Rabu, 11 Juni 2014

Semua Orang Berhak Bermimpi dan Mewujudkannya

Diariku satu tahun lalu....

Tak terasa air mata mengalir begitu saja di pipiku. Kenyataan ini begitu menampar ku, bagaikan ribuan jarum menghantam jantungku. Petir menggelegar di atas kepala ku. Sesak ku tarik nafas, lemas tubuh terkulai, darah terasa berhenti mengalir di tubuhku. Inikah rasanya masa depanku hancur? Rasanya tulisan merah di web SNMPTN yang menyatakan aku tidak lolos menghentikan langkahku. Aku tak sanggup mengatakan pada bidadari ku apa yang ku alami. Aku tak sanggup melihat kekecewaan di wajahnya.Semakin sesak saja nafas ini, oksigen habis terhirup oleh orang-orang yang tak mensyukuri atas kelulusannya. “Lulus sih! Tapi pilihan ke3”. Rasanya ingin ku sobek mulut orang itu. Apakah mereka tak bisa mensyukuri nikmat itu? Padahal banyak orang yang menangis karena tak bisa masuk ke perguruan tinggi yang dia sepelekan.

Aku tak mengira menemukan catatan ini masih tersimpan di notepad laptopku, rasanya aku ingin membuka kembali perjalanan menggapai mimpi yang berawal satu tahun lalu. Bahagia, haru, keputusasaan, harapan, semuanya bercampur aduk menjadi satu tetes air mata. Air mata kebahagiaankah atau kesedihankah yang terbentuk dari setiap mata yang berjuang, tergantung sejauh mana kita berjuang dan mau mensyukuri hasil perjuangan kita.
Adikku yang sedang merasakan galau yang luar biasa mungkin akan membaca catatan satu tahunku tadi dengan penuh makna dan mengatakan “Ngena bingittss!!” Hehe... Tenang, dunia belum berhenti berputar. Dulu aku sempat mengira aku tak bisa lagi berjalan. Padahal, dengan sekali terjatuh aku bisa langsung berlari. Untuk bisa berlari kita memang perlu lebih banyak tenaga, dan tenaga itu bisa kita dapatkan dari banyak mengonsumsi makanan. Mungkin otakmu masih lapar, maka perbanyaklah mengonsumi ilmu dengan belajar lebih banyak.
Masih banyak waktu yang harus digunakan untuk menggapai mimpi. Belum berhenti sampai disini. Jangan habiskan dengan keputusasaan.
“Kak, aku tidak merasa percaya diri bisa masuk test perguruan tinggi, aku kan begini dan aku kan begitu...”.
Kau kira dulu aku bagaimana? Seorang mantan siswi yang biasa saja dan sekolah di sekolah yang biasa saja jauh jika dibandingkan dengan mereka yang sekolah di sekolah-sekolah favorit. Mungkin kamu melebihi ku dari segala sisinya. Perasaan tak mampu itu hanya sebuah sugesti yang akan melemahkanmu. Kamu mampu, dan kamu bisa! Tanamkan itu selalu di dasar fikiranmu. Aku tak mengatakan bahwa aku sekarang sudah sukses. Jauh dari kata itu. Bahkan aku belajar di universitas yang tak banyak orang tahu. Namun, dengan rasa syukur, apapun dijalani dengan rasa kebahagiaan. Yang ingin ku sampaikan adalah seuntai perjalanan menggapai mimpi ku ini di dahului dari rasa semangat tiada henti dan terus berusaha. Aku ingin kamu membuat jalurmu sendiri sehingga sampai di tujuan yang penuh dengan suka cita. Jangan merasa rendah diri untuk menggapai tujuan itu. Semua orang punya kedudukan sama untuk bermimpi. Tercapai atau tidak tergantung dari seberapa besar usaha kita. Ingat! Semua orang berhak membuat mimpi dan mewujudkannya. Tak ada pengecualian, termasuk dirimu, hanya karena kamu begini dan begitu.
“Kak, semangatku mengendur karena melihat pengumuman SNMPTN itu, aku jadi tidak yakin dengan kemampuanku, aku tak bisa mengembalikan semangat itu lagi....”
Aku sempat merasakan jatuh yang benar-benar jatuh sehingga seribu kata kepedihan ku tuliskan di notepad itu, hehehe.. Namun untungnya saat itu aku langsung tersadar. Aku memang berhak bermimpi, aku berhak menentukan masa depanku sendiri. Tapi, ingat, orangtua yang membesarkanmu juga punya hak atas keberhasilan, kebahagiaan, dan masa depan darimu. Keberhasilan adalah kado baginya karena telah sukses mendidikmu, kebahagiaannya adalah ketika melihat engkau berhasil, dan masa depanmu yang cerah adalah kebanggaan dan ketenangan di masa tuanya. Jika kita berhenti melangkah sekarang, apa yang akan kita persembahkan bagi mereka-kedua bidadari- kita? Mereka akan merasa gagal. Lihatlah betapa mereka begitu berharap melihat engkau menjadi orang. Jangan sia-siakan do’a mereka sepanjang malam dengan keputusasaanmu. Kedua bidadari kita yang tak pernah merugi keringatnya terbuang demi setiap kebahagiaan kita, tak pernah merugi waktu berdo’a dia tambah demi kesuksesan kita. Jangan jadikan kerugian bagi mereka karena kita menyia-nyiakan itu semua.
Aku masih ingat, di karton yang ku tempelkan di tembok kamarku “Sukses For youuu.. mama dan bapak!!!” coba buat kata-kata motivasi yang akan membangun semangatmu.
“Kak, sebenarnya aku lulus test tapi cuman disini, andai saja aku bisa masuk kesana...”
Pertama kali aku menginjakan di tanah baru ini, tempatku menimba ilmu. Banyak teman baru kutemui, tak sedikit ku dapati cerita mereka yang masuk ke universitas ini hanya karena terpaksa karena tak masuk di universitas yang diinginkan. Selama satu semester gejala ini masih terus dirasakan, “coba saja aku masuk di univ A... pasti gak kayak gini!!”...di sisi lain yang belajar di universitas A mengatakan hal yang sama, “coba saja aku masuk di univ Z...pasti begini dan begitu...”. Sedangkan aku hanya tertawa kecil menyaksikan fenomena ini. Mereka orang-orang yang sekolah di sekolah favorit tak terlihat menikmati perjalanan nya selama setahun ini. Aku yang notabenenya yang orang biasa saja merasa cukup senang bisa belajar disini, aku menikmatinya. Terbukti aku cukup berhasil dengan nilai IP ku yang pertama. Sejauh mana kita bisa mensyukuri apa yang telah kita raih adalah suatu bentuk kebahagiaan bagi diri kita sendiri. Bukan kita tak mampu di tingkat yang lebih tinggi, Allah lah yang mengukur kemampuan kita serta menyiapkan diri kita lebih mampu untuk bisa naik di level yang lebih tinggi.
Sekali lagi aku harus mengatakan, setiap orang punya kesempatan yang berbeda-beda. Setiap orang punya tujuan yang berbeda pula, dan setiap orang punya posisi di alam yang berbeda-beda. Allah telah mengatur sesuai kemampuan dan usaha kita. Apa tujuanmu? Perjuangkan! Ingin seperti apa posisimu di dunia? Lihat kaca duluu!! Pantas tidak? Pantaskan! Ada kesempatan? Banyak! Manfaatkanlah! 

1 komentar: