“Allaahumma baariklanaa fii Rajaba
wa Sya’baana wa ballighna Ramadhana.”
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan
Rajab dan Sya’ban ini, dan sampaikanlah umur kami bertemu Ramadhan.”
Pak Fadhulullah, dosen pengampu Seminar
Pendidikan Agama Islam mengawali kuliah pagi itu dengan doa tersebut, kemudian
kami ikut melantunkannya bersama-sama. Bukan tanpa alasan pak Fadhlullah
tiba-tiba melantunkan doa tersebut. Ya, perkuliahan pada hari itu tepat pada
bulan Rajab. Bulan Rajab disebut juga sebagai bulannya Allah. Bulan Rajab
adalah bulan mulia karena terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj. Pak Fadhlullah,
dosen Seminar Pendidikan Agama Islam bercerita sedikit tentang kisah Isra’
Mi’raj. Saya termasuk sosok yang kagum dengan beliau karena segudang ilmu dan wawasannya. Tak pernah habis topik
pembicaraan kami jika berbincang bersama beliau. Beliau membuka diskusi pada
perkuliahan pagi itu dengan sebuah pertanyaan. “Apa yang harus dimaknai dari
peristiwa Isra’ Mi’raj? Apa yang kalian lakukan dalam memaknainya? Apakah
mengadakan pesta masyarakat? Apakah mengadakan acara besar-besaran dengan
penceramah ulama besar, panggung yang mewah, dan makanan yang serba ada?
Ataukah justru tiba-tiba menjadi pemburu masjid hanya karena ingin mendapatkan berkat (makanan yang dibagikan pada saat
peringatan hari besar Islam atau pengajian sebagai tanda sedekah)? ”
Lantas pertanyaan itu membuat saya
sempat menerawarang pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat dalam
memperingati dan memaknai Isra’ Mi’raj. Benarkah sesuai syariat Islam yang
selama ini sudah menjadi tradisi turun temurun itu? Apa hikmah yang dapat
diambil oleh kita sebagai masyarakat dan kaum muslim wamuslimat lewat
acara-acara untuk memperingati hari besar Islam tersebut?
Isra’ secara bahasa berasal dari
kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, isra’
adalah perjalanan Rasulullah bersama Jibril dari Makkah ke Baitul Maqdis
(Palestina). Sedangkan mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk
naik. Adapun secara istilah, mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh
Nabi untuk naik dari bumi menuju ke atas langit. Jadi pada intinya Isra’ Mi’raj
adalah dua perjalanan Rasulullah SAW pada satu malam yaitu dari Masjidil Haram
ke Masjidil Aqsha serta perjalanan menuju Sidratul Muntaha. Tidak ada
penjelasan yang pasti kapan itu terjadinya Isra’ Mi’raj. Ada ulama yang
mengatakan Isra’ Mi’raj itu terjadi pada malam pertama sebelum hijrah dan ada
juga ulama yang mengatakan Isra’ Mi’raj itu terjadi pada malam 27 Rajab tahun
ke-10 kenabian dan itulah yang paling populer dan dipercayai oleh masyarakat
sampai saat ini.
Penjelasan tentang Isra’ ini juga
termaktub dalam alqur’an surat Al-Isra’ ayat 1 :
“Maha suci Allah yang menjalankan
hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami
berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebahagian tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS.
17 Al-Isra’ : 1)
Sedangkan penjelasan tentang
Mi’raj termaktub dalam alqur’an surat An-Najm ayat 1-18:
“Demi bintang ketika terbenam,
kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang
diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada
lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh
(Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu)
menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi.
Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada
Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia
menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya
tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah)
hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya
Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang
lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad
melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak
(pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda
(kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. (QS. An-Najm : 1-18)
Penggalan ayat di atas menyiratkan
pesan dengan makna yang sangat luar biasa. Rasulullah di berikan keajaiban oleh
Allah SWT untuk dapat merasakan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil
Aqsha dan perjalan menuju Sidratul Muntaha. Perjalanan ini dilakukan hanya pada
waktu semalam. Rasulullah daapat bertemu dengan Jibril dan juga mendapat mandat
langsung dari Allah yaitu berupa ibadah shalat. Pada waktu itu banyak orang yang
tidak percaya akan apa yang telah terjadi pada Rasulullah hanya sahabat
Rasulullah SAW yaitu Abu Bakar As-Shidiq yang pertama kali mempercayainya.
Namun, sekarang ini bagaimana
terjadinya peristiwa isra’ mi’raj tak menjadi lebih penting dari bagaimana cara
kita memaknainya. Peristiwa isra’ mi’raj menghasilkan satu perintah ibadah
yaitu shalat. Bagaimana kita bisa memaknai perintah tersebut. Mengapa Allah
memerintahkan shalat kepada manusia? Dan mengapa perintah tersebut harus
shalat? Ironi nya, tak banyak orang islam yang mampu memaknai peristiwa ini
dengan makna sebenarnya malah memperingati peristiwa tersebut dengan kebiasaan
yang bid’ah, hura-hura, pesta rakyat, padahal islam tak mengajarkan orang islam
untuk menjadi bid’ah dan sifatnya menghambur-hamburkan serta bermegah-megahan, apalagi
niatnya memang hanya untuk memeriahkan tak ada niat lain yang lebih edukasi
untuk mengambil hikmah dari peristiwa isra’ mi’raj ini. Tak ada di dalam
al-qur’an atau sunnah Rasul yang mengajarkan bahwa untuk memperingati isra’
mi’raj haruslah semeriah mungkin. Justru Allah melarang perbuatan
bermegah-megahan tersebut, dan ini jelas ada pada Al-qur’an surat At-takasur “bermegah-megahan
telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk kedalam kubur….”. Dengan adanya
acara-acara besar untuk peringatan isra’ mi’raj itu menjadikan orang Islam lupa
akan makna sebenarnya. Mereka cenderung lebih menikmati acaranya saja tanpa
belajar dari kisah perjalanan Rasulullah ini.
Peringatan Isra’ Mi’raj ini sering
disebut sebagai rajaban. Hampir di setiap daerah rajaban sering identik
dengan perayaan. Termasuk di daerah asal saya, Sukabumi. Saya masih ingat ketika
rajaban di kampung sering mengadakan perayaan rajaban dengan mendatangkan ulama
besar sebagai penceramah, yang hadir pada acara itu lima kali lipat bahkan bisa
sampai sepuluh kali lipat dari hadirin majlis pada biasanya. Para pemuda yang
biasanya tak suka ke masjid mendadak rajin jadi pemburu masjid. Ketika saya
bertanya “mau kemana mas? Mampir dulu..” pada pemuda yang hendak lewat depan
rumah saya menuju masjid, mereka menjawab sangat sederhana “ngarah jomet!”
(mengambil berkat!).
Ini berlaku untuk masjid kedua di
minggu selanjutnya. Masjid yang mengadakan acara rajaban ini sangat ramai oleh
para hadirin. Namun, setelah acara rajaban selesai, hari-hari berikutnya masjid
nampak lenggang kembali.
Jadi sebenarnya mereka memaknai
rajaban ini sebagai mengais berkat bukan mengais berkah.
Andai orang islam lebih faham ada
cara yang lebih baik menurut syariat islam untuk memperingati acara tersebut
mungkin fenomena “ngarah jomet!” tak akan menjadi budaya lagi di
masyarakat kita. Agar orang Islam faham dengan cara-cara yang baik untuk
memperingati Isra’ Mi’raj ini hendaknya orang Islam tahu dahulu apa hikmah dari
peristiwa Isra’ Mi’raj ini.
Kuasa Allah SWT yang memberikan
perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha serta ke Sidratul Muntaha
dalam waktu semalam pada Rasulullah adalah suatu keajaiban yang sangat luar
biasa, meski bagi penalaran manusia ini sangat mustahil namun tidak ada hal
yang mustahil bagi Allah SWT. Kita wajib mengimaninya dan mengagungkan
kebesaran Allah SWT. Ini hikmah yang pertama dari peristiwa isra’ mi’raj.
Kedua, seharusnya kita memberikan
shalawat serta salam tiada hentinya kepada Rasulullah SAW. Pada awalnya Allah
memberikan mandat kepada beliau shalat 50 waktu dalam semalam, namun berkat
usulan Nabi Musa AS, Rasulullah ‘turun-naik’ untuk mendapatkan keringanan
karena Rasulullah tidak ingin pengikutnya merasa terbebani. Begitu besar rasa
kasih sayang beliau sehingga tak ada celah bagi kita untuk tak menyayangi-Nya.
Setelah kewajiban sholat menjadi hanya 5 waktu, masih pantaskah kita
berleha-leha bahkan berani meninggalkan untuk melaksanakannya sedangkan
perjuangan Rasulullah untuk keringanan tersebut telah kita ketahui?
Ketiga, peristiwa isra’ mi’raj ini
tidak pasti kapan terjadinya, banyak ulama yang berpendapat mengenai waktu
terjadinya peristiwa isra’ mi’raj ini. Hal ini menandakan makna isra’ mi’raj
lebih penting dari pada waktu terjadinya. Tak pantas kita berhura-hura di bulan
Rajab yang kita yakini sebagai bulan dimana terjadinya peristiwa tersebut.
Hendaknya segala hikmah yang terjadi pada peristiwa Isra’ Mi’raj, kita
aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti semakin rajin mengagungkan
nama Allah, lebih sering bershalawat kepada Rasululullah, tidak pernah
menunda-nunda shalat.
Jika kita ingin memperingati Isra’
Mi’raj ini sebagai bentuk rasa syukur bisa lewat mengadakan ceramah atau
kegiatan yang lebih edukasi dan jauh dari sifat bid’ah serta bermegah-megahan.
Misalnya, dengan mengadakan acara
ceramah dari ustadz dari kampung sebelah di masjid pada malam isra’ mi’raj,
kemudian ustadz tersebut menceritakan kisah isra’ mi’raj, hikmahnya yang pada
awalnya sholatnya bolong-bolong setelah mendengar kasih sayang Rasulullah yang
begitu besar bagi umatnya dengan meminta keringanan pada Allah SWT pada
akhirnya orang tersebut jadi rajin shalat. Serta acara ini tidak banyak
mengeluarkan kas masjid untuk bayar sewa panggung, bayar sewa sound sistem
serta menjauhkan dari sifat hanya menikmati acara. Si pemburu berkat
juga jadi fokus untuk mendengarkan isi ceramah. Mudah-mudahan si pemburu berkat
sadar, ada berkah yang lebih indah dari sebungkus berkat tersebut.
Kegiatan yang bersifat edukasi
juga bisa kita terapkan untuk mensyukuri adanya peristiwa isra’ mi’raj ini.
Misalnya, essay competition yang di adakan oleh Himpunan Mahasiswa
Ekonomi Pembangunan ini. Setelah adanya lomba essay ini, banyak orang yang
lebih menggali ilmu tentang isra’ mi’raj. Meski pada dasarnya, mereka membaca
serta menggali ilmu tersebut hanya untuk mendapatkan juara, namun secara tidak
sadar mereka menjadi tahu ilmu tersebut. Selain bersifat edukasi bagi si
peserta, lomba ini juga menghasilkan karya tulis yang bisa orang lain baca.
Banyak sekali hikmahnya bukan? Bukan malah membuat kegiatan lomba kerupuk atau
lomba kelereng yang tidak bersifat edukasi serta tidak ada sangkut pautnya
dengan Isra’ Mi’raj ini. Apalagi jika mengadakan dangdutan. Aduh, sama sekali
bukan Islam banget! Jika kegiatannya untuk konteks anak-anak, bisa dikemas
misalnya dalam bentuk lomba ceramah dengan tema Isra’ Mi’raj, lomba qura’ dan
tilawah dengan ayat yang berhubungan dengan Isra’ Mi’raj. Si pemburu berkat
malu gak tuh sama anak-anak yang sedang lomba ceramah? Datang dan duduk untuk
mendapatkan berkat saja. Mari doakan saja mudah-mudahan pemburu berkat
mau taubat.
Jadi, bagi kita yang mau
melaksanakan syukuran untuk memperingati Isra’ Mi’raj ini tidak ada lagi alasan
untuk memperingatinya dengan cara yang bid’ah, banyak kegiatan lain yang lebih
baik dan tidak mencemari Islam dengan ala dangdutan pada perayaan Isra’ Mi’raj-nya.
Serta bagi kita yang mau datang menghadiri syukuran Isra’ Mi’raj tak ada lagi
alasan hanya menjadi seorang pemburu berkat. Banyak hikmah dan berkah
yang bisa kita ambil pada peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Say No!!! untuk pemburu berkat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar