Panggil aku si abu-abu.
Selalu merasa ketakutan akan si hitam yang datang, menenggelamkannya, menghanyutkannya, meniadakannya.
Begitulah aku. Semenjak dari dulu aku mempunyai sifat yang selalu merasa ketakutan berlebih akan kegagalan, penolakan, serta disepelekan oleh oranglain. Aku selalu mencari zona nyaman, yaitu dimana selalu menjadi pusat perhatian dan kemampuanku dapat di akui oleh semua orang.
Entah sejak kapan sifat ambisius merasuk dalam dirikku. Sejak aku berada di kelas 3 SMP muncul beribu-ribu pertanyaan dan mimpi yang bergelut dalam fikiranku. Mereka semua terus berperang, terkadang membuatku hanya terdiam tak bisa melakukan apa-apa karena terlalu banyak berencana.
Aku punya mimpi yang orang lain akan menggelengkan kepala jika mendengarnya, tentunya orang yang menggelengkan kepala tersebut mengetahui bagaimana keadaanku yang sebenarnya.
"Pak, aku nanti ingin sekolah di SMA Negeri ya, abis itu pengen lanjut kuliah di Bogor" kataku kepada bapak yang sedang duduk selesai mengerjakan shalat maghrib. Kami biasa berkumpul di ruang keluarga pasca menunaikan ibadah shalat maghrib. Sambil menyantap makanan snack yang selalu di buat ibu untuk teman ngobrol, kami selalu membicarakan hal-hal yang penting pada moment tersebut, termasuk rencana masa depanku.
Bagaimana orang lain tak heran padaku, bocah SMP sudah mengatakan kesana kemari rencana masa hidupnya sudah ke tingkat perguruan tinggi. Bagiku bukan lagi SMA, yang sudah harus ada dalam fikiranku adalah kuliah dan kerja. Teman-temanku sering meledeki dengan kata "ngolot". Tapi aku menikmatinya, karena dengan berfikir ngolot seperti itu justru aku menjadi punya semangat yang sangat tinggi untuk terus belajar dan berusaha.
Sebenarnya pemikiranku yang seperti ini bisa dikatakan turun dari sifat bapakku. Tepatnya memang bukan di turunkan secara genetis begitu saja, bapakku sering mengajarkan kepadaku bahwa hidup ini harus punya rencana minimal 10 tahun ke depan. Menurutnya, agar hidup menjadi terarah dan punya tujuan apa yang akan dilakukan. Hal tersebut memang benar, sejauh ini aku merasakan dampak yang luar biasa dari pelajaran tersebut. Namun dampak negatifnya juga mulai terasa. Dari teori tersebut muncullah gadis ambisius yang selalu harus mendapatkan apa yang menjadi target atau tujuannya.
Bapak tidak langsung menjawab pernyataan yang baru saja ku lontarkan, beliau mencari posisi enak untuk duduk sambil memakan pisang goreng yang baru saja ibu hidangkan di atas meja. "Yang penting rajin belajarnya teh" tiba-tiba ibu yang mengambil start duluan untuk menjawab pernyataan yang aku lontarkan untuk bapak. "Insyaallah teh, belajar yang rajin ya, mau kuliah di Bogor di mana emangnya? atau mau di UNPAK saja kayak tetangga kita teh Maya itu? Bapak harap sih teteh ngambil nya keguruan aja. Jadi guru itu enak kalo untuk perempuan, nantinya suami dan anak masih bisa ke urus, di lingkungan rumah pun selalu dapat tempat yang cukup di hormati" sambung bapak.
Semenjak awal orangtuaku memang mengharapkan aku untuk menjadi guru, dengan alasan bahwa menjadi guru itu masih bisa ngurus suami dan anak, pokoknya guru itu profesi paling cocok untuk calon seorang ibu. Padahal dalam fikiranku masih banyak cabang-cabang lain yang ingin aku gali informasinya, entah keguruan, ekonomi, pertanian, dan masih banyak lagi.
"Ayooo belajar yang rajin ya bentar lagi kan UN" ibu mengingatkan aku untuk segera pergi ke kamar dan mulai belajar untuk menyambut UN. Tapi rasanya malam itu aku hanya ingin mengobrol lebih banyak lagi dengan kedua orang tuaku. "Iya agak nantian ya bu" kataku singkat. Berbicara tentang UN, aku jadi ingat ke SMA mana aku akan melanjutkan. "Pak, aku mau lanjut ke SMA Cibadak ya?" kataku tegas. "Ya teh kemana saja, tapi apa nggak kejauhan?" "Enggak yah, nanti sama temen teteh banyakan" "Yasudah kalo gitu, yang penting sekarang fokus UN dulu" "Iya pak." Obrolan kami terhenti disana, karena bapak dan ibu sudah banyak mengisyaratkan bahwa aku harus segera masuk ke kamar dan mulai untuk belajar.
Jika aku berbicara keinginanku untuk masuk SMA Cibadak kepada teman-temanku atau oranglain yang mengetahui keadaanku, tentulah mereka akan menggelengkan kepala. "Kamu mampu?" kata mereka. Tentu kata mampu disini mengandung arti ganda, mampu = akan masuk seleksi SMA tersebut, karena SMA tersebut cukup dikatakan bagus dan mampu = biaya, karena masuk SMA tersebut cukup mahal dan lokasi yang jauh membutuhkan biaya yang lebih untuk ongkos.
Namun ketakutan mereka itu tepatnya penyepelean mereka itu tidak berlaku bagi orangtuaku. Orangtuaku juga optimis, jika aku mau pasti akan selalu ada jalan.
Perjuanganku untuk mencapai tujuan dengan sifat ambisius dimulai sejak saat itu. Awalnya dalam bayangkan hanya terlintas semua yang ku rencakan akan tercapai. Aku akan sukses. Semua telah terancang dengan sempurna bagai sistem dalam komputer yang tersusun rapih dan aku optimis semuanya akan berjalan sempurna.
Rencana pertama tentulah aku akan menjadi juara umum nilai UN tertinggi tingkat SMP ku. Tapi apakah rencana tersebut sesuai dengan apa yang di bayangkan? Akankah rencana tersebut sukses sesuai perkiraan?
Lalu setelah itu tujuan-tujuan apa lagi yang di rencanakan si abu-abu yang telah tersistem rapih di otaknya? akankah rencana tersebut juga banyak membuat orang menggelengkan kepala?
Wait....Next Story....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar