Minggu, 18 Januari 2015

Takut itu (titik-titik)

Suara dalam ruang tersembunyi kini lantang terdengar lagi. Adakah engkau tahu yang ku teriakan itu adalah namamu? Tergesa ku menepis semua bayangan yang memenuhi pikiranku. Namun bayang engkau tak mampu beranjak pergi. Masih banyak rasa ketakutanku akan semua keputusanku untuk membuka pintu yang terkunci. Tapi anehnya, engkau bisa membukanya sendiri. Inikah akhir dari ke-keukeuh-anku atas prinsipku? Tapi tetap saja jawabannya adalah 'iya' namun terselimuti jaring-jaring takut itu.
Beberkan saja kata-kata yang mampu melepas rajutan takutnya. Ucapkan saja semua kata yang mampu mencairkan kerasnya hati ini. Jelaskan saja semua yang kau rasakan dan yang kau rencanakan tentang masa depan kita. Katakan saja semuanya. Hingga rajutan takut itu dengan sendirinya terlepas. Bisakah?
Mungkin engkau akan bertanya, sebenarnya apa ketakutanmu itu?
Aku takut ini semua akan menjadi kesia-siaan. Setelah dengan rela ku buka pintu, lalu engkau masuk dan hanya meninggalkan kenangan. Terlampau rapuh untukku membangun rumah baru. Aku takut harapan yang kau tanam malah berbuah kesakitan. Berbuah racun yang ku teguk setiap detiknya karena berbayangkan kenangan.
Aku takut untuk memulai kembali karena aku takut akan ada akhirnya.
Aku takut engkau bisa saja memutus benang yang terikat karena banyak bunga yang lebih indah untuk kau petik.
Aku terlampau takut akan meraaakan sakitnya jatuh, hingga lukanya berbekas tak mampu terobati.
Mengertikah ketakutan itu?
Ya Tuhan, yakinkan hatiku. Tak ada rasa takut jika aku serahkan semuanya padaMu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar