Rabu, 06 Januari 2016

Panggil Aku Si Abu-Abu Part II

Rasanya aku punya hutang untuk melanjutkan cerita yang sempat terhenti lama sekali.
Beberapa bulan kemarin aku terlalu disibukkan dengan drama yang sangat panjang. Dimulai urusan kuliah, urusan hati dan perasaan sejauh ini dinilai paling rumit. Tapi untungnya awal tahun ini semua permasalahan tersebut dapat teratasi dengan baik. Well... kita flashbask ke masa SMP dengan sejuta mimpi dan ambisi...

Jreng! Ambisi pertama untuk menjadi juara umum di SMP, pupus sudah. Pada hari itu aku masih ingat bagaimana menghabiskan hari pengumuman kelulusan dan malam yang suram dengan mengurung diri di kamar bersama air mata yang tumpah ruah dari cangkirnya. "Aku kalah, aku gak bisa jadi juara umum, aku dapat posisi kedua". Posisi kedua itu tak bisa aku terima begitu saja, rasanya seperti sudah menyusun benang menjadi jaket, namun jaket itu terobek begitu saja, tak bisa terpakai. Sudah sejak lama aku menyusun mimpi dengan teliti, namun dengan seketika daftar susunan yang telah rapih itu menjadi berantakan begitu saja.
aku cukup beruntung di kelilingi oleh keluarga lengkap yang luarbiasa. Mereka terus menyemangatiku, masih banyak hal yang harus aku hadapi. Ini baru langkah awal. Aku tak boleh menyerah. Itulah fungsinya keluarga, mereka selalu ada dan menerima kita dalam kondisi apapun -jadi, jangan lupakan keluarga saat kita berada di puncak, ya- Mamah, Bapa, Sepupu semua merangkul memberikanku pengertian dan menghiburku. Akhirnya, tak lama aku bisa menerima dan moving on dari sakitnya menjadi orang kedua (bukan dimadu, ya, hehe)
Awal perjalanan itu sudah memberikanku pelajaran yang sangat berharga, bahwa bermimpi boleh saja, berusaha segiat mungkin untuk mencapai impian itu, namun tetap saja yang memberikan hasilnya adalah Allah SWT. Kita berjuang, hasilnya kita harus ikhlas dan tawakal kepada Allah agar tidak menumbuhkan sifat kufur nikmat dalam hati.
Lulus dari SMP, aku tak terlalu berambisi untuk masuk SMA yang diidamkan dahulu, akhirnya aku masuk SMA yang dekat dengan rumahku dengan banyak pertimbangan dan hasil permikiran yang matang. Aku tak bisa memaksakan apa yang aku inginkan, mulai memperhitungkan dengan segala keadaan - apa ini perjalanan menuju dewasa ya?-
Kini perjalanan semasa SMA telah merubahku.... membuat warna dalam hari-hariku, si abu-abu ingin menoreh warna pada sayapnya, namun ada yang salah dari cara melukisnya..
Tetap saja pelajaran yang paling berharga dapat diambil dari setiap kesalahan yang pernah dilakukan.
Aku bersyukur, aku bisa cukup bijak dalam menyikapi segala yang telah terjadi dalam hidupku, meski itu kesalahan atau apapun yang menyebabkanku jatuh, darisana ada pelajaran yang dapat diambil hingga menjadikan sayapku benar-benar penuh dengan warna yang cemerlang.
Terkadang aku merindukan menjadi sosok diriku yang kutu buku dikala masa SMP, mengurung diriku dalam bait-bait ilmu namun tetap ada yang kurang pada masa itu, aku merasa ingin berada di padang yang luas dengan kebebasan menghirup udara segar..tanpa berfikir akan terjatuh atau berfikir bagaimana cara untuk terbang, hanya menikmati semilir angin yang menyapa kulitku dengan penuh kelembutan...
"FREEDOM"
Aku mulai memaknai kata ini, mulai mencari arti dari sebuah kata kebebasan. Tanpa beban yang harus ku tanggung, aku ingin menikmati kehidupan.
