Sabtu, 25 Oktober 2014

Nama Yang Ku Rajut Dalam Mimpi

Lama jariku tak menyentuh tombol-tombol huruf ini. Lama mataku tak menatap layar selama ini. Selama hatiku yang masih diam dibisukan rasa yang terkemas rapi, sampai sekarang tak pernah ada yang tahu. Disibukkan dengan rutinitas yang ku buat sendiri agar aku terlupa dengan perihnya menyimpan rasa sendiri.
Apa kabar hatimu? siapa yang mengisinya? aku tak pernah tahu jawaban dari pertanyaan ini. Sedari dulu semenjak kita saling memperkenalkan nama. Semenjak kita saling melemparkan perhatian dan kata-kata manis yang menghibur hati. Semenjak itu aku ingin menanyakan itu semua, namun ada satu batas dalam diriku yang mengurungkan semua niat itu.
Kamu selalu berhasil menyungging senyum di wajahku, gelak tawa bahagia yang menghiasi setiap hariku. Meskipun itu hanya lewat pesan singkat yang sengaja kamu kirimkan, namun hal sekecil itu mampu membuat warna dalam hidupku. Tahukah kamu? Segirang apa saat aku menerima pesan itu? sebahagia apa saat kamu selalu memberikan perhatian padaku? Serasa syurga apa saat kamu mengatakan suka padaku? Pada detik itu juga aku selalu ingin menjawab "iya, aku juga memiliki perasaan yang sama".. Namun, kita masing-masing sudah dewasa dan sudah tahu, untuk bisa bersama-sama bukan hanya karena saling melempar kata suka saja. Aku telah mempunyai prinsip yang harus ku pertanggungjawabkan, dalam kepercayaan kita bukankah dosa bersama dalam arti kata seperti anak SMA, seperti itu. 
Aku hanya bisa berharap, Tuhan benar-benar mempertemukan kita. Aku hanya bisa berharap do'a kita untuk bersama bisa terlaksana. Aku akan selalu berharap bahwa kita memang ditakdirkan untuk bersama.
Meski ketakutan akan hancurnya harapan selalu menghantui, namun itu terkubur dalam, seiring kepercayaan yang selalu kau berikan.
Meski kita berdua tahu bahwa masa depan hanya Tuhan yang menentukan, namun itu semua menjadi suatu keyakinan seiring dengan usaha yang kita lakukan.
Justru ketakutan terbesarku muncul karena Tuhan yang Maha Pembolak Balik hati manusia akan membolak balikkan hati kita untuk tak saling menghargai lagi.
Adanya pengabaian, adanya ketak-acuhan, adanya rasa sakit hati pada sebelah pihak, itulah ketakukan terbesar selama perjalanan ini.
Terkadang aku selalu berfikir, dapatkah Tuhan memutar waktu ini lebih cepat lagi, agar tugasku selesai dan agar aku bisa cepat bertemu dengan harapan yang ku rajut selama ini.
Inilah kelemahan sebagai manusia, aku belum bisa ikhlas dengan siapa ku labuhkan hati melainkan hanya untuk engkau yang namanya selalu ku rajut dalam mimpi.
Semoga semua ini tak sekedar menjadi skenario yang tak terlaksana..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar