Dear Kedua Bidadariku...
Dua puluh tahun yang lalu, bagaimana ekspresi kalian Mah, Pak?Bagaimana senyum kalian saat pertama kali menatapku? Aku selalu ingin melihat moment itu, agar aku tak pernah sia-siakan senyum di wajah mamah dan bapak saat ini, agar selalu ada semangat dalam diriku untuk terus membuat mamah dan bapak tersenyum.Apa yang kalian harapkan saat pertama kali menggendongku? Aku sangat ingin tahu harapan-harapan itu, ingin ku berjuang menggapainya, seperti mamah yang berjuang begitu ikhlas untuk melahirkanku, aku ingin berjuang dengan ikhlas untuk membahagiakanmu. Seperti bapak yang berjuang dengan semangat untuk selalu membelikanku susu dan mainan yang lucu, aku ingin berjuang sesemangat itu untuk membahagiakanmu.Dua puluh tahun yang lalu, Mah Pak, adakah engkau mengira aku akan menjadi seperti ini?Sudahkah aku sesuai harapan kalian? ataukah aku hanya menjadi kekecewaan?Dua puluh tahun sudah Mah Pak, aku disini, belum mampu kuberikan apapun untuk kalian. Aku merasa belum berguna untuk kalian.Terkadang dalam perjuangan ini pun aku sering merasa lelah dan putus asa. Tegur aku Mah, Pak.. Adakah kalian lelah membina ku selama dua puluh tahun ini?Begitu Luar biasa Allah SWT telah membuatku terlahir dari rahim ibu yang begitu penuh kelembutan, mendidikku dengan penuh pengertian, kasih sayang. Ibu yang tak pernah mampu marah, hanya air mata yang selalu mewakili apapun perasaanmu, sedih, bahagia, marah, terluka, senang, air mata itu menjadi tanda, aku telah sangat mengenalmu. Kemudian Allah ciptakan aku dari air manai bapak, yang begitu tegas dan disiplin, pekerja keras, sehingga sifat keduanya sangat mengimbangiku untuk tumbuh sempurna. Bagiku, kalian adalah orangtua terhebat, aku bangga menajadi putrimu.
Putri kecilmuNia Alfitriyani
Aku mengira bahwa hidup yang bergulir meninggalkan waktu memang hanya terlintas begitu saja, tak ada makna. Hal itulah yang sering membuatku merasa sangat hampa, bosan, putus asa. Kemudian Allah menegur dalam AlQur'an.... bahwa sesungguhnya Dia telah memberikan banyak sekali nikmat, kita tak menyadarinya, karena kita telah sombong, tak mau bertafakkur diri. Kita mengira nafas hadir dengan sendirinya, kita bisa makan karena keringat kita. Padahal itu adalah nikmat yang sudah Dia berikan. Dua puluh tahun aku telah mengira tak ada yang terjadi dalam hidupku. Bosan, sering merasa putus asa, sering merasa gelisah. Itu pertanda aku telah menjauh dariNya. Ketika aku mendekat, Dia akan semakin dekat.
Ya Allah, bimbing selalu hamba untuk istiqomah di jalanMu. Aku titipkan kedua bidadariku, Ayah dan Ibu.. Ampunilah dosa-dosanya, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku sewaktu kecil..
Tak ada yang mampu kupersembahkan selain prestasi yang harus ku capai, membuatnya bangga adalah impian. Mampukanlah aku untuk menyelesaikan semua tugasku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar