Angin yang menerpa kulitku, terasa asing..Masih dengan mata terpejam ku hembus udaranya, masih terasa asing..Ku tajamkan pendengaranku agar aku bisa mengenali, begitu riak.. gemuruhnya menenangkanku.Perlahan ku buka mata yang terpejam, aku tersenyum.Matahari terbenam, memberi warna indah pada langit biru itu.Gulungan ombak seakan menghampiriku.Dimana aku?Aku rasa kembali, ada yang menggenggam tanganku, lembut.Aku lihat sosoknya menghitam di bawah sinar matahari yang akan terbenam.Dimana aku? dan siapa dia?
Minajaya.
Ceritaku tertinggal disana.
Sebelumnya aku tak pernah punya mimpi untuk bisa menginjakkan kaki ku disana, menghirup udaranya, menambah memori, mengukir senyum.
Pantainya memang tak seindah pantai yang mempesona di pulau dewata, namun sosok yang menggenggam erat tanganku lah yang membuatnya begitu berbeda.
Disana dia berhasil membuatku lupa bagaimana sakitnya menyimpan harap, memulai kembali, membangun lagi. Haruskah aku mulai percaya lagi?
Sudah lama aku menutup rapat celah hatiku agar tak pernah ada orang lain yang mampu merusaknya.
Kata-kata itu menghipnotis.
Aku mabuk.
Terimakasih, engkau temukan kunci pintu ku.
Aku percaya cinta datang kembali, membawa harap, membawa tawa.
Namun, aku benar-benar dalam keadaan mabuk. Setelah aku sadar, tetap saja rasanya selalu ada takut. Menyimpan harap itu memang dahsyatnya merubah arahku.
Aku kehilangan kendali. Kini segala tujuanku selalu terfikir bagaimana bisa bersamamu.
Aku kehilangan prinsipku. Hancurlah aku, bergantung sudah padamu.
Segala kata selalu ingin ku sampaikan.
Aku takut membuatmu tak nyaman. Aku takut kamu bosan. Aku takut kamu pergi. Aku takut pada akhirnya bukan aku lah tujuanmu, sedangkan disini aku harus rapuh sendiri karena telah bertumpu dan berlabuh di hatimu.
Terkadang aku tersiksa harus menyimpan rindu, sendiri. Saat aku tak bisa sampaikan dengan kata, aku selalu sampaikan dengan do'a. Berharap engkau juga merasakan rindu di waktu yang sama.
Terkadang kata-katamu tak mampu ku cerna.
Terkadang aku tak sanggup terjemahkan kataku untuk ku sampaikan.
Terkadang aku selalu berharap engkau mengerti sendiri tanpa aku beritahu.
Terkadang aku kesal sendiri.
Terkadang aku mengutuk sikapku sendiri.
Menyimpan harap terkadang memang tak selalu mengenakkan.
Padahal waktu masih terasa sangat lama untuk bisa bersama.
Bisakah kita melewatinya?
Jodoh adalah takdir yang diikhtiarkan, katanya.
Aku terus berusaha.
Bagaimana denganmu?
Semoga aku tak berjuang sendiri.
Meskipun pada akhirnya pahit.
Minajaya akan tetap punya cerita.
Aku akan kesana kembali.
Kita lihat suatu saat nanti, bagaimana aku kesana.
Apakah tetap dengan cerita yang sama, atau lain cerita.
Aku tetap selalu berdo'a bahwa ceritaku tetap "Kamu".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar