Virus
merah jambu selalu menjadi topik yang sangat menarik untuk di bahas. Saya masih
ingat ketika pertama kali merasakan hal tersebut. Tepatnya ketika saya duduk di
kelas 1 SMA, menjadi seorang remaja yang sedang mencari jati diri dan berada di
lingkungan yang cukup bebas untuk mengekspresikan soal perasaan. Pada waktu itu
saya tumbuh menjadi adik kelas yang mengagumi kakak kelasnya, dan sepertinya
dewa fortuna memang sedang berpihak kepadaku. Jreng! Jreng! Cinta terbalaskan. Masa
remaja saya sebagai seorang siswi SMA menjadi sedikit sia-sia. Saya memang
masih sering belajar, dan mendapatkan prestasi yang masih diharapkan. Namun,
ada kesia-siaan karena harus membuang waktu berharga hanya untuk “pacaran”. Andai
saja waktu itu saya benar-benar fokus pada studi mungkin beberapa penghargaan
bisa diraih.
Cerita
tinggal cerita, penyesalan tinggal penyesalan. Ketika saya masuk di bangku
kuliah, cerita tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saya mengerti
karena saya pernah mengalami. Saya tahu dan bisa mencegah karena saya pernah
terserang. Reka, sahabat saya yang tak pernah merasakan yang namanya pacaran,
dia sering bertanya mengapa saya mau memulai pada waktu itu, dan mengapa saya
menyesal saat ini. “Ukhti, pada waktu itu saya sedang labil dan sekarang saya
sudah faham” tuturku. Maka dari itu, lewat tulisan ini saya ingin berbagi
sedikit pengalaman mengenai mencegah serta memahami virus merah jambu ini.
Virus
merah jambu ini sangat berbahaya bagi kaum remaja yang notabene nya belum
memiliki pondasi dan visi misi hidup yang jelas. Kaum remaja sering menomor satukan
perasaan. Jika cinta ya nyatakan, jika benci ya katakan. Begitulah jiwa yang
penuh ekspresi. Ada satu hal yang kita lupakan, cinta akan suci karena kita
yang menyucikan. Jika perasaan cintamu kepada lawan jenis yang bukan mahrom mu
kau nyatakan dalam perbuatan maka noda akan menetes di cinta suci itu.
Aku
menjadi sangat mengerti betapa berbahagianya Fatimah Az-Zahra putri Rasulullah
SAW yang mampu menyembunyikan perasaanya kepada Ali bin Abi Thalib sehingga
syetan pun tak mengetahuinya. Pada akhirnya cintanya indah dalam kesucian
ketika Ali menikahinya. Pemuda yang pertama kali dicintainya telah menjadi
suaminya. Betapa beruntungnya Ali bin Abi Thalib yang menikahi Fatimah
Az-Zahra, wanita yang dicintainya dan Ali menjadi pemuda yang satu-satunya
dicintai oleh Fatimah.
Kita
memang tak dapat menjadi Fatimah Az-Zahra yang dapat menyembunyikan perasaan
kita hingga syetan pun tak mengetahuinya. Namun, setidaknya dapatkah kita
menahan godaan syetan untuk menahan perasaan kita sehingga kita tak terjerumus
dalam perbuatan yang di benci oleh Allah SWT sehingga menodai cinta suci kita? Sabar
itu tiada batasnya. Allah pasti akan menggantinya dengan sesuatu yang tak akan
kita duga kenikmatannya. Bersabarlah, tak lama lagi akan ada pangeranmu yang
berbicara pada orangtua mu untuk meminangmu wahai sholiha. Cinta suci mu akan
terselamatkan. Bersabarlah, tak lama lagi akan ada bidadari yang menunggu mu
untuk kau persunting, yang siap kau ajak untuk beribadah kepada Allah, siap
menemani mu dalam suka maupun duka. Cinta mu akan sampai di tempat yang suci
dan Allah ridhai. Bersabarlah, wahai sholeh.
Sekali
kamu masuk dalam lingkarang pergaulan bebas mengekspresikan virus merah jambu
mu, sangat sulit untuk keluar dalam zona tersebut. Sekali kamu pernah merasakan
pacaran, rasanya akan terus ketagihan. Jika kemarin putus dengan pacar lama,
seminggu kemudian dapat pengganti. Sehari single, galau nya minta ampun. Itulah
tanda-tanda kamu sudah terkena candu pacaran. Jangan katakan terlanjur jika
ingin berhenti pacaran. Jika kita niat, insyaallah Allah selalu memberikan
jalan.
Ada
beberapa faktor yang membuat saya memutuskan untuk tidak pacaran. Pertama,
waktu itu saya merasa selalu sakit hati dan menjadi manusia super galau, mood
saya sering berubah-ubah ketika saya pacaran. Pertama kali ditembak pacar,
rasanya senang bukan main. Dunia serasa milik pribadi, serasa jadi bidadari
satu-satunya di dunia dan dia jadi pangeran berkuda putihnya. Begitu kan? Hayoo
ngakuuu.. seharian penuh SMSan, BBMan, WhatsApp-an, Line-an, dan sebagainya,
sampai saya lupa bahwa tugas matematika saya belum dikerjakan. Besoknya terpaksa
saya mencontek. Seharian dia gak ada kabar, virus galau terdeteksi. Mulai jadi
alay, buat status di facebook, twitter, BBM “Kamu kemana sih, sayang.. seharian
gak ada kabar. Lupa sama aku ya?” Alay banget!. Tiga bulan jadian, udah mulai
bosen, nyari-nyari alasan buat putus, kalo yang tidak setia pasti nyari
tikungan untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Kamu termasuk yang mana? Pas kata
PUTUS resmi dibuat, galau super duper, mata bengkak, nafsu makan turun, malas
belajar. Inikan dinamika pacaran? Jangan tanya kenapa si penulis tahu betul
dinamika nya seperti apa. Hehe
Jadi
apa yang kita dapatkan dari yang namanya pacaran? Lebih baik mencegah daripada
terlanjur jadi bubur. Setelah kita menyesal dengan perbuatan kita, masih
mending jika kita bisa bangkit dan ingin memperbaiki diri, kalau orangnya mudah
terpuruk dalam keterlanjuran? Bahaya luar biasa. Generasi bangsa Indonesia
sudah pasti menjadi bangsa yang mempunyai generasi alayers terbesar di dunia. Yuk,
mampu menahan virus merah jambu itu sholeh dan saliha! Caranya bisa dengan
menyibukkan diri kita dengan kegiatan-kegiatan positif, misalnya ikut
ekstrakulikuler atau menambah jam belajar kita, mungkin saja bisa jadi juara
olimpiade, dan tak lupa untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Allah,
perbanyak baca-baca buku islami juga seru, loh.
Alasan
kedua saya sehingga menguatkan niat untuk tidak pacaran adalah penggalan ayat
sebagai berikut. “Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki
yang baik untuk wanita yang baik”. Sering dengar ayat ini sholeh dan saliha? Mengapa
kita tak mencari tahu makna sebenarnya? Saya benar-benar faham dengan ayat ini
ketika saya mulai meninggalkan bangku sekolah. mudah-mudahan sahabat sholeh dan
saliha lebih awal faham dan tidak terlambat untuk memperbaiki diri. Saya ingin
bercerita sedikit mengenai proses pernikahan Mbak Amalia seorang founder Peduli
Jilbab yang sekarang follower nya sudah sangat banyak sekali. Beliau pernah
bercerita di acara seminar yang saya ikuti bahwasanya beliau dulu adalah
seorang akhwat yang sangat galak sekali, dan sangat memegang teguh pendiriannya.
Selama kuliah beliau tidak pernah tertarik dengan yang namanya pacaran, karena
beliau yakin jika sudah ada niat untuk menikah Allah pasti akan mempermudah
dirinya untuk bertemu dengan jodohnya. Sampai suatu hari sebelum beliau lulus
kuliah, adiknya lebih dulu menikah dan beliau memperbolehkan adiknya untuk
melangkahinya. Mitos yang berkembang di masyarakat tak pernah ia hiraukan, dan
setelah lulus kuliah dia mempunyai niat untuk menikah. Tak perlu proses
pacaran, cukup dengan membuat proposal lamaran, dia menunggu ikhwan yang siap
menikah. Lewat sahabat-sahabat baiknya, akhirnya proposal sampai di tangan
seorang ikhwan yang insyaallah dijamin oleh sahabat-sahabatnya. Tak lupa ia
selalu beristikharah dan berserah diri kepada Allah atas siapapun jodohnya. Ketika
proses ta’aruf dilakukan, dia cukup terkejut karena ikhwan yang menerima
proposalnya adalah seorang pemuda yang dulu pernah ia sukai dan cintai dalam
diamnya. Mbak Amalia merasa proses perbaikan dirinya selama ini untuk menyambut
jodohnya tak sia-sia. Allah selalu memberikan yang terbaik kepada hambanya. Kini
Mba Amal mempunyai seorang anak dan hidup bahagia bersama imam yang sholeh dan
sangat dia cintai.
Sangat
inspiratif sekali bukan? Tidakkah kamu ingin kisah cintamu indah seperti
kisahnya Mba Amalia? Percayalah sahabat, tanpa proses pacaran pun kita akan
dipertemukan dengan jodoh kita oleh Allah SWT. Untuk mendapatkan jodoh yang
baik maka mulailah dari sekarang kita memperbaiki diri. Sekarang sedang
pacaran? Suruh dia lamar dan datang ke orangtuamu. Belum siap nikah? Putus dulu,
tunggu siap nikah, dan datang untuk melamar.
Niat
yang sangat kuat dibarengi dengan usaha untuk memperbaiki diri, insyaallah
selalu ada hasilnya. Kecuali kalau kita memang niatnya setengah-setengah,
usahanya males-malesan, hasilnya tidak akan kelihatan. Bulatkan tekad! Allah bersama
orang-orang yang mau berusaha. Seperti kata pepatah, berakit-rakit ke hulu
berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Pada
awalnya memang sulit untuk menahan godaan untuk pacaran, pada awalnya memang
sakit untuk menahan perasaan sendirian. Namun, lihat nanti hasilnya, Allah
menjamin keindahan. Inginkah kisah cintanya bahagia seperti Fatimah Az-Zahra
dan Ali bin Abi Thalib? Inginkan cintanya tetap suci sampai dipertemukan dengan
jodohnya? Yuk! Semangat memperbaiki diri!.
cukup menarik
BalasHapus