Sabtu, 07 Juni 2014

Badai dalam Metamorfosis Pasti Berlalu


Aku sempat menikmati keindahan singgasana di dalam sebuah kotak abu-abu
Merasa bahagia walau terkadang menangis dengan sesaknya
Madu dan anggur dia sediakan untuk membuatku lupa dengan gerahnya
Aku lupa diri,
lupa pijakanku,
lupa dengan rasa senang yang alami timbul dari jiwaku

Semenjak tak ada lagi yang manis disana
Tak ada lagi madu atau anggur
Tak ada lagi senyuman segula di wajahnya
Aku tersadar, semakin hari dia semakin memudar
Berjalan kesana kemari mencari singgasana sepi
Aku semakin muak dengan rupa yang datang lagi

Meronta ku teriakkan segala kegundahan
Ada raja yang menyambutku,
Lagi dan lagi
Aku tak pernah belajar dari kesalahan Satu
Terjebak lagi dalam kebahagiaan semu
Di singgasana mutiara dalam sebuah sangkar

Setelah aku mati.....,,

Hidup dengan jiwa baru
Cahaya yang baru menuntunku semakin dekat dengan sumbernya
aku belajar
kisah lalu adalah benteng pertahanan diri, sebagai antibiotic
Terus memperbaiki setiap sudut yang patah dan rapuh

Bajuku bukan tak pernah terkena noda
Aku membersihkannya dengan susah payahku
Jika ada lumpur, aku menjauhi

Terkadang debu tak kasat mata
Semakin lama semakin tertumpuk
Ada kalanya aku jauhi, aku takut semakin menoda
Sejauh ini aku tahu mana lumpur dan debu
aku berjarak dengan mereka demi putih


Semoga Tuhan meridhai usahaku,


Bismillahirrahmanirrahim,
Teruntuk sahabatku, Reka Nurhasanah.

Berjuta rasa terimakasihku karena kehadiranmu ada dalam keseharianku. Mengingatkan aku akan setiap kewajiban. Mengingatkan jalan terbaik yang seharusnya aku tempuh. Dulu bercak noda ku biarkan menghiasi pakaianku, lewat tanganmu kau bukan memerintahku untuk membersihkan, namun membantu bersama-sama mencucinya. Amarahku yang selalu memuncak kala keinginanku tak sejalan dengan kenyataan, engkau mengajarkan lewat tindakanmu yang menenangkan. Begitulah kamu. Seanggun dan selembut ucapanmu meluluhkan.


Metamorfosis ini sungguh luar biasa, ulat memang dibenci oleh orang-orang karena bentuk dan gatalnya. Setelah menjadi kupu-kupu, orang mengagumi keindahannya. Mudah-mudahan setiap kita yang ingin bermetamorfosis bisa menjadi seperti kupu-kupu itu. Aamiin. Selalu ada badai kala kita menjadi kepompong, angin kencang kadang menjatuhkan kita. Tak luput tangan-tangan pemangsa yang siap memusnahkan kita agar gagal menjadi kupu-kupu tersebut. Tekadkanlah niat itu, akan menjadi kekuatan bagi dirimu. Saat engkau mulai rapuh, ingatlah hasil nanti yang akan indah tiada kita duga. Tuhan selalu berencana bagi kita yang mau berusaha.
Banyak cemoohan kawan-kawanmu karena metamorfosa dirimu, ini badainya. Jika dia kawan yang baik, maka seharusnya mendukungmu bukan malah mencemooh kebaikan yang sedang menghampirimu. Apakah kawan itu akan kau pertahankan? Lalu jika kau tahu cemoohan itu hanya sekedar cemoohan yang menjatuhkanmu lantas kenapa kita harus menyerah dalam metamorfosa ini? Mereka hanya iri pada indahnya sayapmu yang baru tumbuh. Beritahukan kepada mereka bahwa bisa terbang dengan sayap baru ini begitu indah bisa melihat dunia, bukan malah mengekang kita. Jika mereka masih berdiam diri saja dengan bentuk ulatnya dan rasa gatal orang lain yang mendekatinya lantas mereka adalah orang yang bodoh yang tak mau berkaca. Betapa menyedihkannya mereka mencemooh kita yang sedang berusaha menjadi lebih baik.
Aku mulai berkaca dengan penampilan baruku, terlihat lebih anggun dan cantik. Begitu menyejukkan dalam hati, tak seperti dulu penuh dengan tatapan mata hidung belang yang jelalatan. Mereka-hidung belang jelalatan- justru lebih menghargai kami yang berpenampilan seperti ini. Sadarkah teman-teman? Bangga dengan bagusnya rambut dan bentuk tubuh yang bagus bukan harus di pamerkan bagi orang-orang yang tak berhak untuk melihatnya. Kita sebagai perempuan justru seharusnya bukan bangga, malah merugi.
Jika mereka mengatakan lebih baik perbaiki hati dulu baru perbaiki penampilan. Sebenarnya dasarnya adalah aurat ini. Setelah kita mengenakan jilbab ini, kita memiliki kesadaran hati untuk tak melakukan hal-hal yang tak baik.
Kemarin, aku lihat ada seorang teman yang mencemooh temannya karena berjilbab namun dia melakukan kesalahan. Apakah itu salah jilbabnya? Tidak! Menurut postingan Husnul (temanku, anak sastra) jilbab dan akhlak adalah dua hal yang berbeda. Jilbab adalah kewajiban bagi semua muslimah tak memandang baik buruknya akhlak.
Alhamdulillah.
Semoga masih banyak Reka Reka yang lain yang menyadarkanku.

4 komentar:

  1. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar. Ada banyak cara Allah menunjukkan kuasa-Nya, membuka pintu hati sesiapa yang dikehendaki-Nya. Mungkin Teh Reka adalah salah satu perantaranya. Semoga Nia, aku, dan teman-teman lainnya yg mulai sadar akan kebenaran bisa terus istiqamah ya. Teruslah menulis Nia! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan bisa istiqomah dalam jalan ini.. Aamiin....

      Hapus
  2. Baru kali ini baca blog tentang curhatan seseorang bisa bikin nangis. Semangat Teh Nia. Aku mendoakanmu selalu disini. Untuk Reka Nurhasanah biarkan kali ini aku memberanikan diri untuk berkata diblog ini "Aku Sangat Menyayangimu Reka Nurhasanah Sahabatku"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Reka juga membalas komentarmu dengan teriakan "Aku menyayangimuu Danyuuuunnnnnnn!!!!"

      Hapus