Diariku satu tahun
lalu....
Tak terasa air mata mengalir begitu saja di pipiku. Kenyataan ini begitu menampar ku, bagaikan ribuan jarum menghantam jantungku. Petir menggelegar di atas kepala ku. Sesak ku tarik nafas, lemas tubuh terkulai, darah terasa berhenti mengalir di tubuhku. Inikah rasanya masa depanku hancur? Rasanya tulisan merah di web SNMPTN yang menyatakan aku tidak lolos menghentikan langkahku. Aku tak sanggup mengatakan pada bidadari ku apa yang ku alami. Aku tak sanggup melihat kekecewaan di wajahnya.Semakin sesak saja nafas ini, oksigen habis terhirup oleh orang-orang yang tak mensyukuri atas kelulusannya. “Lulus sih! Tapi pilihan ke3”. Rasanya ingin ku sobek mulut orang itu. Apakah mereka tak bisa mensyukuri nikmat itu? Padahal banyak orang yang menangis karena tak bisa masuk ke perguruan tinggi yang dia sepelekan.
Aku tak mengira
menemukan catatan ini masih tersimpan di notepad laptopku, rasanya aku ingin
membuka kembali perjalanan menggapai mimpi yang berawal satu tahun lalu. Bahagia,
haru, keputusasaan, harapan, semuanya bercampur aduk menjadi satu tetes air
mata. Air mata kebahagiaankah atau kesedihankah yang terbentuk dari setiap mata
yang berjuang, tergantung sejauh mana kita berjuang dan mau mensyukuri hasil
perjuangan kita.
Adikku yang sedang
merasakan galau yang luar biasa mungkin akan membaca catatan satu tahunku tadi
dengan penuh makna dan mengatakan “Ngena bingittss!!” Hehe... Tenang, dunia
belum berhenti berputar. Dulu aku sempat mengira aku tak bisa lagi berjalan.
Padahal, dengan sekali terjatuh aku bisa langsung berlari. Untuk bisa berlari
kita memang perlu lebih banyak tenaga, dan tenaga itu bisa kita dapatkan dari
banyak mengonsumsi makanan. Mungkin otakmu masih lapar, maka perbanyaklah
mengonsumi ilmu dengan belajar lebih banyak.
Masih banyak waktu yang
harus digunakan untuk menggapai mimpi. Belum berhenti sampai disini. Jangan habiskan
dengan keputusasaan.
“Kak, aku tidak merasa
percaya diri bisa masuk test perguruan tinggi, aku kan begini dan aku kan
begitu...”.
Kau kira dulu aku
bagaimana? Seorang mantan siswi yang biasa saja dan sekolah di sekolah yang
biasa saja jauh jika dibandingkan dengan mereka yang sekolah di sekolah-sekolah
favorit. Mungkin kamu melebihi ku dari segala sisinya. Perasaan tak mampu itu
hanya sebuah sugesti yang akan melemahkanmu. Kamu mampu, dan kamu bisa! Tanamkan
itu selalu di dasar fikiranmu. Aku tak mengatakan bahwa aku sekarang sudah
sukses. Jauh dari kata itu. Bahkan aku belajar di universitas yang tak banyak
orang tahu. Namun, dengan rasa syukur, apapun dijalani dengan rasa kebahagiaan.
Yang ingin ku sampaikan adalah seuntai perjalanan menggapai mimpi ku ini di
dahului dari rasa semangat tiada henti dan terus berusaha. Aku ingin kamu
membuat jalurmu sendiri sehingga sampai di tujuan yang penuh dengan suka cita. Jangan
merasa rendah diri untuk menggapai tujuan itu. Semua orang punya kedudukan sama
untuk bermimpi. Tercapai atau tidak tergantung dari seberapa besar usaha kita. Ingat!
Semua orang berhak membuat mimpi dan mewujudkannya. Tak ada pengecualian,
termasuk dirimu, hanya karena kamu begini dan begitu.
“Kak, semangatku
mengendur karena melihat pengumuman SNMPTN itu, aku jadi tidak yakin dengan
kemampuanku, aku tak bisa mengembalikan semangat itu lagi....”
Aku sempat merasakan
jatuh yang benar-benar jatuh sehingga seribu kata kepedihan ku tuliskan di
notepad itu, hehehe.. Namun untungnya saat itu aku langsung tersadar. Aku memang
berhak bermimpi, aku berhak menentukan masa depanku sendiri. Tapi, ingat,
orangtua yang membesarkanmu juga punya hak atas keberhasilan, kebahagiaan, dan
masa depan darimu. Keberhasilan adalah kado baginya karena telah sukses
mendidikmu, kebahagiaannya adalah ketika melihat engkau berhasil, dan masa
depanmu yang cerah adalah kebanggaan dan ketenangan di masa tuanya. Jika kita
berhenti melangkah sekarang, apa yang akan kita persembahkan bagi mereka-kedua
bidadari- kita? Mereka akan merasa gagal. Lihatlah betapa mereka begitu
berharap melihat engkau menjadi orang. Jangan sia-siakan do’a mereka sepanjang
malam dengan keputusasaanmu. Kedua bidadari kita yang tak pernah merugi
keringatnya terbuang demi setiap kebahagiaan kita, tak pernah merugi waktu
berdo’a dia tambah demi kesuksesan kita. Jangan jadikan kerugian bagi mereka
karena kita menyia-nyiakan itu semua.
Aku masih ingat, di
karton yang ku tempelkan di tembok kamarku “Sukses For youuu.. mama dan
bapak!!!” coba buat kata-kata motivasi yang akan membangun semangatmu.
“Kak, sebenarnya aku
lulus test tapi cuman disini, andai saja aku bisa masuk kesana...”
Pertama kali aku
menginjakan di tanah baru ini, tempatku menimba ilmu. Banyak teman baru
kutemui, tak sedikit ku dapati cerita mereka yang masuk ke universitas ini
hanya karena terpaksa karena tak masuk di universitas yang diinginkan. Selama satu
semester gejala ini masih terus dirasakan, “coba saja aku masuk di univ A...
pasti gak kayak gini!!”...di sisi lain yang belajar di universitas A mengatakan
hal yang sama, “coba saja aku masuk di univ Z...pasti begini dan begitu...”.
Sedangkan aku hanya tertawa kecil menyaksikan fenomena ini. Mereka orang-orang
yang sekolah di sekolah favorit tak terlihat menikmati perjalanan nya selama
setahun ini. Aku yang notabenenya yang orang biasa saja merasa cukup senang
bisa belajar disini, aku menikmatinya. Terbukti aku cukup berhasil dengan nilai
IP ku yang pertama. Sejauh mana kita bisa mensyukuri apa yang telah kita raih
adalah suatu bentuk kebahagiaan bagi diri kita sendiri. Bukan kita tak mampu di
tingkat yang lebih tinggi, Allah lah yang mengukur kemampuan kita serta
menyiapkan diri kita lebih mampu untuk bisa naik di level yang lebih tinggi.
Sekali lagi aku harus
mengatakan, setiap orang punya kesempatan yang berbeda-beda. Setiap orang punya
tujuan yang berbeda pula, dan setiap orang punya posisi di alam yang
berbeda-beda. Allah telah mengatur sesuai kemampuan dan usaha kita. Apa tujuanmu?
Perjuangkan! Ingin seperti apa posisimu di dunia? Lihat kaca duluu!! Pantas tidak?
Pantaskan! Ada kesempatan? Banyak! Manfaatkanlah!
Keren :)
BalasHapus