100 pesan nabi pada wanita, itulah sederet judul buku yang telah aku baca.
Aku juga memulai karierku dari sering menulis diary agar aku terlatih untuk bisa menuangkan ceritaku dalam tulisan.
Tak lama setalah aku rutin melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, pengumuman baru di mading cukup mengejutkanku. Essay Competition yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan.
"Ya Allah, mungkin ini adalah jawaban dari doaku.Terimakasih ya Allah telah memberikan jalan untukku.Baru kemarin ku panjatkan doa ini, Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang terimakasih atas jawaban doa ini".
Mungkin orang yang membaca diaryku akan tertawa dan mengatakan sangat lebay. Tak mengapa, karena itulah yang aku rasakan. hehe
Aku mengikuti kompetisi essay tersebut, tema essay nya adalah tentang Maulid Nabi. Judul essay perdana ku adalah "Rajaban, mencari berkah atau mencari berkat?"
Semoga ini menjadi langkah awal yang baik, semoga cita-citaku menjadi penulis dapat tercapai. Aamiin.
Aku yakin, Tuhan bersama orang-orang yang berusaha. Tetap gapai mimpi, usaha, doa, dan tawakal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar