Jumat, 20 Juni 2014

Bila Ayah Datang Kembali

Bila ayah datang kembali,
Pesan yang kemarin kau katakan mungkin tak akan ku katakan sebagai pesan terakhir. Andai aku tahu itu pesan terakhirmu, aku pasti mendengarnya dengan seksama, dengan perhatian penuhku, tak akan lagi ku katakan ini dan itu. Mulutku akan kunci seribu bahasa. Aku akan mendengarkannya seluruh dari awal sampai akhirnya. Akan ku hafalkan setiap katanya. Sampai engkau mengakhiri kata terakhir itu dengan senyummu, bukan dengan rasa khawatir. Ayah, bila ayah datang lagi untuk mengulangnya, aku sungguh ingin beribu-ribu nasihat lagi.
Bila ayah datang kembali,
Tak akan ku katakan “nanti saja, yah” ketika engkau menyuruhku untuk shalat. Akan segera ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi, lalu ku ambil air wudzu. Bahkan, aku ingin kita berjamaah bersama-sama lagi. Seperti waktu maghrib itu, engkau sungguh imam tangguh. Bila ayah masih bisa memarahiku hari ini, sungguh aku ingin kau pecuti aku kala ku mengabaikan nasihat dan perintah shalat itu. Bila ku tahu hari ini kau akan pergi, sungguh aku ingin setiap waktu berjamaah denganmu lagi. Bila ku tahu sedari dulu kelakuanku yang sering mengabaikan perintah shalatmu akan sangat menyiksamu, sungguh aku tak ingin lakukan itu sekalipun seumur hidupku. Ayah, bila engkau datang lagi, aku berjanji tak akan ku abaikan perintah dan nasihatmu lagi.
Bila ayah datang kembali,
Aku tak akan melawan ibuku lagi. Aku tahu kemarahanmu selalu ada pada kesedihan wajah ibu karena bertengkar denganku. Sungguh aku tak menyangka perlakuanku begitu melukai perasaan engkau dan bidadarimu. Lihat ayah, aku bersama ibu hidup rukun, kami selalu melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan dulu bersama-sama. Andai saja ayah masih disini, kebahagiaan ini akan semakin lengkap. Terakhir kali aku masih ingat di ruang keluarga sore itu, engkau mencandai ibu dengan lucunya kemudian kita tertawa bersama. Ayah, aku rindu. Bila ayah datang kembali, aku tak akan pernah membuat wajah ibu sedih lagi.
Bila ayah datang kembali,
Aku akan selalu tutup seluruh badanku dari yang bukan makhramku. Ribuan nasihatmu agar aku menutup aurat sering ku abaikan. Sekarang aku begitu mengerti yah, nasihat itu penyelamatku. Aku terselamatkan dari lelaki yang tak baik, dari orang-orang yang berniat buruk, serta dari api neraka. Andai sedari dulu aku tahu jika sehelai rambutku saja terlihat oleh yang bukan mahkramku akan menjadi api neraka bagimu, aku pasti sudah menutup rapat-rapat. Andai ayah datang kembali, aku tak akan berani lagi memakai baju-baju pendek itu, aku tak akan berani lagi memamerkan kilaunya rambutku. Semoga Allah mengampuni keterlambatanku dalam menyadari, semoga Allah mengampunimu.
Bila ayah datang kembali,
Tak ingin lagi aku berteman dengan orang-orang yang kau larang waktu itu. Aku tahu laranganmu sangat baik untukku. Ketidaksadaranku waktu itu begitu membutakanku,yah. Mereka menilaiku sama dengan teman-temanku itu, padahal aku tak berkelakuan sama dengan mereka. Aku hanya ikut bergabung dan nongkrong dengan mereka. Ayah, datang lagi yah.. lihat sekarang aku bergaul dan berkumpul bersama orang shalih dan shalihah. Seperti nasihatmu yah.
Bila ayah datang kembali,
Tak akan ku habiskan waktuku bersama teman-temanku terlalu banyak seperti waktu dulu. Aku baru merasakan, betapa kesepiannya dirimu kah? Serindu inikah ayah untuk mengobrol denganku seperti saat ini aku rindu ingin mengobrol dan bercanda denganmu lagi.

Begitu besar kasih sayangmu meski cintamu tinggal dalam diam. Dibalik sikap dingin itu ada rasa perduli yang melebihi aku memperdulikan diriku sendiri. Tak pernah berbicara terlalu banyak seperti ibu yang khawatir jika magh-ku akan kambuh, namun engkau datang membawakan sarapan. Tak pernah secara langsung engkau katakan do’amu seperti ibu yang selalu mengatakan semoga ujianku berhasil namun setiap malam engkau bangun untuk menyebut namaku dalam do’amu. Tak pernah secara langsung engkau lontarkan pujian seperti ibu yang selalu bilang aku anak hebat karena meraih rangking 1 di kelas tapi engkau sediakan kado atas keberhasilanku. Besar kasih sayangmu, aku baru menyadarinya justru setelah engkau tak akan datang kembali.
Bila ayah datang kembali, pasti aku ubah semua sifat burukku. Aku tak ingin menyusahkanmu di dunia maupun di akhirat. Aku akan lebih memperhatikanmu seperti engkau memperhatikanku dalam kehangatan hati yang terbungkus dengan dinginnya sikapmu. Aku pasti akan mendengarkan semua nasihat-nasihat baik itu. Pasti yah. Andai saja engkau bisa kembali kesini.


*Best inspiration : Ade Cucum Sumini

Teruntuk ayahanda tercinta, Bapak Wawan Nawawi. Tak akan ku lupakan nasihat yang paling membekas di lubuk hati terdalam ini.“Manusia semua sama, yang beda ada kemauan dan kerja keras. Berdo’a, berusaha dengan sungguh-sungguh. Insyaallah cita-cita tercapai.”Aku semakin yakin dengan mimpiku, dan aku pasti mampu menggapainya. Tak ingin ku lakukan kesalahan sehingga menyusahkan engkau di dunia ini maupun di akhirat nanti. Aku tak ingin menyesal karena telah melakukan hal-hal yang sia-sia sehingga ada kata “Bila ayah datang kembali”. Aku akan melakukan yang terbaik demi cinta kasih putihmu yang tulus. Meski baru-baru saja aku menyadarinya dalam sosok diammu. Aku tak akan mengecewakanmu. Insyaallah. Selagi engkau masih ada di hadapanku, aku tak akan bosan menatap wajah yang penuh perjuangan demi diriku. Selagi engkau masih mampu memarahiku, dalam hatiku bersyukur bahagia penuh suka cita masih ku bisa rasakan omelan yang membahagiakan yang mungkin orang lain merindukan hal seperti ini. Aku bersyukur, aku telah menyadari kasih sayangmu ketika kau masih bisa ku peluk haru. Terimakasih Ayah. 

1 komentar:

  1. Wuu kereeeenn, sampai netes bacanya :) Jempol dehh buat rangkaian kata-katanya ;-)

    BalasHapus