Ada kota yang riuh memintaku mengingat kembali bagaimana suka membuat riuh setiap jengkal napas yang kita hirup bersama
Setiap detak terdengar dari jam dinding tak lagi terdengar kerana gelak tawa kita terlampau keras menenggelamkannya
Aku akui bahwa jejak tapak bahagia di kota mungil ini tak bisa begitu saja menghilang dari ingatan, meski semua yang menjadi jejak telah dihapuskan
Aku selalu ingin agar tak pernah ada hal yang mampu membawaku melayang pada masa yang tak bisa ku genggam
Namun, otak manusia adalah penyimpan memori yang sempurna
Hingga tapak kembali menjejakkan di kota mungil ini, keriuhan itu hanya ada dalam lamunan
Aku merasa riuh dalam keheningan ini.
Kota mungil nan hening yang pernah riuh ini, aku akan hidupkan kembali.
Tenang saja, aku tak membenci kota ini. Aku menjaga setiap ceritanya menjadi senyum kecil pengobat rinduku.
Selamat berbahagia. Aku menyusul bahagia. Sebentar lagi.