Bagiku gagal adalah berhenti di
tengah jalan. Ketika langkahku terhenti di tengah-tengah perjalanan, tubuhku
sangat haus rasanya ingin menyerah saja, tapi dalam fikiranku masih terbayang
tujuan yang harus di capai. Perbandingannya setengah untuk kembali dan setengah
untuk melanjutkan dan pada akhirnya aku memilih kembali atau mundur. Itulah kegagalan
bagiku. Beberapa kali aku pernah mengalami situasi ini. Aku pernah lulus dalam
ujiannya dan mendapatkan kepuasan dalam diriku. Namun, aku juga pernah
mengambil jalan mundur dan mendapatkan rasa penyesalan serta rasa bersalah
dalam hatiku.
Bagi sebagian orang kegagalan adalah tak mampu
mencapai hasil yang ditargetkan. Gagal mendapat nilai 100. Gagal menjadi dokter.
Gagal berangkat ke Amerika. Kegagalan adalah kehancuran.
Bagi sebagian orang yang lain lagi
kegagalan adalah tak mampu menggapai kebahagiaan. Tak bahagia meskipun hidup
sudah bergelimang harta. Tak bahagia meskipun namanya sudah di penuhi banyak
title. Tak bahagia meskipun sudah mampu keliling dunia. Kegagalan adalah
kesedihan.
Kegagalan adalah kehancuran,
kesedihan, keputusasaan. Itu semua hanyalah teori. Kita lebih tahu arti gagal
bagi diri kita sendiri. Seperti apa kata itu begitu menakutkan dan menaklukan
diri kita. Seberapa mampu kita untuk melemahkan kata gagal itu. Serta hal apa
yang biasa kita lakukan untuk menaklukannya. Yang perlu kita tegaskan adalah
rasa percaya diri serta konsistensi kita untuk tetap memegang teguh pendirian
kita dalam memegang prinsip menaklukan kegagalan itu.
Tak mudah seperti kata yang baru saja
terlontar. Untuk konsisten memegang prinsip perlu pengorbanan. Aku adalah
seseorang yang study orientation. Prinsipku adalah dengan belajar yang
sungguh-sungguh dapat mengubah hidupku. Beberapa waktu lalu aku mencoba untuk
mengikuti suatu organisasi, namun aku merasa kegiatan itu cukup menyita waktu
dan fikiranku sehingga aku tak punya waktu banyak lagi untuk belajar seperti
yang aku biasa lakukan. Kemudian aku mengambil langkah besar untuk keluar dari
organisasi tersebut. Bukan tanpa pertimbangan
karena untuk keluar dari organisasi tersebut berarti satu kegagalan yang
aku raih. Berhenti di tengah jalan sebagai seorang organisator. Tapi kegagalan
ini lebih baik daripada aku gagal dalam belajarku atau gagal kedua-duanya. Harus
ada yang dikorbankan. Aku mengorbankan citra diriku menjadi seorang yang tidak
bertanggung jawab dan melepas tanggung jawab demi tujuan besar dan prinsip
utamaku. Ini adalah pilihan. Aku tak menyesal telah gagal menjadi seorang
organisator. Tapi aku harus berhasil dalam belajarku sebagai suatu yang telah
aku perjuangkan. Jika aku gagal dalam keduanya, atau berhasil menjadi seorang
organisator namun gagal dalam belajarku, aku tak akan pernah mencapai titik
puas dan bahagia. Itu baru namanya kegagalan yang sesungguhnya bagiku. Aku
telah memegang prinsipku dalam melakukan hal yang aku senangi dan cita-citakan
dari awal.
Pilih dan perjuangkanlah yang menjadi
prioritas utamamu. Yang kamu yakin hal itu akan membuatmu bahagia dan mencapai
titik puncak kepuasan batinmu. Karena ketika kita berada pada lingkup yang kita
sukai dan senangi kemungkinan untuk berhasil mencapai tujuan sangat besar. Taklukkan kegagalan dengan semangat
yang berkobar untuk keberhasilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar