Senin, 26 Mei 2014

Rajaban, Mencari Berkah atau Mencari Berkat?

“Allaahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighna Ramadhana.”
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, dan sampaikanlah umur kami bertemu Ramadhan.”
Pak Fadhulullah, dosen pengampu Seminar Pendidikan Agama Islam mengawali kuliah pagi itu dengan doa tersebut, kemudian kami ikut melantunkannya bersama-sama. Bukan tanpa alasan pak Fadhlullah tiba-tiba melantunkan doa tersebut. Ya, perkuliahan pada hari itu tepat pada bulan Rajab. Bulan Rajab disebut juga sebagai bulannya Allah. Bulan Rajab adalah bulan mulia karena terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj. Pak Fadhlullah, dosen Seminar Pendidikan Agama Islam bercerita sedikit tentang kisah Isra’ Mi’raj. Saya termasuk sosok yang kagum dengan beliau karena segudang  ilmu dan wawasannya. Tak pernah habis topik pembicaraan kami jika berbincang bersama beliau. Beliau membuka diskusi pada perkuliahan pagi itu dengan sebuah pertanyaan. “Apa yang harus dimaknai dari peristiwa Isra’ Mi’raj? Apa yang kalian lakukan dalam memaknainya? Apakah mengadakan pesta masyarakat? Apakah mengadakan acara besar-besaran dengan penceramah ulama besar, panggung yang mewah, dan makanan yang serba ada? Ataukah justru tiba-tiba menjadi pemburu masjid hanya karena ingin mendapatkan berkat (makanan yang dibagikan pada saat peringatan hari besar Islam atau pengajian sebagai tanda sedekah)? ”
Lantas pertanyaan itu membuat saya sempat menerawarang pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat dalam memperingati dan memaknai Isra’ Mi’raj. Benarkah sesuai syariat Islam yang selama ini sudah menjadi tradisi turun temurun itu? Apa hikmah yang dapat diambil oleh kita sebagai masyarakat dan kaum muslim wamuslimat lewat acara-acara untuk memperingati hari besar Islam tersebut?
Isra’ secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, isra’ adalah perjalanan Rasulullah bersama Jibril dari Makkah ke Baitul Maqdis (Palestina). Sedangkan mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Adapun secara istilah, mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh Nabi untuk naik dari bumi menuju ke atas langit. Jadi pada intinya Isra’ Mi’raj adalah dua perjalanan Rasulullah SAW pada satu malam yaitu dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha serta perjalanan menuju Sidratul Muntaha. Tidak ada penjelasan yang pasti kapan itu terjadinya Isra’ Mi’raj. Ada ulama yang mengatakan Isra’ Mi’raj itu terjadi pada malam pertama sebelum hijrah dan ada juga ulama yang mengatakan Isra’ Mi’raj itu terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian dan itulah yang paling populer dan dipercayai oleh masyarakat sampai saat ini.
Penjelasan tentang Isra’ ini juga termaktub dalam alqur’an surat Al-Isra’ ayat 1 :
“Maha suci Allah yang menjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebahagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. 17 Al-Isra’ : 1)
Sedangkan penjelasan tentang Mi’raj termaktub dalam alqur’an surat An-Najm ayat 1-18:
“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. (QS. An-Najm : 1-18)
Penggalan ayat di atas menyiratkan pesan dengan makna yang sangat luar biasa. Rasulullah di berikan keajaiban oleh Allah SWT untuk dapat merasakan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan perjalan menuju Sidratul Muntaha. Perjalanan ini dilakukan hanya pada waktu semalam. Rasulullah daapat bertemu dengan Jibril dan juga mendapat mandat langsung dari Allah yaitu berupa ibadah shalat. Pada waktu itu banyak orang yang tidak percaya akan apa yang telah terjadi pada Rasulullah hanya sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Bakar As-Shidiq yang pertama kali mempercayainya.
Namun, sekarang ini bagaimana terjadinya peristiwa isra’ mi’raj tak menjadi lebih penting dari bagaimana cara kita memaknainya. Peristiwa isra’ mi’raj menghasilkan satu perintah ibadah yaitu shalat. Bagaimana kita bisa memaknai perintah tersebut. Mengapa Allah memerintahkan shalat kepada manusia? Dan mengapa perintah tersebut harus shalat? Ironi nya, tak banyak orang islam yang mampu memaknai peristiwa ini dengan makna sebenarnya malah memperingati peristiwa tersebut dengan kebiasaan yang bid’ah, hura-hura, pesta rakyat, padahal islam tak mengajarkan orang islam untuk menjadi bid’ah dan sifatnya menghambur-hamburkan serta bermegah-megahan, apalagi niatnya memang hanya untuk memeriahkan tak ada niat lain yang lebih edukasi untuk mengambil hikmah dari peristiwa isra’ mi’raj ini. Tak ada di dalam al-qur’an atau sunnah Rasul yang mengajarkan bahwa untuk memperingati isra’ mi’raj haruslah semeriah mungkin. Justru Allah melarang perbuatan bermegah-megahan tersebut, dan ini jelas ada pada Al-qur’an surat At-takasur “bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk kedalam kubur….”. Dengan adanya acara-acara besar untuk peringatan isra’ mi’raj itu menjadikan orang Islam lupa akan makna sebenarnya. Mereka cenderung lebih menikmati acaranya saja tanpa belajar dari kisah perjalanan Rasulullah ini.
Peringatan Isra’ Mi’raj ini sering disebut sebagai rajaban. Hampir di setiap daerah rajaban sering identik dengan perayaan. Termasuk di daerah asal saya, Sukabumi. Saya masih ingat ketika rajaban di kampung sering mengadakan perayaan rajaban dengan mendatangkan ulama besar sebagai penceramah, yang hadir pada acara itu lima kali lipat bahkan bisa sampai sepuluh kali lipat dari hadirin majlis pada biasanya. Para pemuda yang biasanya tak suka ke masjid mendadak rajin jadi pemburu masjid. Ketika saya bertanya “mau kemana mas? Mampir dulu..” pada pemuda yang hendak lewat depan rumah saya menuju masjid, mereka menjawab sangat sederhana “ngarah jomet!” (mengambil berkat!).
Ini berlaku untuk masjid kedua di minggu selanjutnya. Masjid yang mengadakan acara rajaban ini sangat ramai oleh para hadirin. Namun, setelah acara rajaban selesai, hari-hari berikutnya masjid nampak lenggang kembali.
Jadi sebenarnya mereka memaknai rajaban ini sebagai mengais berkat bukan mengais berkah.
Andai orang islam lebih faham ada cara yang lebih baik menurut syariat islam untuk memperingati acara tersebut mungkin fenomena “ngarah jomet!” tak akan menjadi budaya lagi di masyarakat kita. Agar orang Islam faham dengan cara-cara yang baik untuk memperingati Isra’ Mi’raj ini hendaknya orang Islam tahu dahulu apa hikmah dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini.
Kuasa Allah SWT yang memberikan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha serta ke Sidratul Muntaha dalam waktu semalam pada Rasulullah adalah suatu keajaiban yang sangat luar biasa, meski bagi penalaran manusia ini sangat mustahil namun tidak ada hal yang mustahil bagi Allah SWT. Kita wajib mengimaninya dan mengagungkan kebesaran Allah SWT. Ini hikmah yang pertama dari peristiwa isra’ mi’raj.
Kedua, seharusnya kita memberikan shalawat serta salam tiada hentinya kepada Rasulullah SAW. Pada awalnya Allah memberikan mandat kepada beliau shalat 50 waktu dalam semalam, namun berkat usulan Nabi Musa AS, Rasulullah ‘turun-naik’ untuk mendapatkan keringanan karena Rasulullah tidak ingin pengikutnya merasa terbebani. Begitu besar rasa kasih sayang beliau sehingga tak ada celah bagi kita untuk tak menyayangi-Nya. Setelah kewajiban sholat menjadi hanya 5 waktu, masih pantaskah kita berleha-leha bahkan berani meninggalkan untuk melaksanakannya sedangkan perjuangan Rasulullah untuk keringanan tersebut telah kita ketahui?
Ketiga, peristiwa isra’ mi’raj ini tidak pasti kapan terjadinya, banyak ulama yang berpendapat mengenai waktu terjadinya peristiwa isra’ mi’raj ini. Hal ini menandakan makna isra’ mi’raj lebih penting dari pada waktu terjadinya. Tak pantas kita berhura-hura di bulan Rajab yang kita yakini sebagai bulan dimana terjadinya peristiwa tersebut. Hendaknya segala hikmah yang terjadi pada peristiwa Isra’ Mi’raj, kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti semakin rajin mengagungkan nama Allah, lebih sering bershalawat kepada Rasululullah, tidak pernah menunda-nunda shalat.
Jika kita ingin memperingati Isra’ Mi’raj ini sebagai bentuk rasa syukur bisa lewat mengadakan ceramah atau kegiatan yang lebih edukasi dan jauh dari sifat bid’ah serta bermegah-megahan.
Misalnya, dengan mengadakan acara ceramah dari ustadz dari kampung sebelah di masjid pada malam isra’ mi’raj, kemudian ustadz tersebut menceritakan kisah isra’ mi’raj, hikmahnya yang pada awalnya sholatnya bolong-bolong setelah mendengar kasih sayang Rasulullah yang begitu besar bagi umatnya dengan meminta keringanan pada Allah SWT pada akhirnya orang tersebut jadi rajin shalat. Serta acara ini tidak banyak mengeluarkan kas masjid untuk bayar sewa panggung, bayar sewa sound sistem serta menjauhkan dari sifat hanya menikmati acara. Si pemburu berkat juga jadi fokus untuk mendengarkan isi ceramah. Mudah-mudahan si pemburu berkat sadar, ada berkah yang lebih indah dari sebungkus berkat tersebut.
Kegiatan yang bersifat edukasi juga bisa kita terapkan untuk mensyukuri adanya peristiwa isra’ mi’raj ini. Misalnya, essay competition yang di adakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan ini. Setelah adanya lomba essay ini, banyak orang yang lebih menggali ilmu tentang isra’ mi’raj. Meski pada dasarnya, mereka membaca serta menggali ilmu tersebut hanya untuk mendapatkan juara, namun secara tidak sadar mereka menjadi tahu ilmu tersebut. Selain bersifat edukasi bagi si peserta, lomba ini juga menghasilkan karya tulis yang bisa orang lain baca. Banyak sekali hikmahnya bukan? Bukan malah membuat kegiatan lomba kerupuk atau lomba kelereng yang tidak bersifat edukasi serta tidak ada sangkut pautnya dengan Isra’ Mi’raj ini. Apalagi jika mengadakan dangdutan. Aduh, sama sekali bukan Islam banget! Jika kegiatannya untuk konteks anak-anak, bisa dikemas misalnya dalam bentuk lomba ceramah dengan tema Isra’ Mi’raj, lomba qura’ dan tilawah dengan ayat yang berhubungan dengan Isra’ Mi’raj. Si pemburu berkat malu gak tuh sama anak-anak yang sedang lomba ceramah? Datang dan duduk untuk mendapatkan berkat saja. Mari doakan saja mudah-mudahan pemburu berkat mau taubat.
Jadi, bagi kita yang mau melaksanakan syukuran untuk memperingati Isra’ Mi’raj ini tidak ada lagi alasan untuk memperingatinya dengan cara yang bid’ah, banyak kegiatan lain yang lebih baik dan tidak mencemari Islam dengan ala dangdutan pada perayaan Isra’ Mi’raj-nya. Serta bagi kita yang mau datang menghadiri syukuran Isra’ Mi’raj tak ada lagi alasan hanya menjadi seorang pemburu berkat. Banyak hikmah dan berkah yang bisa kita ambil pada peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Say No!!! untuk pemburu berkat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar