Selasa, 08 Juli 2014

Taklukkan Kegagalan dengan Konsisten pada Prinsip

Bagiku gagal adalah berhenti di tengah jalan. Ketika langkahku terhenti di tengah-tengah perjalanan, tubuhku sangat haus rasanya ingin menyerah saja, tapi dalam fikiranku masih terbayang tujuan yang harus di capai. Perbandingannya setengah untuk kembali dan setengah untuk melanjutkan dan pada akhirnya aku memilih kembali atau mundur. Itulah kegagalan bagiku. Beberapa kali aku pernah mengalami situasi ini. Aku pernah lulus dalam ujiannya dan mendapatkan kepuasan dalam diriku. Namun, aku juga pernah mengambil jalan mundur dan mendapatkan rasa penyesalan serta rasa bersalah dalam hatiku.
Bagi sebagian orang kegagalan adalah tak mampu mencapai hasil yang ditargetkan. Gagal mendapat nilai 100. Gagal menjadi dokter. Gagal berangkat ke Amerika. Kegagalan adalah kehancuran.
Bagi sebagian orang yang lain lagi kegagalan adalah tak mampu menggapai kebahagiaan. Tak bahagia meskipun hidup sudah bergelimang harta. Tak bahagia meskipun namanya sudah di penuhi banyak title. Tak bahagia meskipun sudah mampu keliling dunia. Kegagalan adalah kesedihan.
Kegagalan adalah kehancuran, kesedihan, keputusasaan. Itu semua hanyalah teori. Kita lebih tahu arti gagal bagi diri kita sendiri. Seperti apa kata itu begitu menakutkan dan menaklukan diri kita. Seberapa mampu kita untuk melemahkan kata gagal itu. Serta hal apa yang biasa kita lakukan untuk menaklukannya. Yang perlu kita tegaskan adalah rasa percaya diri serta konsistensi kita untuk tetap memegang teguh pendirian kita dalam memegang prinsip menaklukan kegagalan itu.
Tak mudah seperti kata yang baru saja terlontar. Untuk konsisten memegang prinsip perlu pengorbanan. Aku adalah seseorang yang study orientation. Prinsipku adalah dengan belajar yang sungguh-sungguh dapat mengubah hidupku. Beberapa waktu lalu aku mencoba untuk mengikuti suatu organisasi, namun aku merasa kegiatan itu cukup menyita waktu dan fikiranku sehingga aku tak punya waktu banyak lagi untuk belajar seperti yang aku biasa lakukan. Kemudian aku mengambil langkah besar untuk keluar dari organisasi tersebut. Bukan tanpa pertimbangan  karena untuk keluar dari organisasi tersebut berarti satu kegagalan yang aku raih. Berhenti di tengah jalan sebagai seorang organisator. Tapi kegagalan ini lebih baik daripada aku gagal dalam belajarku atau gagal kedua-duanya. Harus ada yang dikorbankan. Aku mengorbankan citra diriku menjadi seorang yang tidak bertanggung jawab dan melepas tanggung jawab demi tujuan besar dan prinsip utamaku. Ini adalah pilihan. Aku tak menyesal telah gagal menjadi seorang organisator. Tapi aku harus berhasil dalam belajarku sebagai suatu yang telah aku perjuangkan. Jika aku gagal dalam keduanya, atau berhasil menjadi seorang organisator namun gagal dalam belajarku, aku tak akan pernah mencapai titik puas dan bahagia. Itu baru namanya kegagalan yang sesungguhnya bagiku. Aku telah memegang prinsipku dalam melakukan hal yang aku senangi dan cita-citakan dari awal.
Pilih dan perjuangkanlah yang menjadi prioritas utamamu. Yang kamu yakin hal itu akan membuatmu bahagia dan mencapai titik puncak kepuasan batinmu. Karena ketika kita berada pada lingkup yang kita sukai dan senangi kemungkinan untuk berhasil mencapai tujuan sangat besar. Taklukkan kegagalan dengan semangat yang berkobar untuk keberhasilan.