Semasa SMA aku habiskan waktuku untuk bermain, kelas X dan XI aku sibuk bermain dan waktu itu mulai mengenal kata pacaran. Aku tak ingat sudah berapa banyak teman laki-laki yang pernah dekat denganku. Namun, aku masih beruntung kala itu masih bisa terkontrol, selupa-lupa dirinya, ternyata prinsip masih melekat kuat dalam hatiku. Aku termasuk orang yang mempunyai prinsip untuk tidak merugikan diri dan masa depanku. Saat itu aku mulai menyukai lawan jenis dan merasakan bagaimana indahnya pacaran, namun niat dalam hatiku hanya untuk senang-senang saja, tidak sampai merusak tubuhku (seperti yang kebanyakan anak remaja zaman sekarang lakukan). Alhamdulillah aku masih dalam koridor baik di bawah pengawasan orangtua.
Masa SMA mereka mengatai ku dengan kata "Cewek jahat" ya, benar. Aku memang jahat. Menerima cinta laki-laki kemudian tak lama kemudian di putuskan. Sudah bosan, putus. begitu seterusnya. Karena aku berfikir ini memang tak ada manfaatnya, tapi di sisi lain aku butuh hiburan semacam itu. Sampai-sampai pelatih paskibra ku waktu itu pernah bertanya (pelatih paskibranya gaul, suka gosipan cerita-cerita kita) "Nia kamu gak pernah pacaran lama?" saya hanya menjawab "engga kang, kalo lama-lama takut ketergantungan, ini hanya hiburan, bukan prioritas" gimana gak di bilang cewek jahat ya? hehehe
Harus diakui, sekarang aku cukup menyesal pernah menyakiti mereka yang pernah dekat denganku. Bagaimana kalau mereka menyimpan dendam? Ah, semoga saja tidak. Itu kan hanya cinta monyet. hehe
Namun, di akhir kelas XII akhirnya aku sendiri yang kena batunya, bagaimana sedang merasakan indahnya mencintai seseorang, orang tersebut malah menyakiti habis-habisan. Mungkin ini pelajaran bagiku, agar aku harus berhenti.
Kelas XII aku fokus untuk Ujian Nasional. Semenjak saat itu, aku tak mengenal lagi kata pacaran. Aku harus kembali fokus untuk meraih impian. Sakit hati lewat pacaran terakhir kali cukup membukakan mataku, bahwa aku benar-benar harus kembali.
Dunia SMA ini begitu manis bersama teman-teman karena banyak sekali pengalaman yang  bisa didapatkan.
Tak disangka-sangka di hari kelulusan, ada pengumuman yang begitu mengejutkan dan membuatku takjub atas rencana Allah SWT. Aku menjadi juara umum ke-1 nilai UN tertinggi di SMA. Puji syukur aku panjatkan kepada Allah atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepadaku.
Aku merasa sangat bersyukur. Memang ternyata benar, jika kita berkhusnudzan kepada Allah, segala yang kita impikan dapat tercapai, mungkin tidak sekarang, tapi nanti bisa terjadi. karena apa yang menurut kita baik, belum tentu bagi Allah juga baik.
Mungkin saat itu Allah ingin aku belajar lebih banyak lagi. Belajar mengendalikan ambisi bahwa segala sesuatu perlu kerja keras, tapi tetap hasilnya harus diserahkan kembali kepada Allah.
Pelajaran berharga lain yang aku dapatkan sampai di titik terakhir pengumuman kelulusan SMA adalah bermimpi setinggi mungkin. Mimpi yang tak membuatmu lupa kepada sang Pemberi. Mimpi yang dapat menjadikanu hidup, bukan mimpi yang menjadi bebab bagimu.
Selama aku baru belajar berambisi, mimpi itu seakan beban yang aku tanggung sendiri. Setelah aku belajar dari kegagalan, mimpi itu adalah sesuatu yang menghidupkan, membakar semangat untuk menjadi lebih baik. Bukan beban.
Setidaknya warna abu-abuku dapat segores warna terang.... memberikan semangat, senyum, dan bahagia untuk segera terbang...
Tetap panggil aku si abu-abu yang terus mengarungi kehidupan, selau bingung dengan pilihan, dan pada akhirnya aku akan melukis warna di sayapku, semakin bersyukur akan kehidupan..
Nantikan season si abu-abu yang bertransformasi jadi gulali warna-warni :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar